TUGU AGRESI MILITER BELANDA DI PADANG PARAK

 

Tugu di Padang Parak. Foto: Feni Efendi


Di Padang Parak, Kelurahan Koto Baru, Nagari Payobasung, Kecamatan Payakumbuh Timur, berdiri sebuah tugu yang kini telah patah. Ia bukan sekadar monumen tanpa makna, melainkan saksi bisu dari sebuah episode kelam dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tugu yang patah ini menyimpan kisah tentang agresi militer Belanda II, sebuah tragedi yang menguji ketangguhan dan keberanian masyarakat Payakumbuh dalam mempertahankan kemerdekaan.

     Kisah ini bermula dari pertempuran sengit di Tanjung Anau. Mardisun, seorang pejuang tangguh dari Koto Nan Gadang, bersama prajuritnya, terlibat baku tembak dengan pasukan Belanda yang jauh lebih kuat. Terdesak oleh gempuran musuh, Mardisun dan pasukannya terpaksa mundur hingga ke tepian Batang Lampasi. Dalam pelarian yang penuh risiko, Mardisun memasuki aliran sungai, menyeberang ke Koto Baru, dan akhirnya ditemukan oleh penduduk dalam kondisi pingsan.

     Hilangnya jejak Mardisun membuat Belanda murka. Mereka melampiaskan kemarahan dengan menghujani Padang Parak dan sekitarnya dengan peluru selama dua jam. Wilayah yang seharusnya tenang dan damai itu berubah menjadi medan perang, di mana dentuman meriam dan desingan peluru menjadi melodi yang menakutkan. Masyarakat Koto Baru, dengan keberanian yang luar biasa, melindungi Mardisun dan menolak untuk menyerah pada tekanan Belanda. Mereka menyembunyikan sang pejuang, mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan seorang pahlawan.

     Tugu yang patah di Padang Parak ini adalah simbol dari kegigihan dan keberanian masyarakat Payakumbuh. Ia mengi-ngatkan kita pada semangat juang yang tak pernah padam, bahkan di tengah gempuran dahsyat. Patahan tugu itu bukan sekadar kerusakan fisik, melainkan metafora dari luka yang ditinggalkan oleh agresi militer Belanda. Namun, di balik patahan itu, terdapat kekuatan yang tak tergoyahkan, yaitu semangat persatuan dan tekad untuk mempertahankan kemerdekaan.

     Tugu ini juga menjadi pengingat akan pengorbanan Mardisun dan para pejuang lainnya. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa, yang berani menghadapi maut demi membela tanah air. Kisah mereka adalah inspirasi bagi generasi muda untuk terus menjaga semangat nasionalisme dan cinta tanah air. Kini, tugu yang patah itu berdiri sebagai monumen yang berbicara tentang masa lalu. Ia mengajak kita untuk merenungkan makna kemerdekaan, meng-hargai jasa para pahlawan, dan menjaga semangat persatuan. Tugu ini adalah warisan sejarah yang harus dijaga dan dilestarikan, agar kisah kegigihan dan keberanian masyarakat Payakumbuh tetap hidup dalam ingatan kolektif bangsa Indonesia.

     Mari kita jadikan tugu yang patah ini sebagai pengingat akan pentingnya menjaga perdamaian dan menghargai perbedaan. Mari kita lanjutkan perjuangan para pahlawan dengan membangun bangsa yang adil, makmur, dan berdaulat. Dengan demikian, tugu yang patah di Padang Parak akan menjadi simbol kemenangan atas ketidakadilan dan pengingat akan kekuatan sebuah komunitas dalam menghadapi masa sulit.

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url