JENIS-JENIS BENDI: Asal Usul, Model, Fungsi, dan Simbol Status Sosial
| Foto: berita.payakumbuhkota.go.id |
Pada masa Hindia Belanda, kuda bendi bukan sekadar alat transportasi, melainkan juga simbol status sosial dan budaya. Kereta kuda yang ditarik oleh kuda-kuda tangguh ini menjadi pemandangan lazim di jalan-jalan kota besar dan kecil, mencerminkan dinamika kehidupan masyarakat kolonial. Berbagai jenis kuda bendi berkembang, masing-masing dengan karakteristik dan kegunaannya sendiri, mencerminkan perbedaan kelas dan preferensi masyarakat.
Salah satu jenis kuda bendi yang paling populer adalah sado. Sado, dengan desainnya yang terbuka dan ringan, sering digunakan untuk perjalanan jarak pendek di dalam kota. Kuda-kuda yang menarik sado biasanya berukuran sedang, lincah, dan mudah dikendalikan. Sado menjadi pilihan favorit bagi kaum menengah dan pedagang yang membutuhkan mobilitas cepat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Selain sado, terdapat pula andong, kereta kuda yang lebih besar dan mewah. Andong sering digunakan untuk perjalanan jarak jauh antar kota atau untuk acara-acara khusus seperti pernikahan dan pesta. Kuda-kuda yang menarik andong biasanya berukuran lebih besar dan kuat, mampu menarik kereta dengan penumpang dan barang bawaan yang lebih banyak. Andong menjadi simbol kemewahan dan prestise, seringkali dimiliki oleh pejabat kolonial, bangsawan pribumi, dan pengusaha kaya.
Jenis kuda bendi lain yang cukup populer adalah dokar. Dokar memiliki desain yang lebih sederhana dan fungsional, sering digunakan untuk mengangkut barang atau penumpang di daerah pedesaan. Kuda-kuda yang menarik dokar biasanya berukuran sedang dan tangguh, mampu bekerja keras dalam kondisi jalan yang kurang baik. Dokar menjadi tulang punggung transportasi di daerah pedesaan, menghubungkan desa-desa terpencil dengan pusat-pusat perdagangan.
Selain ketiga jenis tersebut, terdapat pula variasi lain seperti breke, kereta kuda yang lebih tertutup dan nyaman, sering digunakan oleh keluarga Eropa untuk perjalanan santai. Ada juga kereta jenazah, yang digunakan untuk mengangkut jenazah dalam upacara pemakaman.
Keberagaman jenis kuda bendi pada masa Hindia Belanda mencerminkan stratifikasi sosial dan budaya yang kompleks. Kuda bendi bukan hanya alat transportasi, tetapi juga cermin dari gaya hidup, status sosial, dan preferensi estetika masyarakat kolonial. Seiring dengan perkembangan teknologi dan modernisasi, peran kuda bendi perlahan tergantikan oleh kendaraan bermotor. Namun, warisan budaya kuda bendi tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Indonesia, menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah transportasi dan budaya bangsa. Adapun beberapa jenis kuda bendi yang populer pada masa Hindia Belanda, antara lain:
A. Bendi Tarent
Bendi Tarent merupakan sebuah saksi bisu sejarah trans-portasi Payakumbuh, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut nadi kota ini sejak tahun 1854. Bendi yang ditarik oleh dua ekor kuda ini memiliki ciri khas yang membedakannya dari bendi lain yaitu ukurannya yang lebih besar dan penggunaan roda besi yang kokoh. Dan pada masa lalu, Bendi Tarent menjadi kendaraan istimewa yang digunakan oleh para pegawai Belanda dan kaum penghulu. Mereka memanfaatkan bendi ini sebagai sarana transportasi sehari-hari, baik untuk keperluan dinas mau-pun perjalanan pribadi. Bendi Tarent menjadi simbol status dan kekuasaan pada zamannya.
|
|
Sebagai bagian dari warisan budaya, Bendi Tarent perlu dilestarikan dan dijaga keberadaannya. Upaya pelestarian ini da-pat dilakukan melalui berbagai cara, seperti perawatan yang rutin, promosi wisata, dan edukasi kepada masyarakat tentang sejarah dan nilai penting Bendi Tarent. Dengan melestarikan Bendi Tarent, kita turut serta menjaga ingatan kolektif masya-rakat Payakumbuh, serta memberikan kontribusi dalam pengem-bangan pariwisata daerah. Bendi Tarent akan terus menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah dan budaya Payakumbuh, menjadi saksi bisu perjalanan panjang kota ini menuju masa depan yang lebih baik.
B. Bendi Sado
Tidak jauh berbeda dengan bendi tarent, bendi sado juga digunakan oleh kalangan atas masyarakat pada masa itu. Dan bendi sado pertama kali diperkenalkan oleh orang-orang Belanda yang tinggal di Indonesia. Mereka menggunakan kendaraan ini sebagai alat transportasi pribadi. Namun, seiring berjalannya waktu, masyarakat pribumi, terutama mereka yang berasal dari kalangan atas, mulai tertarik dengan bendi sado. Mereka me-mesan bendi sado dengan model sesuai dengan keinginan me-reka. Selain itu, bendi sado juga memiliki ciri khas yang mem-bedakannya dengan kendaraan tradisional lainnya. Bendi sado memiliki bentuk yang lebih besar dan mewah dibandingkan dengan bendi biasa. Bendi sado juga dilengkapi dengan aksesoris yang indah, seperti ukiran dan lukisan. Selain itu, bendi sado biasanya ditarik oleh dua ekor kuda yang kuat dan terlatih.
C. Bendi Bugih
Bendi ini tidak memiliki atap atau tenda dan dindingnya terbuka. Tempat duduknya berada di depan dan sering digu-nakan oleh masyarakat pada saat perayaan besar (baralek gadang). Dan di tengah hiruk pikuk modernitas, Kota Payakumbuh, masih menyimpan warisan budaya yang tak lekang oleh waktu, salah satunya adalah Bendi Bugih. Bendi ini bukanlah sekadar alat transportasi, melainkan juga simbol kekayaan budaya dan tradisi masyarakat Minangkabau.
Bendi Bugih memiliki sejarah panjang yang terkait erat de-ngan perkembangan kota ini. Dan Bendi Bugih pertama kali muncul pada akhir abad ke-19, dibawa oleh orang-orang Belanda yang kemudian diadaptasi oleh masyarakat setempat. Karena bendi ini tidak memiliki atap atau tenda, maka penumpangnya dapat menikmati pemandangan sekitar dengan leluasa. Din-dingnya pun terbuka, hanya terdiri dari beberapa palang kayu sebagai pengaman. Tempat duduknya terletak di bagian depan, biasanya cukup untuk dua orang penumpang. Bendi Bugih di-tarik oleh seekor kuda yang terlatih, dan kusirnya (pengemudi bendi) biasanya mengenakan pakaian tradisional Minangkabau.
Pada masa lalu, Bendi Bugih digunakan sebagai alat trans-portasi utama oleh masyarakat Payakumbuh, terutama oleh kaum bangsawan dan pedagang kaya. Bendi Bugih juga sering digunakan dalam acara-acara adat dan perayaan besar (baralek gadang). Saat ini, Bendi Bugih lebih banyak berfungsi sebagai kendaraan wisata yang menawarkan pengalaman unik dan me-narik bagi wisatawan yang berkunjung ke Payakumbuh. Dan Bendi Bugih bukan hanya sekadar alat transportasi, tetapi juga merupakan bagian penting dari identitas budaya masyarakat Payakumbuh. Bendi Bugih sering ditampilkan dalam berbagai acara budaya dan festival, serta menjadi objek fotografi yang me-narik bagi wisatawan. Keberadaan Bendi Bugih juga menjadi da-ya tarik tersendiri bagi Kota Payakumbuh, yang dikenal sebagai salah satu daerah tujuan wisata di Sumatera Barat.
Seiring dengan perkembangan zaman, Bendi Bugih mengha-dapi berbagai tantangan, seperti persaingan dengan alat trans-portasi modern dan kurangnya minat generasi muda untuk menjadi kusir bendi. Namun, pemerintah daerah dan masyarakat Payakumbuh terus berupaya untuk melestarikan warisan budaya ini yang tak ternilai harganya. Bendi ini tidak hanya memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi, tetapi juga menjadi simbol identitas dan kebanggaan masyarakat. Upaya pelestarian Bendi Bugih perlu terus dilakukan agar warisan budaya ini tidak punah dan tetap hidup di tengah-tengah masyarakat Payakumbuh.
D. Bendi Umum
|
|
Bendi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Payakumbuh sejak akhir abad ke-19. Awalnya, bendi digunakan sebagai mode transportasi dan hanya dimiliki oleh ka-langan tertentu seperti bangsawan dan pedagang kaya. Namun, seiring berjalannya waktu, bendi juga dipakai oleh masyarakat umum dan menjadi salah satu alat transportasi utama. Adapun bendi umum terbuat dari bahan kayu dan besi. Bendi bagian pe-numpang terdiri dari tempat duduk yang biasanya cukup untuk menampung 3-5 orang dewasa. Bendi ini ditarik oleh seekor kuda yang dikendalikan oleh seorang kusir.
Bendi umum tidak hanya berfungsi sebagai alat transportasi, tetapi juga memiliki nilai budaya dan sejarah yang tinggi bagi masyarakat Payakumbuh. Bendi menjadi bagian dari identitas kota dan sering digunakan dalam berbagai acara adat dan pera-yaan. Selain itu, bendi juga berperan penting dalam pereko-nomian masyarakat setempat. Profesi kusir bendi menjadi mata pencaharian bagi sebagian warga Payakumbuh. Keberadaan bendi juga menarik wisatawan yang ingin merasakan penga-laman unik menaiki bendi tradisional ini. Namun seiring dengan perkembangan zaman, bendi umum menghadapi berbagai tanta-ngan. Transportasi modern seperti mobil dan sepeda motor semakin populer dan mudah didapatkan sehingga minat masya-rakat terhadap bendi mulai menurun. Namun, upaya pelestarian bendi terus dilakukan oleh berbagai pihak, baik pemerintah daerah, komunitas budaya, maupun para kusir bendi itu sendiri. Dan memang, secara umum di Kota Payakumbuh, ada dua jenis kuda bendi yang masih tetap dipertahankan adalah bendi bugih dan bendi umum.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau