SUMUR MATA AIR TABIT
|
Sumur yang sudah tertimbun sebagai sejarah Nagari Air Tabit di Darek, Balai Jaring, Air Tabit. Foto: Dokumentasi Feni Efendi |
Sumur Mata Air Tabit, kini tersembunyi di bawah timbunan tanah sejak sekitar tahun 2019, menyimpan kisah yang kaya akan mitologi, sejarah, dan kekhawatiran masyarakat Nagari Air Tabit. Terletak di Darek, Kelurahan Balai Jariang, sumur ini bukan sekadar lubang di tanah, melainkan sebuah narasi yang hidup dalam ingatan kolektif masyarakat setempat.
Menurut cerita yang diwariskan turun-temurun, sumur ini dulunya merupakan sumber mata air yang kuat, yang oleh masyarakat setempat dipercaya memiliki potensi untuk menenggelamkan daerah tersebut. Kekhawatiran ini, yang mungkin terdengar irasional di era modern, mencerminkan pemahaman masyarakat tradisional tentang alam dan kekuatan yang dimilikinya. Mereka melihat alam bukan sebagai entitas yang pasif, melainkan sebagai kekuatan yang aktif dan berpotensi berbahaya.
Untuk meredakan kekhawatiran tersebut, nenek moyang masyarakat Air Tabit mengambil tindakan drastis: menutup mata air tersebut dengan batu besar. Tindakan ini bukan sekadar tindakan fisik, melainkan juga simbolik, sebuah upaya untuk mengendalikan kekuatan alam yang dianggap mengancam. Lebih dari itu, tindakan ini juga menunjukan betapa dekatnya masyarakat Minangkabau dengan alam sehingga mereka sangat berhati-hati dalam memperlakukan alam.
Kisah berlanjut dengan keyakinan bahwa penutupan mata air di Sumur Tabit menyebabkan munculnya mata air baru di Batang Tabit, Nagari Sungai Kamuyang. Tempat mata air baru ini, yang hingga kini dikenal sebagai Batang Tabit, menjadi bukti nyata dari cerita yang diwariskan. Perpindahan mata air ini, terlepas dari kebenaran ilmiahnya, memperkuat keyakinan masyarakat akan hubungan erat antara Sumur Tabit dan Batang Tabit.
Hilangnya Sumur Mata Air Tabit pada tahun 2019, akibat tertimbun tanah, mungkin menandai akhir dari era fisik keberadaannya. Namun, kisah dan mitos yang melingkupinya akan terus hidup dalam ingatan masyarakat. Sumur ini bukan sekadar situs sejarah, melainkan juga simbol dari kearifan lokal, hubungan manusia dengan alam, dan kekuatan mitos dalam membentuk identitas budaya.
Kisah Sumur Mata Air Tabit mengingatkan kita akan pentingnya menjaga dan melestarikan warisan budaya, baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud. Di era modern ini, di mana rasionalitas dan ilmu pengetahuan seringkali mendominasi, kisah-kisah seperti ini mengingatkan kita akan pentingnya menghargai kearifan lokal dan pemahaman tradisional tentang alam. Sumur Mata Air Tabit, meskipun kini tersembunyi, tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas dan sejarah masyarakat Nagari Air Tabit.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau