Keong/Siput Kuning

 


      Hama lainnya bagi petani adalah keong yang memakan padi yang baru ditanam. Awalnya keong ini muncul di tahun 1990-an. Dan mula-mula pertama kali ditemukan, banyak warga yang suka memakan keong ini. Lalu setelah itu muncul berbagai pendapat ulama bahwa keong tidak boleh dimakan karena keong ini bisa hidup di dua alam. Lalu akhirnya warga tidak mau lagi memakan keong ini apalagi setelah me-ngetahui bahwa keoang itu suka memakan apa saja, termasuk kotoran.

     Sekarang sudah ada racun untuk membasmi keong-keoang itu sehingga petani pun merasa lebih nyaman ke sawah. Karena sebelum ditemukannya racun keong, padi yang baru ditanam bisa saja habis dalam semalam oleh keoang-keong itu. Namun dengan adanya keong itu, petani merasa lebih dipermudah pekerjaannya dalam menyiangi sawah. Caranya ketika padi selesai ditanam maka sawah dikeringkan lalu ketika padi agak mulai besar dan mulai tumbuh rumput-rumput sawah seperti kelayau dan baih maka sawah pun digenangi air. Dengan terge-nangnya air, maka keong-keong yang dulu mengubur di dalam lumpur sawah yang telah mengeras maka akan segera ke permukaan untuk menyantap rumput-rumput sawah seperti kelayau dan rumput baih itu. Selain itu, keong-keong itu juga membawa berkah bagi pengembala dan peternak itu. Ketika sawah sudah dipanen maka pengembala itik akan melepas-kannya itiknya ke dalam sawah dan menyantap keong-keong itu. Begitu juga dengan peternak itik lainnya, mereka akan turun ke sawah lalu menambahkan keong itu sebagai pakan utama untuk itik itik atau bebek petelur.

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Mencatat Nama-Nama Hewan Lokal di Payakumbuh  

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url