Pianggang (Walang Sangit)
Di tengah hamparan sawah hijau yang membentang luas, atau di kebun-kebun sayur yang subur, tersembunyi ancaman kecil namun mematikan bagi para petani: pianggang atau wereng. Serangga berukuran mini ini, dengan kemampuan reproduksi yang cepat dan adaptasi yang tinggi, telah lama menjadi momok bagi sektor pertanian di Indonesia. Dampaknya tidak hanya terbatas pada tanaman padi, tetapi juga merambah ke berbagai komoditas penting lainnya seperti cabai, mentimun, dan sayuran.
Pianggang, khususnya wereng batang coklat (WBC) pada padi, menyerang dengan cara menghisap cairan floem dari tanaman. Serangan ini menyebabkan tanaman kekurangan nutrisi, layu, dan akhirnya mati. Pada padi, serangan WBC seringkali mengakibatkan gejala "hopperburn," di mana tanaman mengering dan tampak seperti terbakar. Akibatnya, bulir padi tidak terisi penuh, dan hasil panen menurun drastis. Tak hanya padi, pianggang juga menyerang tanaman sayur dan buah, me-nyebabkan kerusakan yang serupa, seperti layu, keriting daun, dan penurunan kualitas hasil panen.
Dampak ekonomi dari serangan pianggang sangat signifikan. Kerugian hasil panen yang dialami petani tidak hanya mengurangi pendapatan mereka, tetapi juga mengancam ketahanan pangan nasional. Ketika produksi padi menurun, misalnya, harga beras di pasaran dapat melonjak, membebani konsumen, terutama masyarakat berpenghasilan rendah. Selain itu, serangan pianggang juga dapat menyebabkan kerugian bagi industri pertanian secara keseluruhan, termasuk sektor pengolahan dan distribusi.
Dalam upaya mengatasi masalah pianggang, petani sering-kali mengandalkan penggunaan pestisida kimia. Meskipun pestisida dapat efektif dalam membunuh hama, penggunaan yang berlebihan dan tidak bijaksana dapat menimbulkan masalah baru. Residu pestisida dapat mencemari lingkungan, merusak ekosistem, dan membahayakan kesehatan manusia. Selain itu, penggunaan pestisida yang terus-menerus dapat menyebabkan resistensi pada populasi pianggang, sehingga pestisida menjadi kurang efektif dari waktu ke waktu.
Lebih lanjut, biaya pembelian pestisida menambah beban finansial petani. Hal ini menyebabkan penurunan pendapatan bersih yang diperoleh. Ditengah fluktuasi harga komoditas pertanian, tambahan biaya untuk pestisida dapat menjadi pukulan berat bagi petani kecil. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih holistik dan berkelanjutan dalam pengendalian pianggang. Penggunaan varietas tanaman yang tahan terhadap pianggang, penerapan praktik budidaya yang baik (seperti rotasi tanaman dan pengelolaan air yang tepat), serta pemanfaatan musuh alami pianggang (seperti laba-laba dan serangga predator lainnya) dapat menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan dan ekonomis.
Selain itu, penelitian dan pengembangan teknologi pengen-dalian hama yang inovatif juga sangat penting. Peng-gunaan biopestisida, yang berbahan dasar mikroorganisme atau bahan alami lainnya, dapat menjadi solusi yang lebih aman dan ber-kelanjutan. Teknologi pengendalian hama terpadu (PHT) yang menggabungkan berbagai metode pengendalian secara sinergis juga perlu terus dikembangkan dan disosialisasikan kepada petani.
Pemerintah dan lembaga terkait perlu memberikan dukungan kepada petani dalam bentuk pelatihan, penyuluhan, dan akses terhadap teknologi pengendalian hama yang efektif dan berkelanjutan. Dengan upaya bersama dari semua pihak, diharapkan ancaman pianggang dapat dikendalikan, sehingga petani dapat meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan mereka, serta ketahanan pangan nasional dapat terjamin.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Mencatat Nama-Nama Hewan Lokal di Payakumbuh