PESAWAT TERBANG DAN TORPEDO RAKITAN
![]() |
| Batang Sikali. Foto: pasbana.com |
Sebelum Belanda datang melancarkan agresi militer keduanya di Payakumbuh, anak bangsa pernah membuat pesawat terbang rakitan di Ranah, Tiakar. Sayang sekali nama prajurit yang merakit pesawat itu belum dapat saya temukan. Namun sebelum proyek itu selesai, Belanda telah masuk ke Payakumbuh dan proyek itu dihentikan.
Idris Dt. Malagiri Nan Pilihan yang lahir tahun 1933, penunjuk jalan untuk pasukan republik pada masa agresi militer kedua Belanda, menuturkan di Tiakar ada sebuah gudang senjata peninggalan Jepang terbesar di Sumatera dan lalu dihancurkan ketika Belanda masuk. Gudang itu terletak di Ranah Tiakar sekarang. Hal yang sama juga pernah ditulis oleh Hikmat Israr (2009) dalam buku Nan Taserak: Seputar Tambo dan Perjuangan Rakyat Limapuluh Kota. Adapun senjata yang dibuat ketika itu berupa 1200 handgranat, 12 pucuk senapan mesin kecil geki Jepang yang diperbaiki, 4 pucuk sena-pan mesin vicker Belanda yang diperbaiki, 400 grendel Jepang yang dibuat, dan berpuluh ribu peluru dari berbagai macam ukuran diisi kembali. Dan kawasan Ranah ini sebelum Jepang masuk merupakan lahan perkebunan orang Tiakar dalam menanam tembakau. Dan pada masa invasi Jepang, Jepang mengambil alih kawasan ini untuk areal militer dan merakit persenjataan. Ketika Jepang kalah dalam perang dunia kedua, Jepang menghancurkan persenjataan di sini di Padang Siantah dengan cara diledakan. Tetapi separuh dari persenjataan itu masih tertinggal di sini. Kawasan Ranah ini dijadikan komplek militer pada tahun 1957 yang pada mulanya dari cikal bakal Kesatuan Singa Harau.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau
