SERANGAN BATALYON MARAPI DAN SINGA HARAU KE POS BELANDA

  

Ilustrasi. Foto: CNN

     Sebagaimana yang tulis oleh Ahmad Husein dkk. di dalam buku Sejarah Perjuangan Kemerdekaan RI di Minangkabau/Riau 1945-1950 Volume II, bahwa pada masa agresi militer kedua Belanda lebih banyak dan me-ngutamakan penempatan pasukan di Payakumbuh karena Belanda yakin bahwa pejabat PDRI tidak pernah jauh dari Limapuluh Kota.

     Belanda mulanya mendirikan markas di bekas lokasi pasar ternak di Padang Tangah Koto Nan Empat (lokasi SMA Negeri 4 Payakumbuh sekarang). Dan ketika masyarakat Nagari Tiakar Payobasung telah ba-nyak yang menyingkir ke Taram, Andalas, Batu Payung, dan Sitanang maka Belanda pun melebarkan sayapnya dengan mendirikan pos pertahanan di Tiakar dengan menduduki rumah kosong yang telah ditinggalkan pemiliknya. Rumah itu milik Baharudin Datuk Bagindo atau yang dikenal dengan BDB atau Datuk Gagok. Dan Datuk Gagok juga termasuk salah satu tokoh yang lolos dari gem-puran Belanda pada Peristiwa Situjuh 15 Januari 1949 yang telah membawa 69 pejuang gugur membela tanah air (Merita, 2018).

     Penyerangan pos Belanda di Tiakar telah direncanakan oleh Batalyon Merapi—yang bermarkas di Air Randah Nagari Bukit Sikumpa Kecamatan Lareh Sago Halaban—dari arah Air Tabit dan Batalyon Singa Harau mengempur pos Belanda dari arah Payobasung atau Taram dipimpin oleh Kapten Azhari (Ahmad Husein, et. al., 1991).

     Menurut Idris Datuk Malagiri Nan Pilihan ketika itu yang menjadi penunjuk jalan bagi Tentara Merapi dan Singa Harau, Belanda tidak bisa berbuat banyak ketika dikepung oleh pasukan Republik dan Belanda pun kalah telak dengan perlawanan yang tidak berarti. Dan juga menurut beliau, rumah-rumah di Nagari Tiakar saat itu banyak berupa rumah gonjong akhirnya dibakar agar tidak bisa diduduki oleh Belanda. Itulah sebabnya saat ini sangat jarang ada rumah gadang di tepi jalan raya di Tiakar karena telah dibakar ketika masa agresi militer kedua Belanda.

     Saat itu Batalyon Merapi dipimpin oleh Letnan Munir A. dan Kompi Singa Harau dipimpin oleh Letnan Muda Nazar dan Opsir Muda Azwar. Dan komandan penyerangan dipimpin oleh Letnan I Komarudin Dt. Makhudun. Dan dari penyerangan tersebut Belanda mendatangkan bantuan dari pusat Payakumbuh namun tentara republik menyeberangi Batang Sikali dan melanjutkan pertahanan di sana (Ahmad Husein, et. al., 1991).


Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau

 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url