PONPES IBRAHIM HARUN TIAKAR
|
Ponpes MTs Ibrahim Harun. Foto: Feni Efendi |
Lembaga pendidikan adalah jantung peradaban, dan Madrasah Islamiyah yang didirikan oleh Syekh Ibrahim Harun pada tahun 1928 (atau 1929, sesuai dengan catatan resmi) di Nagari Tiakar, adalah bukti nyata dari peran pentingnya dalam membentuk masyarakat. Di tengah hiruk pikuk zaman kolonial, Syekh Ibrahim Harun menancapkan tonggak sejarah dengan mendirikan sebuah madrasah yang kelak menjadi pusat ilmu pengetahuan dan keagamaan yang disegani.
Madrasah Islamiyah pada masanya adalah magnet bagi para pencari ilmu. Dengan jumlah santri yang mencapai 700-800 orang, bukan hanya dari Sumatera Barat, tetapi juga dari negeri jiran Malaysia, madrasah ini membuktikan kualitas pendidikannya. Sistem halaqah yang diterapkan, dengan masjid dan surau sebagai ruang belajar, menciptakan suasana keilmuan yang kental dan akrab. Para buya yang mengajar, seperti H. Abdul Madjid, Johari, Engku Mudo Kasimin, dan lainnya, adalah figur-figur yang mumpuni di bidangnya, menjadikan Madrasah Islamiyah sebagai kawah candradimuka bagi para ulama dan intelektual muslim.
Perjalanan Madrasah Islamiyah tidak selalu mulus. Masa penjajahan Jepang dan masa-masa awal kemerdekaan menjadi tantangan tersendiri. Namun, semangat para pendidik dan santri tidak pernah padam. Setelah wafatnya Syekh Ibrahim Harun pada tahun 1967, kepemimpinan madrasah dilanjutkan oleh D. Dt. Bagindo Said. Upaya untuk mengubah status madrasah menjadi negeri membuahkan hasil pada tahun 1970, ketika Madrasah Islamiyah resmi menjadi Madrasah Aliyah Agama Islam Negeri (MAAIN) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) di bawah kepemimpinan H. Nukman Basyir dan D. Dt. Bagindo Said.
Namun, pasang surut selalu mewarnai sejarah sebuah institusi. Pada masa kepemimpinan Hermis, MTs SIH mengalami penurunan drastis. Bahkan, pada tahun 1998, kegiatan belajar mengajar sempat terhenti. Semangat untuk menghidupkan kembali madrasah ini muncul dari Yusri Ibrahim Dt. Patiah Nan Mudo, putra almarhum Syekh Ibrahim Harun, yang menginisiasi musyawarah dengan KAN dan tokoh masyarakat. Hasilnya, Dasrul Fauzi ditunjuk sebagai kepala MTsS SIH untuk melanjutkan perjuangan.
Kebangkitan MTsS Syekh Ibrahim Harun diresmikan kembali pada tahun 2000 oleh Walikota Payakumbuh, dan pada tahun 2001, piagam pendirian resmi dikeluarkan. Pondok Pesantren yang dipimpin H. Zunijar Ibrahim juga didirikan sebagai bagian dari kompleks pendidikan ini. Meskipun telah mengalami berbagai perubahan dan tantangan, Madrasah Islamiyah Syekh Ibrahim Harun tetap menjadi bagian penting dari sejarah pendidikan di Sumatera Barat. Warisan Syekh Ibrahim Harun, seorang ulama yang visioner, terus hidup dan menginspirasi generasi penerus. Tantangan yang dihadapi saat ini, seperti ketiadaan kiai atau guru yang mengajarkan kitab standar, menjadi peluang untuk terus berbenah dan meningkatkan kualitas pendidikan. Dengan semangat gotong royong dan komitmen untuk melestarikan nilai-nilai luhur, Madrasah Islamiyah Syekh Ibrahim Harun akan terus berkontribusi dalam mencetak generasi yang berilmu, beriman, dan berakhlak mulia.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau