SIMPANG KASDA DAN SIMPANG HASDAR

 

1.   Simpang Hasdar. Foto: Jaya Ponsel

     Di Simpang Hasdar di sini dulunya ada sebuah hotel berdiri. Nama hotel itu adalah Hotel Hasdar. Dibangun sejak zaman kolonial Peme-rintah Hindia Belanda. Sedangkan Hasdar adalah singkatan Haji Sa-adudin dan Darusamin, seorang pengusaha tenun Kubang. Beliaulah yang membawa alat tenun dari Tasikmalaya pada tahun 1930-an ke Kubang dan setelah itu di buka pula tempat tenun di Simpang Hasdar. Dan itulah cikal bakal Tenun Kubang. Bangunan yang lama sudah run-tuh pada saat gempa 2007 yang lalu. Bangunan yang ada sekarang meru-pakan bangunan baru. Adapun Simpang Kasda arah ke Lundang. Ba-ngunan didirikan tahun 1960-an dan sekarang Toko Kasda dikelola oleh generasi kedua, kata Nusyrwan Kamil. Ketika Jepang masuk ke Paya-kumbuh tahun 1942, Soekarno pernah menginap di Hotel Hasdar ini bersama istrinya Inggit sebelum melanjutkan perjalanan ke Padang Japang menemui Syekh Abas Abdullah dan Syekh Mustafa Abdullah.

     Tujuan Soekarno menemui kedua ulama pendiri Perguruan Darul Funum Abasiyah itu adalah untuk meminta nasihat atau pendapat tentang bagaimana konsep atau dasar negara ini di suatu hari nanti. Maka Syekh Abas Abdullah memberikan nasihat bahwa salah satu da-sar negara ini harus berlandaskan ketuhanan. Dan hal itu telah tertuang di dalam Pancasila butir pertama sampai saat sekarang ini. Agar Soe-karno tidak lupa, maka Syekh Abas pun memberikan sebuah peci untuk itu. Sampai sekarang peci itu masih disebut peci BK (Bung Karno).

     Selain Soekarno, di Hotel Hasdar ini juga pernah menginap rombo-ngan yang diutus oleh Moh. Hatta untuk mencari pejabat-pejabat PDRI yang dipimpin oleh Mr. Syafruddin Prawiranegara. Dan rombongan utusan Hatta itu pun terdiri dari Moh. Natsir, Dr. Leimena, dll. Lokasi Hotel Hasdar itu di Toko Jaya Ponsel sekarang ini. Dan Amirul Wear juga menerangkan bahwa di Simpang Hasdar itulah para saudagar dari Mu-diak seperti Pak Uwo Sai berjualan barang hasil hutan dan Nazaruddin (Nazar Bodex), bapaknya Nasir Chas berniaga, katanya. Adapun Damar-das Nurman menambahkan informasi bahwa kopiah BK itu adalah buat-an Rus Tani, termasuk juga kupiah Bung Hatta buatan baliau, modelnya agak tinggi, selain buatan A. Sjarbaini, katanya. Adapun Rahmad Afdil-lah mengatakan bahwa Kasda merupakan singakatan nama dari Kara-mah, Sawiyah, dan Darawih yaitu 3 bersaudara pemiliknya, kata Rahmad menambahkan.

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url