ORANG DALAM GANGGUAN JIWA (ODGJ)
1.
|
Usaha Pemko Payakumbuh membantu salah seorang ODGJ penumpuk sampah. Foto: topsumbar.co.id |
Pada masa itu, orang-orang gila bergelandangan di pasar. Orang-orang mengira karena kepedihan hidup pasca perang yang membuat-nya gila, namun bukan itu. Orang-orang gila itu ada yang dari keluarga terhormat dan banyak hartanya. Namun karena mulutnya yang tajam maka orang yang tersakiti itu mendatangi seorang dukun agar rusak ji-wa si orang kaya yang bermulut tajam itu. Kalau sudah gila, tentu ia akan bergelandangan di pasar.
Ada juga kasusnya gila karena mempersunting wanita. Ia menjadi gila setelah disihir oleh saingannya dan ketika ia sudah gila maka saing-annya itu bisa leluasa menyunting wanita pujaannya itu. Kalau sudah gila maka bergelandanganlah pulalah ia di pasar dan hidup tak terurus. Ada juga nanti yang dijemput oleh kemenakannya dan dipelihara di rumah. Termasuk memelihara harta-harta mamaknya yang sudah gila itu. Tentu maksud memelihara itu yaitu menghabiskan harta mamak-nya. Selain itu, ada juga yang gila karena terlalu bersemangat belajar agama. Ke mana-mana ia membawa kitab tebal. Dan di tengah keadaan pasar yang ramai itu maka ia membahas tentang tayamum. Padahal jika air Batang Agam yang tak jauh dari pasar itu digunakan orang satu kampung untuk berwudhu belum bakalan habis digunakan dalam waktu bertahun-tahun.
Begitulah orang-orang gila di Pasar Payakumbuh zaman dulu. Na-mun di zaman sekarang, orang-orang yang dalam gangguan jiwa itu te-tap masih ada. Ia seperti bagian dari perjalanan pasar itu sendiri. Suatu pagi ketika saya menjahit sandal ke tukang jahit di pasar Payakum-buh ada seorang gila yang lewat. Bapak penjahit itu mengatakan jika ia gila karena istrinya lari bersama laki-laki lain. Memori warga kota tentang para ODGJ di kota ini masih teringat jelas. Rima Dessi masih mengingat bahwa dulu ada ODGJ yang sangat terkenal pandai melukis. Namanya Amir. Lukisannya bagus dan ia sering melukis di samping Bofet Sianok sekitar tahun 1973. Dia bisa berbahasa Inggris dan beberapa bahasa a-sing lainnya. Ia bekas tentara pejuang kemerdekaan. Dan hal yang sama juga masih diingat pula oleh Ucok Asano yaitu Pak Amir itu sering me-lukis gambar orang. Bapak itu kalau sudah duduk maka selalu ia melu-kis memakai pensil di kertas buku, katanya.
Sedangkan Buddi Abe juga masih mengingat Pak Amir itu kalau tidurnya dulu di sebelah rumahnya yaitu di belakang Kedai Kopi Ko-beng sekarang di sebelah Bioskop Rex. Beliau meninggal di akhir tahun 1980-an. Pak Amir ini tidak pernah mengganggu orang. Ada juga orang gila di jaman itu yang tinggal di Labuah Baru, kalau habis obatnya ma-ka ia pun manggaduh. Begitu pula dengan Yunelfi Sisuthan masih me-ngingat Curu yang merupakan salah satu ODGJ yang multi talenta. Bu-jang Galembong yaitu orang bagak berlading yang terus membawa la-ding dan sabit ke mana pergi, kata Yunelfi menjelaskan.
Ada pula yang gila karena cita-cita tidak sampai dan ada pula ODGJ yang dipasung karena tertangkap menjadi tenaga kerja gelap di Malay-sia. Kabarnya ia gila karena disuntik di Malaysia dan habis itu dibuang pulang. Sedangkan Ajo Zidane mengatakan ada pula yang gila karena gara-gara Porkas (Pekan Olah Raga dan Ketangkasan) di zaman Orde Baru yaitu sejenis judi legal oleh pemerintah sebelum diganti dengan SDSB (Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah) yaitu istilah kerennya judi buntut, kata Ajo Zidane. Yunelfi Sisuthan menerangkan tentang porkas itu semasa zaman Presiden Soeharto. Setelah itu diganti dengan SDSB. Nomornya keluar jam sebelas malam di RRI Jakarta. Toke ga-dangnya di Payakumbuh semasa itu bernama Cain keturunan Tionghoa yang tinggal di Spingai, Tiakar. Orang menjual nomor itu di Sarinah Foto dekat Batang Agam.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau