SUMUR LUHAK LIMA PULUH

 

Sumur Luhak Lima Puluh di Tanjung Puhun. Foto: Feni Efendi

Sumur Luhak Lima Puluh, yang terletak di Tanjung Puhun, Kampung Dalam, Payobadar, Nagari Air Tabit, bukan sekadar sumber air biasa. Di balik kesederhanaan fisiknya, sumur ini menyimpan memori kolektif yang kuat, sebuah narasi tentang pertemuan dan kesepakatan yang membentuk identitas Luhak Lima Puluh. Menurut tuturan Dt. Marajo Indo Nan Mamangun, Raja di Luak, sumur ini dipercaya sebagai tempat bertemunya para pimpinan rombongan 50 dari Pariangan Padang Panjang, nenek moyang masyarakat Luhak Lima Puluh.

     Pertemuan di sekitar sumur ini bukan pertemuan biasa. Ini adalah pertemuan para pemimpin yang merumuskan dasar-dasar kehidupan bermasyarakat di wilayah ini. Mereka bermusyawarah, berdiskusi, dan mencari kesepakatan untuk membangun tatanan sosial yang harmonis dan berkelanjutan. Sumur Luhak Lima Puluh menjadi saksi bisu dari proses musyawarah tersebut, menjadi pusat gravitasi dari ide dan gagasan yang dilahirkan.

     Setelah mencapai kesepakatan, para pimpinan rombongan 50 meminum air dari sumur tersebut. Tindakan ini bukan sekadar pelepas dahaga, melainkan sebuah simbolisasi yang mendalam. Meminum air dari sumur yang sama menandakan persetujuan bersama, kesatuan tekad, dan komitmen untuk saling semalu dan sepenanggungan. Mereka berikrar untuk hidup dalam solidaritas, saling menjaga, dan menghadapi tantangan bersama-sama.

     Memori kolektif tentang Sumur Luhak Lima Puluh bukan sekadar cerita masa lalu. Ini adalah bagian integral dari identitas masyarakat Luhak Lima Puluh. Narasi ini diwariskan dari generasi ke generasi, mengingatkan mereka tentang nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi oleh nenek moyang mereka. Nilai-nilai seperti musyawarah, mufakat, solidaritas, dan kebersamaan menjadi landasan bagi kehidupan bermasyarakat di Luhak Lima Puluh.

     Keberadaan Sumur Luhak Lima Puluh juga mengingatkan kita akan pentingnya ruang publik dalam kehidupan bermasyarakat. Sumur ini menjadi ruang pertemuan, ruang dialog, dan ruang kesepakatan. Di era modern ini, di mana ruang publik semakin tergerus oleh individualisme dan teknologi, kisah Sumur Luhak Lima Puluh menjadi pengingat bahwa interaksi sosial dan dialog tatap muka tetaplah penting untuk membangun masyarakat yang harmonis.

     Sumur Luhak Lima Puluh adalah simbol dari akar budaya yang kuat, jejak sejarah yang berharga, dan pengingat akan nilai-nilai luhur yang harus terus dijaga dan dilestarikan. Melalui narasi tentang sumur ini, masyarakat Luhak Lima Puluh terus merawat identitas mereka, memperkuat solidaritas, dan membangun masa depan yang lebih baik. Sumur ini, dengan airnya yang menyegarkan, terus mengalirkan semangat kebersamaan dan kesepakatan, menjadi sumber inspirasi bagi generasi sekarang dan mendatang.

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url