LUKISAN BELANDA TERTINGGAL DI RUMAH OESKA PADA MASA AGRESI MILITER KEDUA
|
Lukisan Belanda Tertinggal Di Rumah Oeska Pada Masa Agresi Militer Kedua. Foto: Feni Efendi |
Agresi Militer II Belanda, sebuah periode kelam dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, meninggalkan luka mendalam di berbagai daerah, termasuk Nagari Payobasung, Payakumbuh. Pada masa itu, rumah-rumah penduduk menjadi sasaran pendudukan, dan jejak-jejak kehadiran kolonialisme tertinggal dalam berbagai bentuk, salah satunya adalah dua lukisan misterius yang ditinggalkan oleh seorang tentara Belanda. Lukisan-lukisan ini, meski tanpa nama pelukis yang jelas, menjadi saksi bisu dari pergolakan zaman, dan secara tak langsung, terhubung dengan kisah perjuangan seorang putra daerah, Oesman Keadilan (OESKA).
Rumah yang ditempati oleh tentara Belanda tersebut dulunya milik sebuah keluarga yang terpaksa mengungsi demi keselamatan. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian dan ketakutan, tentara Belanda itu mungkin mencari pelarian dalam seni, meninggalkan dua lukisan sebagai jejak keberadaannya. Lukisan-lukisan tersebut, meski detailnya tak diketahui, tentu mencerminkan pandangan dan pengalaman seorang tentara kolonial di tengah konflik. Apakah itu pemandangan alam Sumatera yang eksotis, potret penduduk lokal, atau gambaran suasana perang, lukisan-lukisan itu menyimpan narasi tersendiri tentang masa lalu yang penuh gejolak.
Di balik bayang-bayang lukisan-lukisan itu, tersembunyi kisah Oesman Keadilan, seorang tokoh pergerakan kemerdekaan yang memiliki ikatan kuat dengan Payobasung. Lahir pada tahun 1901 dengan nama Abdul Rauf, Oeska adalah sosok yang gigih dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Perjalanannya yang penuh liku-liku membawanya ke Boven Digul, tempat pembuangan politik yang terkenal kejam. Di sana, ia bertemu dengan tokoh-tokoh penting seperti Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir, yang memperkuat semangat perjuangannya.
Kisah pelarian Oeska dari Boven Digul, dengan segala risiko dan kesulitan, adalah cerminan dari tekadnya yang tak tergoyahkan. Ia berhasil kembali ke tanah air, melanjutkan perjuangan politiknya, dan kemudian dipercaya mengemban amanah sebagai bupati di salah satu kabupaten di Sumatera Barat setelah Indonesia merdeka. Perjalanan hidup Oeska adalah bukti nyata dari semangat perlawanan terhadap penjajahan, sebuah semangat yang juga tercermin dalam perjuangan rakyat Payobasung menghadapi Agresi Militer II.
Dua lukisan yang ditinggalkan oleh tentara Belanda di Payobasung, meski tampak sederhana, menjadi simbol dari kehadiran kolonialisme yang pernah mencengkeram Indonesia. Lukisan-lukisan itu mengingatkan kita pada masa-masa sulit, tetapi juga pada semangat perlawanan yang tak pernah padam. Kisah Oeska, dengan segala perjuangan dan pengorbanannya, adalah bagian tak terpisahkan dari narasi tersebut. Ia adalah salah satu putra terbaik bangsa yang telah memberikan kontribusi besar dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia.
Melalui lukisan-lukisan itu, dan kisah Oeska, kita dapat merenungkan kembali sejarah bangsa, memahami kompleksitas masa lalu, dan menghargai perjuangan para pahlawan yang telah berkorban demi kemerdekaan. Jejak-jejak sejarah ini, meski terkadang tersembunyi dan terlupakan, adalah bagian penting dari identitas kita sebagai bangsa Indonesia.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau