Yamashita Butai di Tiakar Payakumbuh
|
Gerbang Bataliyon Yonif 131 Braja Sakti di Tiakar. Foto: Feni Efendi |
Pada zaman Jepang, lokasi Yonif 131 Braja Sakti di Tiakar ini ber-nama Yamashita Butai. Di sini pasukan Jepang banyak sekali di tempatkan. Begitu juga dengan senjata. Bahkan di sinilah gudang atau bengkel senjata Jepang terbesar di Sumatera.
Yamashita Butai ini pernah akan diserang oleh prajuit-prajurit bekas Gyu Gun pada awal Oktober 1945. Maka berundinglah Dahlan Djam-bek, Sjarif Usman, Anwar Sutan Saidi, dan Baharudin Datuk Bagindo (Datuk Gagok). Dan setelah itu diberangkatkanlah prajurit itu ke Paya-kumbuh jam 11 malam. Dan regu pengintai pun terdiri dari Dahlan Djambek, Abdul Halim, Abdullah (ketiga ini Gyu Gun Padang dan se-orang lagi Baharudin Datuk Bagindo (pengusaha Bukittinggi).
Ketika dalam masa pengintaian itu, ternyata mereka dipergoki oleh prajurit Jepang sehingga gagallah rencana penyerangan itu dan gerakan ini dipimpin oleh Sjarif Usman.
Sebelum agresi militer kedua Belanda, kawasan Ranah (Yonif 131 Braja Sakti) ini merupakan pabrik senjata peninggalan Jepang. Adapun senjata yang dibuat ketika itu berupa 1200 handgranat, 12 pucuk senapan mesin kecil geki Jepang yang diperbaiki, 4 pucuk senapan mesin vicker Belanda yang diperbaiki, 400 grendel Jepang yang dibuat, dan berpuluh ribu peluru dari berbagai macam ukuran diisi kembali.
Kawasan Ranah ini sebelum Jepang masuk merupakan lahan perkebunan orang Tiakar dalam menanam tembakau. Pada masa itu kwalitas tembakau terbaik juga berasal dari sini. Dan pada masa invasi Jepang, Jepang mengambil alih kawasan ini untuk areal militer dan merakit persenjataan. Ketika Jepang kalah dalam perang dunia kedua, Jepang menghancurkan persenjataan di sini di Padang Siantah dengan cara diledakan. Tetapi separuh dari persenjataan itu masih tertinggal di sini.
Pada masa kemerdekaan, kawasan Ranah terus dikembangkan oleh anak bangsa untuk merakit persenjataan. Bahkan di sini pun juga dikembangkan perakitan pesawat dan torpedo. Pesawat itu sempat diuji coba di lapangan gelanggang pacu kuda dan torpedo diuji coba di Batang Sikali, namun sayang sekali Belanda kembali melakukan agresi militer yang kedua, dan semua itu terpaksa harus dihancurkan sebelum digunakan oleh Belanda. Kawasan Ranah ini dijadikan komplek militer pada tahun 1957.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau