EKS. LOKASI POS BELANDA DI HALAMAN RUMAH DATUK GAGOK
|
Di halaman rumput ini dulu pernah ada pos pertahanan Belanda. Foto: Feni Efendi |
Di Tiakar berdiri sebuah rumah yang tampak biasa saja. Namun, lokasi halaman rumah ini, tersembunyi kisah heroik yang terukir pada masa Agresi Militer II. Dahulu, ada sebuah rumah yang bukan sekadar tempat tinggal, melainkan pos pertahanan yang didirikan oleh tentara Belanda. Di sanalah, di tengah gejolak perjuangan mempertahankan kemerdekaan, terjadi pertempuran sengit yang melibatkan prajurit-prajurit pemberani dari Batalyon Singa Harau dan Batalyon Marapi.
Rumah itu, kini telah dirobohkan dan dibangun kembali, menyisakan kenangan yang tak lekang oleh waktu. Pada masa agresi militer, rumah itu menjadi sasaran utama serangan mendadak dari para pejuang. Para pejuang dari Batalyon Singa Harau dan Batalyon Marapi dengan gagah berani mengepung rumah tersebut, membuat tentara Belanda yang menduduki pos itu kewalahan. Serangan mendadak itu, yang dilancarkan dengan semangat juang yang tinggi, menjadi bukti nyata keberanian dan kegigihan rakyat Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan.
Kisah rumah ini tak terlepas dari sosok Datuk Gagok, atau Baharudin Datuk Bagindo, seorang pejuang yang gigih dan penuh dedikasi. Namanya tercatat dalam sejarah perjuangan kemerdekaan, terutama dalam peristiwa 15 Januari di Situjuh. Datuk Gagok adalah salah satu dari sedikit pejuang yang berhasil lolos dari peristiwa tragis tersebut, dan terus berjuang melawan penjajah. Semangatnya yang tak pernah padam menjadi inspirasi bagi generasi penerus.
Rumah yang pernah menjadi pos pertahanan Belanda ini, meskipun telah berubah wujud, tetap menjadi saksi bisu dari keberanian para pejuang. Setiap sudutnya menyimpan cerita tentang pertempuran, pengorbanan, dan semangat juang yang tak pernah pudar. Keberadaan rumah ini mengingatkan kita akan pentingnya menjaga dan menghargai sejarah, serta mengenang jasa para pahlawan yang telah berjuang demi kemerdekaan Indonesia.
Kisah Datuk Gagok dan pertempuran di rumah pos pertahanan Belanda ini adalah bagian dari mozaik perjuangan bangsa. Mereka adalah simbol keberanian dan ketangguhan rakyat Indonesia dalam menghadapi penjajah. Dengan mengenang kisah mereka, kita tidak hanya menghormati masa lalu, tetapi juga memperkuat semangat nasionalisme dan cinta tanah air. Rumah itu, kini berdiri kokoh dengan wajah baru, namun tetap menyimpan jejak-jejak sejarah yang akan terus dikenang dan diceritakan dari generasi ke generasi.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau