Ahda Imran

 

Ahda Imran lahir pada 10 Agustus 1966 di Baruah Gunuang, Kabupaten Lima Puluh Kota adalah sosok yang tak lekang oleh waktu dalam kancah sastra Indonesia. Ia tumbuh dan berkembang di Cimahi, Jawa Barat, di mana ia menorehkan jejaknya sebagai penyair, esais, dan dramawan yang produktif. Karya-karyanya yang kaya akan makna dan estetika telah menghiasi berbagai media massa, termasuk harian Kompas, serta antologi-antologi sastra yang bergengsi.

Sebagai penyair, Ahda Imran dikenal dengan gaya puisinya yang puitis, filosofis, dan sarat akan refleksi kehidupan. Kumpulan puisinya, seperti "Dunia Perkawinan" (1999), "Penunggang Kuda Negeri Malam" (2008), "Rusa Berbulu Merah" (2014), dan "Ludah Orang Suci" (2021), menjadi bukti keahliannya dalam merangkai kata-kata menjadi sebuah simfoni yang indah dan bermakna. Puisi-puisinya yang dimuat di harian Kompas, seperti "Sajak Tan Malaka Kepada Harry A Poeze" (2012) dan "Hujan Yang Berwarna Hitam" (2013), juga menunjukkan kepiawaiannya dalam merespons isu-isu sosial dan politik dengan bahasa yang lugas namun tetap puitis.

Selain puisi, Ahda Imran juga aktif menulis esai dan kritik sastra. Tulisannya yang tajam dan mendalam seringkali mengupas berbagai aspek kehidupan, mulai dari seni, budaya, hingga politik. Esai-esainya yang terkumpul dalam buku "Di Atas Viaduct" (2009) dan "5 Dasa Warsa Irawati Menari" (2011) menunjukkan keluasan pengetahuannya dan kemampuannya dalam menganalisis fenomena sosial dengan kritis.

Kiprah Ahda Imran tidak hanya terbatas pada puisi dan esai. Ia juga seorang dramawan yang handal. Naskah-naskah dramanya, seperti "Monolog Inggit Garnasih" (2013) dan "Monolog 3 Perempuan" (2014), telah dipentaskan di berbagai panggung teater dan mendapat apresiasi yang tinggi. Naskah dramanya yang berjudul "Tan Malaka: Saya Rusa Berbulu Merah", "Sjahrir", "Amir Hamzah; Nyanyian Sunyi Revolusi", "The Sin Nio, Sepinya Sepi", "Annelis Mallema", dan "Kacamata Sjafruddin" membuktikan bahwa Ahda Imran adalah seorang penulis naskah drama yang sangat produktif.

Pada tahun 2022, Ahda Imran melebarkan sayapnya ke dunia perfilman dengan menulis cerita dan skenario film "Nana" bersama Kamila Andini. Film ini diadaptasi dari novel karyanya dan berhasil meraih nominasi Penulis Skenario Adaptasi Terbaik di Festival Film Indonesia 2022. Prestasi Ahda Imran dalam dunia sastra dan seni telah diakui secara luas. Kumpulan puisinya, "Rusa Berbulu Merah", masuk dalam daftar lima besar nominasi Kusala Sastra Khatulistiwa 2014 dan menjadi buku Rekomendasi Majalah Tempo 2015. Kumpulan puisinya yang lain, "Ludah Orang Suci", juga menjadi buku Rekomendasi Majalah Tempo 2021 dan menerima Penghargaan Buku Puisi Kemendikbud 2022. Pada tahun yang sama, ia memenangkan Sayembara Naskah Teater Dewan Kesenian Jakarta untuk naskah "Mesin Jemaat".

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url