Apria Putra, M.Hum Ongku Mudo Khalis
Apria Putra, M.Hum Ongku Mudo Khalis seorang filolog, dosen, dan mubalig kelahiran Nagari Mungo, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, telah mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan warisan intelektual Minangkabau. Lahir pada 1 April 1989, Apria menunjukkan kecintaannya pada ilmu pengetahuan dan tradisi keagamaan sejak usia muda. Saat ini sedang menyelesaikan disertasi S3-nya tentang kaba Rancak di Labuah.
Sebagai seorang filolog, Apria memiliki perhatian khusus pada manuskrip-manuskrip kuno yang ditinggalkan oleh ulama-ulama Minangkabau. Ia telah mengumpulkan sekitar 350 manuskrip berupa karya tulis dan 50 manuskrip lainnya yang berupa cap, gambar, dan lain-lain dari berbagai surau di Minangkabau. Koleksi berharga ini ia simpan dalam perpustakaan pribadinya yang diberi nama Kutubkhanah al-Asyirah an-Naqsyabandiyah, sebagai bentuk penghormatan terhadap tarekat yang ia ikuti.
Apria tidak hanya mengumpulkan dan menyimpan manuskrip, tetapi juga aktif meneliti dan mempublikasikan hasil penelitiannya. Melalui karya-karya tulisnya, ia berupaya mengungkap pemikiran dan kontribusi ulama-ulama Minangkabau dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan agama. Beberapa karya tulisnya yang telah diterbitkan antara lain: Bibliografi Karya Ulama Minangkabau Awal Abad XX: Dinamika Intelektual Kaum Tua dan Kaum Muda (bersama Chairullah Ahmad), Katalog Naskah Pasaman: Surau Lubuk Landur dan Masjid Syekh Bonjol (bersama Ahmad Taufik Hidayat dan Chairullah), Tambo Surau Subarang: Pertalian Adat dan Syarak yang Teguh, Ulama-Ulama Luak Nan Bungsu: Catatan Biografi Ulama-Ulama Luak Lima Puluh Kota serta Perjuangannya, Ulama dan Karya Tulis: Diskursus Keislaman di Minangkabau Awal Abad 20, Ulama Minangkabau dan Sastra: Mengkaji Kepengarangan Syekh Abdullatif Syakur Balai Gurah. Selain menerbitkan karya tulis dalam bentuk cetak, Apria juga aktif menulis di blog pribadinya, Surau Tuo, serta beberapa situs web seperti tarbiyahislamiyah.id dan jaringansantri.com. Melalui tulisan-tulisannya, ia berupaya memperkenalkan dan mempopulerkan pemikiran ulama-ulama kaum tuo Minangkabau kepada masyarakat luas.
Pada Juni 2023, Apria bersama beberapa dai muda di Sumatera Barat seperti Buya H. Fakhry Emil Habib, Lc., M.H. Tuangku Rajo Basa dan Buya Hasnani Maaruf membentuk Al-Husam, sebuah gerakan yang bertujuan untuk menggiatkan kajian kitab kuning di kalangan masyarakat. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari dai kondang Riau, Ustaz Abdul Somad. Hal ini menunjukkan komitmen Apria dalam mengembangkan pendidikan agama dan memperkuat tradisi keilmuan di Minangkabau. Dedikasi Apria Putra dalam melestarikan warisan intelektual Minangkabau menjadikannya sebagai salah satu tokoh penting dalam dunia filologi dan keagamaan di Indonesia. Ia telah memberikan kontribusi yang sangat berharga dalam mengungkap dan mempopulerkan pemikiran ulama-ulama Minangkabau, serta memperkuat tradisi keilmuan di tengah masyarakat.