Gus tf Sakai
Gus tf Sakai atau yang memiliki nama asli Gustrafizal Busra, adalah salah satu sastrawan Indonesia yang memiliki tempat istimewa di hati para pencinta sastra. Lahir pada 13 Agustus 1965 di Payakumbuh, telah menorehkan banyak karya sastra yang kaya akan nilai-nilai budaya dan kemanusiaan. Nama Gus tf Sakai dipakai untuk karya prosa sedangkan nama Gus tf dipakai untuk nama karya puisi.
Salah satu hal yang paling menonjol dari Gus tf Sakai adalah kecintaannya yang mendalam pada kampung halamannya. Ia memilih untuk tetap tinggal dan berkarya di Payakumbuh, meskipun banyak tawaran untuk pindah ke kota-kota besar. Baginya, Payakumbuh adalah sumber inspirasi yang tak pernah habis, dan ia merasa memiliki tanggung jawab untuk "menyerang dari dalam," yaitu dengan mengembangkan sastra dan budaya dari daerahnya sendiri.
Gus tf Sakai telah menghasilkan banyak karya sastra, baik puisi, cerpen, maupun novel. Karya-karyanya sering kali mengangkat tema-tema sosial, budaya, dan kemanusiaan, dengan latar belakang kehidupan masyarakat Minangkabau. Beberapa karyanya yang terkenal antara lain: Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (kumpulan cerpen, 1999): Kumpulan cerpen ini berhasil meraih berbagai penghargaan, termasuk SEA Write Award pada tahun 2004. Selain itu ada Perantau (kumpulan cerpen, 2007): Kumpulan cerpen ini juga mendapat sambutan yang sangat baik dari para pembaca dan kritikus sastra, serta memenangkan Khatulistiwa Literary Award (KLA) pada tahun 2007. Berikut ini sejumlah karya-karya Gus tf Sakai: Segi Empat Patah Sisi (novel remaja, 1990), Segitiga Lepas Kaki (novel remaja, 1991), Ben (novel remaja, 1992), Istana Ketirisan (kumpulan cerpen, 1996), Sangkar Daging (kumpulan sajak, 1997), Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (kumpulan cerpen, 1999), diterbitkan The Lontar Foundation dalam bahasa Inggris dengan judul The Barber and Other Short Stories (2002), Tambo (Sebuah Pertemuan) (novel, 2000), Tiga Cinta, Ibu (novel, 2002), Laba-laba (kumpulan cerpen, 2003), Ular Keempat (novel, 2005), Daging Akar (kumpulan sajak, 2005), Perantau (kumpulan cerpen, 2007), Akar Berpilin (kumpulan sajak, 2009), Kaki yang Terhormat (kumpulan cerpen, 2012), Susi (kumpulan sajak, 2015), Night's Disappearance (collection of short stories, 2015), Pendar Ungu dan Merah Latu (kumpulan cerpen, 2020).
Dedikasi dan kontribusi Gus tf Sakai dalam dunia sastra telah diakui dengan berbagai penghargaan, antara lain: Penghargaan Sastra Lontar dari Yayasan Lontar untuk kumpulan cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (2001), Anugerah Sastra dari Fakultas Sastra Universitas Andalas (2002), Penghargaan Penulisan Karya Sastra dari Pusat Bahasa untuk kumpulan cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (2002), Sih Award dari Jurnal Puisi untuk puisi Susi, 2000 M (2002), SEA Write Award dari Kerajaan Thailand untuk kumpulan cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (2004), Anugerah Seni dari Komunitas Penggiat Sastra Padang dan Dewan Kesenian Sumatera Barat (2004), Fiksi terbaik pilihan pembaca Ruang Baca Koran Tempo dari Koran Tempo untuk kumpulan cerpen Perantau (2007), Khatulistiwa Literary Award (KLA) untuk kumpulan cerpen Perantau (2007), Anugerah Tuah Sakato dari Gubernur Sumatera Barat (2008), Penghargaan Sastrawan Berdedikasi dari harian Kompas (2010), Anugerah Hari Puisi kategori Puisi Pilihan untuk kumpulan puisi Susi dari Yayasan Hari Puisi (2015), Penghargaan 40 Tahun Berkarya dari Badan pengembangan dan Pembinaan Bahasa (2024), Anugerah Sastra Kata kategori Tokoh Sastra dari Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat (2025). Penghargaan-penghargaan ini adalah bukti nyata dari kualitas karya-karya Gus tf Sakai yang mampu menyentuh hati para pembaca dan memberikan kontribusi yang signifikan bagi perkembangan sastra Indonesia.