AGRESI MILITER KEDUA BELANDA DI PADANG PANJANG DAN SEKITARNYA

 

Foto Kereta Api Padang Panjang selesai dibangun 1 Juli 1892 untuk jurusan Padangpanjang –Solok. Foto: Feni Efendi


SEBELUMNYA Padangpanjang ini merupakan wilayah Tuan Gadang di Batipuh. Dari sejak masa paderi, Belanda menjadikan wilayah ini sebagai pusat pertahanan terbesar di daerah ketinggian Minangkabau. Di sini Belanda membangun penjara, pusat gudang (depot) untuk menampung rempah-rempah, terutama kopi, dari Fort de Cock (Bukittinggi), Fort Pajacombo (Payakumbuh), Solok, dan Fort Van der Capellen (Batusangkar).

     Pasar-pasar mengeliat cepat di sini. Kereta api juga dibangun setelah ditemukannya tambang batubara di Sawahlunto dengan dibukannya rute Padang—Padangpanjang—Solok—Sawahlunto. Begitu juga dengan rute Padangpanjang—Bukittinggi—Payakum-buh—Suliki untuk membawa rempah-rempah dari Payakumbuh dan hasil tambang dari Mangani di Suliki. Lalu Padangpanjang pun menggeliat dengan cepat. Kota ini menjadi daerah paling awal menerima modernitas di dataran tinggi Minangkabau. Orang-orang telah bangga memakai pentolan dan jas sebagai penanda modernitas. Rumah-rumah gaduang pun semakin ramai didirikan dan mobil ser-ta kereta api semakin menambah semaraknya kota ini. Dan kejayaan Belanda di Padangpanjang ini berakhir ketika Jepang memasuki kota ini pada tahun 1942.

     Setelah Indonesia merdeka, (Ahmad Husein, et. al., H. M. Rasyid, et. al, Feni Efendi) Belanda kembali memasuki Padangpanjang pada tangal 21 Desember 1948 untuk agresi militer keduanya di republik ini. Belanda masuk melalui Ombilin setelah didaratkan melalui pesawat perang di tepian Singkarak itu. Adapun tentara republik saat itu di Padangpanjang yaitu Resimen IV yang ditempatkan di Kandang Ampek Kayu Tanam karena sebelumnya pemerintah republik ini menganggap pasukan Belanda akan datang dari arah Lubuk Alung. Resimen ini dipimpin oleh Mayor Kamal Mustafa. Dan Belanda memasuki Padang Panjang tanpa perlawanan karena Batalyon Merapi telah dipindahkan sebelumnya ke Payakumbuh.

     Masuknya Belanda di Padangpanjang membuat pemerintah dan militer menyingkir ke nagari-nagari X Koto dan menyebabkan pusat kota kosong. Pertama kali Belanda menduduki Padangpanjang dengan menjadikan Gedung Sekolah Guru Putra (SMA 2 Padang Panjang sekarang) sebagai markas. Pemuda-pemuda yang ditemukan Belanda semuanya ditangkap dan disekap di gedung ini. Belanda terus menggeledah rumah-rumah penduduk dan menangkap orang-orang yang dicurigai. Belanda pun membujuk rakyat dengan memberi berbagai bantuan distribusi agar penduduk benci kepada pemerintah republik dan mendukung pemerintah Belanda. Serta uang NICA juga diedarkan Belanda pada masa ini.

      Padangpanjang sempat mengalami kekosongan dalam beberapa waktu. Tidak bebarapa lama tibalah beberapa petinggi dari Batalyon Merapi di antaranya Mayor Anas Karim dan Letnan Satu Kris Nurmatias. Mereka menyusun kekuatan militer di Padangpanjang dan mengkoordinir BPNK serta memanggil semua wali nagari untuk menghadapi Belanda.

     Komando pertempuran Batipuh X Koto dipimpin oleh Mayor Anas Karim dengan wakilnya Letnan Satu Wilhelm Damanik dan bagian administrasi adalah Mayor Anas Idris. Adapun daerah pertempuran dibagi empat sektor di antaranya: Sektor I di Koto Laweh dengan komandannya Letnan Mansyur St. Zainudin; Sektor II di Paninjauan dengan komandannya Letnan Alaudin Dt. Sidi Kayo; Sektor III di Ladang Laweh dengan komandannya Letnan Dua A. Muinsyah Dt. Bagindo; Sektor IV di Sumpur dengan komandan Letnan Rusli Hakim; Sedangkan komando Pasukan Mobil Teras (PMT) di Batipuh X Koto adalah Bustami Salam (H.M. Rasid, et, al).

     Setelah Padangpanjang diduduki oleh Belanda, Markas Resimen IV dipindahkan ke Nagari Gunung dan Paninjauan. Dan pada tang-gal 22 Desember 1948, Belanda melakukan penyerangan ke Nagari Gunung dari arah Ikua Lubuk dan menuju Batu Banyak. Di daerah ini merupakan basis pasukan republik yang dipimpin oleh Muctar Dt. Pisang. Pasukan Belanda dibiarkan memasuki Batu Banyak dan Peninjauan tanpa ada perlawanan dari prajurit republik. Ketika Belanda kembali ke Padangpanjang, prajurit republik mencegat Belanda di Solok Batuang yang mulai kelelahan. Konflik senjata itu berlangsung selama satu jam dan pasukan Belanda tewas 5 orang dan prajurit republik semuanya selamat dalam peristiwa itu.

      Dengan adanya peristiwa itu Belanda meminta bantuan ke markas Padangpanjang dengan mengirimkan pasukan kendaraan lapis baja. Belanda menyerang membabi-buta ke semua semak belukar dan membakar rumah penduduk di Ikua Batuang. Sedangkan prajurit republik menyingkir ke Paninjauan.

     Belanda kembali melakukan penyerangan pada 2 Januari 1949 dengan kekuatan tentara 2 kompi dari arah Pasar Rabaa menuju Tabu Rabaia dan terus ke Balai Satu tempat markasnya Resimen VI.  Sedangan pasukan republik dari Resimen VI dengan prajurit di Ikua Lubuk serta Solok Batuang bergabung menghadapi Belanda. Perang ini tidak seimbang. Belanda menghujani tempat-tempat yang mereka lalui dengan senjata berat sehingga banyak korban dari pihak sipil. Di Kubu Ateh dan Bayang-bayang Aiea ada 17 orang penduduk yang tewas. Sedangkan di Talago, Tabu Barayia, dan Balai Satu ada 9 orang yang tewas dan salah satunya Kapten Bahar. Begitu juga di Gunuang Ateh ada 17 orang. Adapun di Lambah ada 17 orang laki-laki yang ditangkap lalu ditembak di pinggir jalan.  Sedangkan di Guci ada 14 orang laki-laki yang ditembak dan 3 di antaranya selamat. Setelah peristiwa ini, markas Resimen VI dipindahkan ke Batusangkar.

     Besok harinya 13 Januari 1949 Belanda kembali melakukan sera-ngan dengan kendaraan lapis baja dan tank dari arah Ikua Lubuk terus ke Guci, Batu Banyak, Andaleh, dan terus ke Sabu. Dan di Andaleh dan Sabu ini Belanda menembak 27 rakyat ditembak mati. Dan ketika Belanda kembali ke Padangpanjang, pasukan Belanda yang sudah letih dicegat oleh pasukan republik yang dipimpin oleh Dt. Pisang namun tidak diketahui berapa korban di pihak Belanda.

     Konflik senjata dengan Belanda kembali terjadi pada 2 Februari 1949 dengan menyerang Paninjauan dari arah Koto Subarang, Panyalaian dan Talago. Belanda juga membakar rumah penduduk sebanyak 15 buah. Adapun pada tanggal 19 Maret 1949 Belanda ingin menggempur pemimpin republik di Batipuh X Koto di Ladang Laweh untuk melaksanakan rapat koordinasi karena rahasia itu dibocorkan oleh kaki tangan Belanda yang bernama Dt. Apuang dan Dt. Budue asal Batipuh. Namun sebelum di Ladang Laweh Belanda dicegat lebih dahulu oleh prajurit republik yang dimpin oleh Dt. Pisang di Pintu Parik. Dalam pertempuran tersebut prajurit republik mundur ke Tambangan sedangkan Belanda mundur ke Kubu Karambie.

     Tercatat pada tanggal 24 Maret 1949 Belanda menangkapi penduduk dan pemuda yang umumnya sedang memanen padi di Koto Panjang, Koto Kotiak, Jaho, Ladang Laweh hingga sampai Balai Gadang Batipuh dan dibawa ke Padangpanjang. Tawanan itu berjumlah 120 orang dan 3 di antaranya ditembak di tempat karena diketahui memiliki senjata. Ketiga nama itu adalah Muncak, Rusli dan Rajo Alam. Semua tawanan dikumpulkan Belanda di Markas Infanteri II (lokasi SMA Negeri 1 Padangpanjang sekarang).

      Rakyat diperiksa satu persatu dengan bantuan kaki tangan Belan-da melalui lubang dinding yang bernama Dt. Apuang dan Dt. Budue. Sebanyak 55 orang dari tawanan itu dibebaskan sedangkan 25 orang dipindahkan ke kantor Inteliggent Diens (ID) yang sekarang ber-lokasi di Kantor UPTD Perpustakaan Kota Padangpanjang. Sedang-kan 40 orang tetap di Markas Infranteri II yang disiksa dengan kejam. Dan pada malam harinya 40 tawanan itu dibawa ke markas Belanda di Kayu Tanam di sebuah Rumah Sakit Umum Kayu Tanam (sekarang lokasi SMP Negeri Kayu Tanam). Semua tahanan itu kembali disiksa dengan kejam.

      Pada shubuh harinya semua tawanan itu dibawa ke Lembah Anai di dekat stasiun kereta api Kampuang Tangah Lembah Anai. Para tawanan itu diberondong dengan senapan mesin. Ada 37 tawanan yang tewas dan 3 di antaranya selamat dari maut. Di antara nama itu adalah Sersan Yusuf dan Pratu Ali dari Batalyon Marapi serta seorang lagi bernama Mahmud dari PMT Batipuh. 

     Pada tanggal 30 Maret 1949 pasukan Gajah Mada menyerang Belanda di Padangpanjang dan menewaskan 6 orang prajurit Belanda dan satu dari prajurit republik bernama Aziz. Sedangkan prajurit yang dimpin oleh Dt. Mucktar dan Dt. Pisang di pusat kota serta mengobrak-abrik Kampung Cina. Besok harinya Belanda membalas serangan prajurit republik dengan menambaki rakyat 4 orang di daerah Kuok Paninjauan. Serta besoknya harinya 1 April 1949 Belanda kembali menembaki nagari-nagari di sekitar Padangpanjang dengan meriam seperti  Katiagan dan Tigo Suku Paninjauan, Pagu-pagu Pandai Sikek, Pincuran Tujuh Koto Laweh, dan Aie Angek.

     Besok harinya 4 April 1949, ketika Belanda masuk melaui Kuok di Paninjauan, prajurit Belanda kembali dihadang oleh prajurit republik ketika akan kembali ke Padangpanjang dan menewaskan 6 orang prajurit Belanda. Juga besok harinya pasukan Belanda kembali dicegat setelah Belanda memasuki Paninjauan dari arah Tabu Baraie ke Anak Kayu. Dalam pertempuran tersebut 2 orang prajurit Belanda tewas sehingga meminta bantuan ke markas pusat Padangpanjang. Pasukan Belanda datang dari arah belakang pasukan republik sehingga hari itu tercatat Belanda menderita 8 orang prajuritnya tewas.

     Besok harinya, 6 April 1949 pasukan Belanda kembali menembak 2 penduduk yang sedang panen di Guci. Dan ketika Belanda kembali ke Padangpanjang, pasukan republik kembali mencegat pasukan Belanda namun tidak diketahui berapa korban di pihak Belanda. Namun pada 7 April 1949 Belanda menyerang ke Anak Kayu di Paninjaun. Pada 8 April Belanda memasuki Ladang Laweh dan kembali dari sana lalu disergap oleh prajurit republik.

     Pada 11 April 1949 Belanda menyerang  markas prajurit republik di Pincuran Tujuah dengan tewasnya 5 orang prajurit republik dan 4 tertangkap meski akhirnya 4 tawanan itu ditembak mati di sana. Besoknya 12 April 1949 pasukan Belanda memasuki Anak Kayu sehingga disergap oleh prajurit republik yang dipimpin oleh Tusuf Siradj dengan menewaskan 3 orang prajurit Belanda. Pada tanggal 16 April 1949 pun Belanda menyerang Pandai Sikek namun dihadang oleh prajurit republik yang menewaskan 6 prajurit Belanda dan 1 orang dari prajurit republik. Sedangkan pada tanggal 18 April 1949 prajurit Belanda menyerang Andaleh melalui Solok Batuang dan Batu Banyak namun dihadang oleh prajurit republik sehingga menewaskan beberapa orang prajurit Belanda. Adapun pada tanggal 23 April 1949 Belanda memasuki Paninjauan dari arah Sungai Talang namun disergap oleh prajurit republik di Anak Kayu sehingga prajurit Belanda tewas 3 orang.

     Pasukan Dt. Pisang dan Security Troopen pindah ke Padang Bangkirai pada tanggal 25 April 1949 dan diketahui Belanda. Dan pada tanggal 28 April 1949 Belanda menyerang markas di Padang Bangkirai ini dari jurusan Tanjung dengan membakar rumah-rumah penduduk. Konflik senjata berlangsung setengah jam dalam jarak dekat namun tidak ada korban jiwa dari kedua belah pihak. Setelah peristiwa itu pasukan republik pun pindah ke Singgalang melalui Kandang Diguguak Koto Laweh. Pada peristiwa ini ada 96 rumah yang dibakar beserta 2 masjid oleh Belanda.

     Besoknya tanggal 29 April 1949 Belanda memasuki Simpang Aie Taji di Paninjauan namun ketika pasukan Belanda kembali ke Padangpanjang, prajurit republik mencegat Belanda sehinga terjadilah konflik senjata. Di pihak Belanda mengalami 6 orang prajurit tewas sedangkan dipihak tentara republik dalam keadaan selamat.

     Belanda kembali bergerak dari markasnya menuju Guci dan Batu Banyak pada tanggal 5 Mei 1949 karena pada malam harinya markas Belanda di Padangpanjang diserang oleh prajurit republik. Belanda diserang oleh prajurit republik ketika tiba di Batu Banyak dan Belanda pun meminta bantuan ke markas Padangpanjang dan lalu Belanda juga menyerang Paninjauan dengan pasukan yang banyak. Pasukan Belanda dihadang oleh prajurit republik di Sungai Talang sehingga membuat prajurit republik mundur karena kekuatan tidak seimbang. Pasukan Belanda dari Sungai Talang terus menuju Batu Banyak untuk memberikan bantuan kepada temannya yang terkepung oleh pasukan republik. Dalam pertempuran di Batu Banyak ini Belanda mengalami banyak prajuritnya yang tewas.

      Besoknya pada tanggal 6 Mei 1949, Belanda kembali melakukan serangan ke Batu Banyak dengan pertempuran jarak dekat. Belanda kehilangan satu pasukan yang tewas sedangkan pasukan dari republik dalam keadaan selamat. Selain serangan Belanda ke Batu Banyak, Belanda juga menyerang markas prajurit republik di Balai Satu. Sedangkan pasukan Belanda yang baru saja bertempur di Batu Banyak juga terus menuju ke Balai Satu. Namun di dalam perjalanan dihadang oleh pasukan Dt. Pisang di Koto Simarajo. Dua rombongan pasukan Belanda di Balai Satu terus menuju Tigo Suku. Pasukan Belanda memporak-porandakan kampung-kampung dan pasukan Dt. Pisang semakin terjepit sehingga menyingkir ke Andaleh dengan menyusuri sungai. Sedangkan markas komando prajurit republik di Katiagan tidak sampai dimasuki Belanda sehingga dokumen dan arsip masih bisa terselamatkan.

     Pada tanggal 12 Mei 1949 Belanda menangkap seorang pemuda untuk dijadikan menunjuk arah ke Padang Bangkirai untuk diserbu. Namun di Subarang antara Pincuran Tujuh dan Pagu-pagu pasukan Belanda disergap oleh pasukan republik di bawah pimpinan M. Yusuf. Belanda mengalami ketakutan karena hanya terdiri 8 prajurit. Belanda menembak seorang pemuda penunjuk arah itu di Bubun Aie lalu melarikan diri ke Pincuran Tujuah.

     Selain ke Padang Bangkirai, Belanda juga melakukan serangan besar-besaran ke Paninjauan dengan pasukan baret hijau. Konflik senjata terjadi di Kandang Aie Tabek yang menewaskan 2 orang prajurit republik dan 3 orang dari pihak Belanda.

     Konflik senjata terjadi lagi pada bulan ramadhan tanggal 27 Mei 1949 pada senja hari di Paninjauan. Belanda menangkap masyarakat Tigo Suku pada saat shalat tarawih dan juga yang sedang duduk-duduk di warung kopi. Ada sebanyak 17 orang penduduk ditangkap malam itu. Semuanya disuruh berbaris di pinggir jalan dan ditembak dengan berondongan senjata. Ada satu yang selamat bernama Muhammad Nur meski tubuhnya telah tertembus peluru.

     Belanda kembali melakukan serangan di bulan Ramadhan pada tanggal 18 Juni 1949 dengan menyerang Balai Satu sebelum memasuki Katiagan sebagai markas staf komando yang dimpin oleh Mayor Anas Karim. Namun sebelum Belanda mencapai Katiagan, prajurit di pos penjagaan sesudah Balai Satu menanam tali-tali yang diberi kaleng-kaleng kosong di sepanjang jalan. Jika jalan itu dilalui maka akan berbunyi oleh prajurit jaga lalu memberikan tanda tembakan satu kali ke udara agar diketahui oleh prajurit di staf komando. Maka dengan begitu segala barang berharga dan dokumen-dokumen penting sudah terlebih dahulu diselamatkan. Namun dalam peristiwa ini ada 4 orang prajurit dari pihak republik gugur dan 2 ditangkap dan dibawa ke Padangpanjang.

     Tigo Suku diserang Belanda pada tanggal 20 Juli 1949 dari arah Sungai Talang. Padahal saat itu telah diputuskan Roem-Royen Statement tentang penghentian tembak-menembak di kedua belah pihak sehingga membuat prajurit republik kurang siaga. Belanda terus menyerang asrama prajurit di Sawah Tambangan yang saat itu sedang kosong. 

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url