Kabupaten Dharmasraya: Perkembangan Ekonomi, Pertumbuhan dan Sektor-Sektor Ekonomi

 

Foto: westsumatra360.com/

Perkembangan Ekonomi

     Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada tingkat regional seperti provinsi atau kota mencerminkan kemampuan suatu wilayah dalam menciptakan nilai tambah pada suatu titik waktu tertentu. Dalam penyusunan PDRB, digunakan dua pendekatan yang berbeda, yaitu pendekatan lapangan usaha dan pendekatan pengeluaran. Kedua pendekatan ini memberikan gambaran tentang komposisi nilai tambah yang terurai berdasarkan berbagai sumber aktivitas ekonomi (lapangan usaha) dan komponen-komponen pengeluaran.

     PDRB dari sudut pandang lapangan usaha melibatkan penjumlahan nilai tambah bruto yang dihasilkan oleh berbagai jenis aktivitas produksi dalam lapangan usaha yang berbeda. Ini membantu untuk memahami seberapa besar nilai tambah yang diciptakan oleh berbagai sektor ekonomi di wilayah tersebut.

     Sementara itu, pendekatan pengeluaran menjelaskan bagaimana nilai tambah tersebut digunakan atau dihabiskan dalam wilayah tersebut. Ini mencakup komponen-komponen seperti konsumsi rumah tangga, investasi, ekspor, impor, dan lainnya. Dengan menggunakan kedua pendekatan ini, PDRB memungkinkan untuk memahami bagaimana ekonomi suatu wilayah berfungsi dan bagaimana nilai tambah dihasilkan dan digunakan dalam wilayah tersebut.

     Selama periode dari tahun 2010 hingga saat ini, terjadi perubahan dalam komponen sektor-sektor yang menyusun Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) berdasarkan lapangan usaha. Pada awalnya, sektor-sektor ekonomi dikelompokkan menjadi 9 sektor namun sekarang telah dikembangkan menjadi 17 kelompok sektor yang lebih rinci. Perkembangan terbesar terjadi pada sektor jasa-jasa, yang sekarang telah dibagi menjadi 9 kelompok sektor yang berbeda. Sementara itu, tidak ada perubahan dalam pengelompokan sektor konstruksi dan sektor pertambangan dan penggalian, yang tetap menggunakan pengelompokan yang sama.

     Dalam menganalisis perkembangan ekonomi suatu wilayah, penting untuk membandingkannya dengan daerah referensi atau wilayah sekitarnya. Hal ini membantu untuk menilai apakah pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut lebih cepat atau lebih lambat dibandingkan dengan wilayah referensi. Dengan demikian, dapat dipahami sejauh mana kemampuan wilayah regional tersebut dalam mencapai pertumbuhan ekonomi yang kompetitif.

     Dari perbandingan pertumbuhan PDRB ADHK 2010 antara PDRB Provinsi Sumatera Barat dan PDRB Kabupaten Dharmasraya, terlihat bahwa terdapat fluktuasi pertumbuhan dalam kedua wilayah selama periode yang dianalisis. Pertumbuhan PDRB di Kabupaten Dharmasraya cenderung lebih stabil dibandingkan dengan PDRB Provinsi Sumatera Barat. Pada tahun 2013-2019, PDRB Provinsi Sumatera Barat mengalami penurunan dari 6,08% menjadi 5,27%. Meskipun, ada peningkatan sebesar 0,02% antara tahun 2016 dan 2017. Di sisi lain, PDRB Kabupaten Dharmasraya juga menunjukkan tren penurunan dari 6,51% menjadi 5,42% pada periode 2013-2016, dengan kenaikan sebesar 0,02% pada tahun 2017. Namun, pada tahun 2018-2019, keduanya mengalami penurunan pertumbuhan PDRB.

     Pengukuran Produk Domestik Bruto (PDB) dan komponennya dapat disajikan dalam dua versi penilaian, yaitu "harga berlaku" dan "harga konstan." Harga berlaku mengacu pada penilaian yang menggunakan harga dari tahun berjalan untuk semua komponen, sedangkan harga konstan adalah penilaian yang berdasarkan harga satu tahun dasar tertentu. Informasi ini mencakup periode PDRB Kabupaten Dharmasraya dari tahun 2013 hingga 2019.

     Perkembangan PDRB Kabupaten Dharmasraya, baik berdasarkan harga berlaku maupun harga konstan, selama periode 2013-2019 menunjukkan tren peningkatan yang stabil. Hal ini mencerminkan kekuatan dalam struktur ekonomi Kabupaten Dharmasraya, di mana sektor-sektor ekonomi dapat tumbuh dengan baik setiap tahun, meskipun kenaikan tersebut tidak selalu signifikan. Data menunjukkan bahwa PDRB Kabupaten Dharmasraya dari tahun 2013 hingga 2019 mengalami peningkatan yang stabil.

     Pada tahun 2019, Kabupaten Dharmasraya berhasil mencapai PDRB ADHB sebesar 10.351.222,60 juta rupiah, dengan rata-rata pertumbuhan tahunan sebesar 6,71%. Di sisi lain, nilai PDRB ADHK pada tahun 2019 adalah sekitar 7.565.212,12 juta rupiah, dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 5,68% per tahun. Data ini menunjukkan kemampuan Kabupaten Dharmasraya dalam meningkatkan produksi dan nilai tambah ekonomi secara stabil selama periode tersebut.

     PDRB Perkapita Provinsi Sumatera Barat selama tahun 2013 hingga tahun 2019 memiliki rata-rata sebesar 27,08 juta per tahun. Namun, nilai ini lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata PDRB Perkapita Kabupaten Dharmasraya, yang mencapai 27,59 juta per tahun. Dengan menggunakan metode analisis tipologi Klassen, kita dapat mengklasifikasikan posisi perekonomian Kabupaten Dharmasraya dengan membandingkannya dengan Provinsi Sumatra Barat sebagai daerah referensi. Analisis ini melibatkan pertimbangan terhadap nilai PDRB, laju pertumbuhan ekonomi, dan pendapatan per kapita. Dengan demikian, kita dapat menilai apakah Kabupaten Dharmasraya masuk ke dalam kategori daerah maju dan cepat tumbuh, daerah maju tapi mengalami tekanan, daerah berkembang, atau daerah yang relatif tertinggal dari segi ekonomi.

     Nilai pertumbuhan rata-rata Kabupaten Dharmasraya selama tahun 2013-2019 adalah sekitar 5,68%, sedangkan Provinsi Sumatera Barat memiliki pertumbuhan rata-rata sebesar 5,47%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Dharmasraya (ri) lebih tinggi daripada di Provinsi Sumatera Barat (r). Sementara itu, rata-rata PDRB per kapita Kabupaten Dharmasraya adalah sekitar 27,59 juta per tahun, sedangkan di Provinsi Sumatera Barat adalah sekitar 27,08 juta per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa pendapatan per kapita masyarakat di Kabupaten Dharmasraya (yi) lebih tinggi daripada di Provinsi Sumatera Barat (y).

     Berdasarkan analisis Tipologi Klassen, ketika pertumbuhan ekonomi daerah studi lebih tinggi daripada daerah referensi dan pendapatan per kapita masyarakat juga lebih tinggi, maka daerah tersebut dapat diklasifikasikan sebagai daerah maju dan tumbuh cepat. Pendekatan Tipologi Klassen ini dapat sangat bermanfaat dalam perencanaan pembangunan daerah karena dapat digunakan sebagai dasar untuk merumuskan kebijakan dan program pembangunan wilayah. (Sjafrizal, 2014).

     Di wilayah yang dianggap maju, disarankan untuk lebih memusatkan kebijakan dan program pembangunan daerah pada sektor dan aktivitas ekonomi yang memanfaatkan teknologi canggih dan investasi modal yang lebih besar, seperti sektor industri dan jasa. Dengan pendekatan ini, produktivitas ekonomi daerah dapat ditingkatkan, yang pada gilirannya akan mendorong peningkatan pendapatan per kapita penduduk dan kemakmuran wilayah setempat.

     Adapun untuk daerah yang dianggap maju namun mengalami tekanan, sebaiknya fokus kebijakan dan program pembangunan diarahkan untuk mengatasi masalah yang menyebabkan penurunan pertumbuhan, seperti penurunan harga komoditas utama daerah di pasar. Salah satu solusi kebijakan yang dapat diterapkan adalah dengan mengalihkan jalur pemasaran produk utama daerah ke wilayah lain atau beralih ke komoditas yang lebih menguntungkan untuk daerah tersebut.

     Begitupun daerah yang sedang berkembang, perumusan kebijakan dan program pembangunan seharusnya difokuskan pada upaya untuk merangsang pertumbuhan ekonomi daerah dengan memaksimalkan potensi ekonominya. Seiring dengan situasi ini, penting untuk mendorong investasi modal dan kehadiran tenaga ahli untuk meningkatkan daya saing daerah tersebut.

     Sedangkan daerah yang tergolong tertinggal, perumusan kebijakan dan program pembangunan sebaiknya difokuskan pada peningkatan penciptaan lapangan kerja melalui pemanfaatan teknologi padat karya. Selain itu, kegiatan ekonomi utama sebaiknya ditekankan pada sektor pertanian yang masih mengandalkan teknologi tradisional, namun produk-produknya memiliki permintaan yang signifikan, seperti tanaman pangan (Sjafrizal, 2014).

 

Pertumbuhan dan Sektor-Sektor Ekonomi

     Pada periode tahun 2013-2019, Provinsi Sumatera Barat mencatat pertumbuhan rata-rata terbesar di sektor Informasi dan Komunikasi, mencapai 8,87%, diikuti oleh sektor jasa Pendidikan dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 8,00%. Selain itu, sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial, Jasa lainnya, Konstruksi, Transportasi dan Pergudangan, serta Penyediaan Akomodasi dan Makanan Minuman juga mencatat pertumbuhan rata-rata di atas 7%. Namun, sektor yang memberikan kontribusi tertinggi terhadap PDRB Provinsi Sumatera Barat adalah sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan dengan kontribusi sekitar 0,23%.

     Sementara itu, di Kabupaten Dharmasraya, sektor Informasi dan Komunikasi mencatat pertumbuhan rata-rata tertinggi sebesar 10,27%. Hal ini menunjukkan pentingnya sektor Informasi dan Komunikasi dalam mendukung berbagai sektor ekonomi di Kabupaten Dharmasraya. Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan juga memiliki kontribusi tertinggi terhadap PDRB Kabupaten Dharmasraya sebesar 0,29%. Berdasarkan pertumbuhan rata-rata dan kontribusi sektor-sektor ekonomi, kita dapat mengelompokkan sektor-sektor ekonomi berdasarkan perkembangannya, menggunakan analisis Tipologi Klassen untuk memahami dinamika ekonomi di wilayah tersebut.

    Selama periode 2013-2019, Kabupaten Dharmasraya mengalami perkembangan sektor-sektor yang dapat digolongkan sebagai sektor maju dan berkembang pesat. Ini termasuk sektor Konstruksi, Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor, Informasi dan Komunikasi, Real Estat, serta Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial. Peningkatan ini disebabkan oleh pertumbuhan rata-rata dan kontribusi yang lebih besar dari sektor-sektor ini di Kabupaten Dharmasraya dibandingkan dengan Provinsi Sumatera Barat.

     Sementara itu, beberapa sektor di Kabupaten Dharmasraya dianggap maju namun mengalami tekanan, seperti sektor Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Daur Ulang, Transportasi dan Pergudangan, Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib, Jasa Pendidikan, Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum, Jasa Keuangan dan Asuransi, serta Jasa Lainnya.

     Beberapa sektor dianggap potensial dan masih memiliki peluang pengembangan, termasuk sektor Pertambangan dan Penggalian serta Industri Pengolahan. Di sisi lain, dalam kuadran IV, terdapat beberapa sektor yang dianggap tertinggal atau belum berkembang secara optimal, seperti sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, Pengadaan Listrik dan Gas, serta Jasa Perusahaan.

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url