PERTUMBUHAN EKONOMI DI KABUPATEN SIJUNJUNG

 

Foto: wikipedia


Kegiatan-kegiatan ekonomi di kelompokan atas kegiatan basis dan non basis. Kegiatan basis merupakan  suatu kegiatan ekonomi yang menghasilkan produk atau jasa yang nantinya akan mendatangkan profit. Dan kegiatan ekonomi non basis merupakan suatu kegiatan yang produksi barang atau jasa yang hanya bisa memenuhi kebutuhan pasar lokal. Dari kegiatan ekonomi itu bisa diketahui bahwa suatu daerah memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pasarnya. Apabila daerah memiliki sektor basis yang kuat maka bisa menjadi sumber pendapatan daerah  dan bisa menyebabkan terjalinnya kerjasama ekonomi dengan daerah lain .

     Pengelompokan kegiatan ekonomi menjadi basis dan non basis memilki dampak yang signifikan dalam analisi pertumbuhan ekonomi wilayah. Kegiatan basis merupakan kegiatan yang mengahasilkan produk maupun jasa yang mendatangkan uang dari luar wilayah, sementara kegiatan non basis lebih berkaitabn dengan pemenuhan kebutuhan kosumsi lokal dan sangat dipengaruhi oleh tingkat pendapatan penduduk di wilayah tersebut.

     Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), Produk Domestik Bruto (PDB) Kabupaten Sijunjung atas dasar harga konstan tahun 2021 sebesar Rp10,30 triliun, atau tumbuh 2,74% dibandingkan tahun sebelumnya. PDB Kabupaten Sijunjung masih didominasi oleh sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, dengan kontribusi sebesar 45,86%. Sektor ini diikuti oleh sektor perdagangan, hotel, dan restoran dengan kontribusi sebesar 16,99%, serta sektor industri pengolahan dengan kontribusi sebesar 11,89%.

      Laju pertumbuhan PDB Kabupaten Sijunjung tahun 2022 lebih tinggi dibandingkan tahun 2021, yaitu sebesar 2,74% dibandingkan 2,21%. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: membaiknya kondisi perekonomian nasional yang tercermin dari pertumbuhan PDB nasional sebesar 5,01% pada tahun 2022, kedua, peningkatan harga komoditas pertanian, khususnya komoditas perkebunan, seperti kopi, kelapa sawit, dan karet; ketiga, peningkatan aktivitas pariwisata di Kabupaten Sijunjung, seiring dengan pelonggaran kebijakan pembatasan mobilitas masyarakat.

     Pemerintah Kabupaten Sijunjung terus berupaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah, antara lain melalui pengembangan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, dengan fokus pada peningkatan produktivitas dan nilai tambah.Selain itu pemerintah juga meningkatkan pengembangan sektor pariwisata, dengan fokus pada pengembangan destinasi wisata baru dan peningkatan kualitas pelayanan. Selanjutnya pengembangan sektor industri, dengan fokus pada pengembangan industri berbasis sumber daya alam lokal.

     Dengan berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah, diharapkan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sijunjung dapat terus meningkat dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dalam hal ini sektor basis memiliki potensi untuk meningkatkan perekonomian wilayah yang melebihi pertumbuhan alamiah karena permintaannya mempengaruhi/menjadi sebab perubahan dan timbulnya variabel terkait. Oleh sebab itu analisis basis menjadi alat penting untuk memahami pertumbuhan ekonomi wilayah. Location quetient (LQ) merupakan teknik yang digunakan untuk menunjukkan spesialisai relatif wilayah pada kegiatan tertentu. Ini memberikan pemahaman mengenai sejauh mana suatu daerah berspelisasi dalam sektor tertentu. Namun Location quetient (LQ) hanyalah kesimpulan sementara dan perlu dibandingkan dengan teknik analisi lain, misalnya analisi Shift share, analisi MRP dan pertimbangan data lainnya untuk memastikan kebenarannya.   

     Dari hasil analisis LQ tahun 2014 diatas LQ yang memiliki rata rata yang lebih besar dari 1 merupakan sektor unggulan atau sektor basis. Dan dari hasil analisis di atas terdapat 5 sektor unggulan atau sektor basis. Berikut urutan sektor unggulan atau sektor basis yang mempunyai pengaruh besar terhadap pertumbuhan ekonomi (PDRB) Kabupaten Sijunjung mulai dari yang terbesar sampai dengan yang terkecil yaitu LQ pertambangan dan penggalian yaitu 3,44 dan LQ kontruksi yaitu 1,37. Sedangkan LQ pertanian, kehutanan, dan perikanan yaitu 1,3 dan LQ jasa kesehatan dan kegiatan sosial yaitu 1,23 dan LQ jasa pendidikan sebesar 1,06. Hal ini membuktikan bahwa nilai kontribusi sektor sektor tersebut di Kabupaten Sijunjung lebih besar dibandingkan nilai kontribusi di Provinsi Sumatera Barat. Sektor-sektor tersebut merupakan sektor unggulan yang mempunyai pengaruh besar untuk Kabupaten Sijunjung dibandingkan dengan peranan sektor yang sama di Provinsi Sumatera Barat.

     Kabupaten Sijunjung pada tahun 2015 diperoleh 5 sektor unggulan atau sektor basis. Urutan sektor sektor tersebut dari yang mempunyai peran besar terhadap suatu pertumbuhan ekonomi sampai dengan yang terkecil yaitu LQ pertambangan dan penggalian yaitu 3,51 dan LQ konstruksi yaitu 1,39  serta LQ pertanian, kehutanan dan perikanan yaitu 1,31 dan        LQ jasa kesehatan dan kegiatan sosial yaitu 1,26 serta LQ jasa pendidikan sebesar 1,08. Hal ini membuktikan bahwa nilai kontribusi sektor sektor tersebut di Kabupaten Sijunjung lebih besar dibandingkan nilai kontribusi di Provinsi Sumatera Barat. Sektor-sektor tersebut merupakan sektor unggulan yang mempunyai pengaruh besar untuk Kabupaten Sijunjung dibandingkan dengan peranan sektor yang sama di Provinsi Sumatera Barat. Dari 2014-2015 urutan pengaruh sektor unggulan tersebut tidak mengalami perubahan tetapi untuk nilainya mengalami perubahan dan hal ini dikarenakan nilai PDRB dalam setiap tahunnya mengalami perubahan sehingga LQ juga ikut mengalami perubahan.

     Berdasarkan LQ pada tahun 2016 diperoleh 5 sektor basis. Dan ini adalah urutan dari sektor-sektor basis yang mempunyai peranan besar terhadap pertumbuhan ekonomi (PDRB) Kabupaten Sijunjung mulai dari yang terbesar sampai terkecil yaitu: LQ pertambangan dan penggalian sebesar 3,51 dan LQ konstruksi sebesar 1,39 serta LQ pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 1,31 dan LQ jasa kesehatan dan kegiatan sosial yaitu 1,26 serta LQ jasa pendidikan yaitu 1,08. Dan dari tahun 2014 hingga 2016 urutan pengaruh sektor unggulan tersebut tidak mengalami perubahan, tetapi untuk nilainya mengalami perubahan hal ini dikarenakan nilai PDRB dalam setiap tahunnya mengalami perubahan sehingga LQ juga ikut mengalami perubahan.

     Untuk 2017 hasil LQ untuk ke % sektor unggulan atau sektor basis  yang mempunyai peran besar terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sijunjung mulai dari yang terbesar sampai dengan yang terkecil ialah LQ pertambangan dan penggalian 3,61 dan LQ Konstruksi sebesar 1,42 serta LQ pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 1,29 dan LQ jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 1,26 dan LQ jasa pendidikan sebesar 1,06. Sama seperti tahun tahun sebelumnya, pada tahun 2017 tidak mengalami perubahan, tetapi untuk nilainya mengalami perubahan hal ini dikarenakan nilai PDRB dalam setiap tahunnya mengalami perubahan sehingga LQ juga ikut mengalami perubahan.

     Adapun untuk tahun 2018 yaitu LQ pertambangan dan penggalian : 3,56 dan LQ konstruksi : 1,42 serta LQ pertanian, kehutanan dan perikanan : 1,28 serta LQ Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial : 1,27 dan LQ Jasa Pendidikan : 1,08. Untuk tahun 2018 sama seperti tahun tahun sebelumnya, tidak mengalami perubahan, tetapi untuk nilainya mengalami perubahan hal ini dikarenakan nilai PDRB dalam setiap tahunnya mengalami perubahan sehingga LQ juga ikut mengalami perubahan.

     Berdasarkan hasil analisis LQ yang telah dilakukan terhadap tujuh belas sektor pembentuk PDRB Kabupaten Sijunjung mulai dari tahun 2014-2018 bisa diketahui bahwa sektor-sektor yang memiliki LQ rata-rata besar dari 1 ialah sektor pertambangan dan penggalian (3,53), Konstruksi (1,39), Pertanian, Kehutanan dan Perikanan (1,29), Jasa kesehatan dan kegiatan sosial (1,25), Jasa Pendidikan (1,07). Hal ini menandakan bahwa nilai kontribusi sektor-sektor yang ada di Kabupaten Sijunjung lebih besar dibandingkan nilai kontribusi yang ada di Provinsi Sumatera Barat. Sektor tersebut merupakan sektor basis dengan peranan di Kabupaten Sijunjung lebih potensial dibandingkan dengan peranan sektor yang sama di Provinsi Sumatera Barat.

     Nilai LQ terbesar diperoleh oleh sektor pertambangan dan penggalian yaitu 3,53 yang kemudian diikuti oleh sektor Konstruksi dengan nilai LQ rata-rata sebesar 1,39 . Kemudian diikuti oleh sektor jasa Pertanian, Kehutanan dan Perikanan yaitu 1,29, Jasa kesehatan dan kegiatan sosial 1,25  serta Jasa Pendidikan 1,07. Sektor lainnya yaitu sektor Jasa lainnya (0,95), administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib (0,83), jasa keuangan dan asuransi (0,78), perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor (0,76), real estate dan transportasi serta pergudangan bernilai sama yaitu (0,64), penyediaan akomodasi makan dan minum (0,60), informasi dan komunikasi (0,56), pengadaan air, pengelolaan sampah limbah ( 0,42) , pengadaan listrik dan gas (0,34), industri pengolahan (0,32) dan jasa perusahaan yaitu (0,04) merupakan sektor non basis di Kabupaten SIjunjung dalam periode perhitungan tahun 2014-2018. Hal ini disebabkan karena nilai rata-rata LQ sektor-sektor tersebut kecil dari 1, artinya nilai kontribusi sektor ini di Kabupaten Sijunjung lebih rendah dari nilai kontribusi sektor yang sama di Provinsi Sumatera Barat dan dapat dikatakan peranan sektor ini di Kabupaten Sijunjung rendah jika dibandingkan di Provinsi Sumatera Barat.

     Dari dari banyak sektor yang sudah diketahui potensinya terhadap Kabupaten Sijunjung maka yang akan menjadi sorotan di sini ialah kelima sektor unggulan atau sektor basis yang ada di Kabupaten Sinjunjung, tidak hanya memberikan potensi yang besar terhadap Kabupaten Sijunjung. Kelima sektor tersebut juga mempunyai permasalahan di dalamnya, permasalahan yang terjadi tergantung kepada faktor-faktor seperti: faktor nasional, faktor lokal, dan faktor global.  Beberapa contoh permasalahan umum yang sering terjadi terhadap sektor-sektor unggulan atau sektor basis di Kabupaten Sijunjung tersebut ialah pertama, pertambangan dan penggalian. Pada sektor unggulan atau sektor basis pada pertambangan dan penggalian permasalahan umum yang sering terjadi adalah perizinan dan regulasi .

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url