Tari Antan Bagonto dari Dharmasraya

 

Foto: westsumatra360.com


     Tari Antan Bagonto adalah tarian tradisional Minangkabau yang berasal dari Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat. Tarian ini merupakan tarian yang dimainkan oleh sepasang penari laki-laki dan perempuan, dengan gerakan yang menggambarkan kegembiraan dan keceriaan. Dan Tari Antan Bagonto diciptakan oleh seorang seniman bernama Bagonto pada tahun 1957. Tarian ini terinspirasi dari tradisi masyarakat Minangkabau yang suka bersuka cita dan merayakan berbagai acara dengan tarian dan musik. Awalnya, Tari Antan Bagonto hanya ditampilkan pada acara-acara adat dan budaya di Kabupaten Dharmasraya. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, tarian ini mulai dikenal luas dan ditampilkan di berbagai acara di luar daerah.

     Tari Antan Bagonto memiliki makna yang mendalam, yaitu untuk menunjukkan rasa syukur atas karunia Tuhan Yang Maha Esa, serta untuk mempererat hubungan silaturahmi antar sesama manusia. Tarian ini juga mengandung nilai-nilai budaya Minangkabau, seperti gotong royong, musyawarah mufakat, dan adat istiadat. Dan Gerakan Tari Antan Bagonto terbagi menjadi dua bagian, yaitu bagian awal dan bagian inti. Pada bagian awal, penari laki-laki dan perempuan bergerak dengan gerakan yang pelan dan anggun, sambil diiringi oleh musik tradisional Minangkabau. Pada bagian inti, gerakan tari menjadi lebih cepat dan dinamis, dengan gerakan yang menggambarkan keceriaan dan semangat.

     Kostum yang digunakan dalam Tari Antan Bagonto adalah pakaian tradisional Minangkabau, yaitu baju kurung dan celana panjang untuk penari laki-laki, serta baju kurung dan kain songket untuk penari perempuan. Penari juga menggunakan perhiasan tradisional Minangkabau, seperti kalung, gelang, dan anting-anting. Properti yang digunakan dalam tarian ini adalah sapu tangan dan talam. Dan saat ini, Tari Antan Bagonto telah menjadi salah satu ikon budaya Kabupaten Dharmasraya. Tarian ini sering ditampilkan pada berbagai acara, baik di tingkat lokal maupun nasional. Tari Antan Bagonto juga diajarkan di sekolah-sekolah dan sanggar-sanggar tari di Kabupaten Dharmasraya, agar generasi muda dapat mengenal dan melestarikan budaya Minangkabau.

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url