Kemeriahan Pawai Alegoris dan Drumband Zaman Dulu

 

Pawai zaman dulu di Payakumbuh tahun 1980-an. Foto: Mak Wim

     Sebelum Reformasi tahun 1998, acara pawai 17 agustusan di Kota Payakumbuh digelar sangat meriah. Bela-belain berjalan dari Gelanggang Kubu Gadangtempat star pawaihingga sampai ke depan Balai Kota di Pasar (tempat finis). Sangat ramai sekali penontonnya saat itu. Biasa-nya pawai itu diadakan 2 atau 3 hari setelah tanggal 17. Acaranya diusa-hakan pada hari Sabtu. Maka di hari itu anak-anak sekolah lebih cende-rung kepada persiapan pawai daripada belajar di hari Sabtu itu. Dan me-mang semua sekolah mendukung itu karena itu bagian dari pendidikan siswa untuk menanamkan rasa cinta kepada bangsa dan negaranya.

     Di dalam pawai, ada yang berperan seperti orang Belanda. Dan mo-bil-mobil pun disewa khusus untuk didekorasi menjadi tembaja atau pesawat tempur. Bangga sekali rasanya orang-orang di atas mobil yang mirip tembaja itu. Namun ada juga yang ambil bagian menjadi personil drumband sekolah. Dan ngomong-ngomong soal drumband maka di sini-lah inti acara pawai itu. Bagi sekolah yang keluar sebagai pemenang drumband akan menjadi trending topik bagi semua para siswa sekolah di kota ini. Semuanya akan dibahas. Siapa mayoretnya. Dan sekolah mana pakaiannya paling menarik. Lagu apa yang dibawakan oleh sekolah jua-ra drumband itu. Hal itu terus menjadi kompetisi tiap tahun. SMA 1, SMA 2, SMA 3, SMA PGRI paling sering dielu-elukan penonton. Namun pe-nampilan dari drumband-drumband SMK juga unik-unik. Sekali waktu STM Negeri pernah menjadi pemenang drumband yang memakai kos-tum baju praktek sekolahnya.

     Acara pawai itu dihentikan setelah reformasi melanda negeri ini. Ke-hidupan ekonomi kurang baik sehingga dihentikankan buat sementara hiburan yang mewah dan penuh kenangan itu. Dan beberapa tahun la-manya, drumband-drumband yang saling berkompetisi itu membisu da-lam waktu yang cukup lama. Vivi Maylisa masih mengingat bahwa Yelva Amelia dan Ranggi Fastila Rase salah satu mayoret SMA 1 angka-tan tahun 1999, katanya.

     Adapun Marta Lena sempat melihat acara oyak tabuik pada acara pa-wai itu yang ketika di pengujung acara dilemparkan ke Jembatan Rata-pan Ibu sambil menangis-nangis. Rindu masa seperti itu. Saat itu tahun 1970-an. Itu tradisi yang dibuat oleh orang di Parik Rantang yang mayo-ritasnya orang Pariaman, kenangnya. Begitupun dengan Siska Andes Madya yang ikut pula pawai di zaman dulu. Letih sekali rasanya berjalan dimulai dari gelanggang pacuan kuda dan finis di Balai Kota lama. Tapi kalau tidak terpilih iba pula hati. Katanya ia dulu memakai baju daerah. Begitupun dengan Arlen Ara Guci yang juga pernah ikut pawai. Warga yang menonton memadati sisi ruas jalan. Kita yang sebagai peserta me-lambaikan tangan berasa ala bintang Hollywood di red carpet, katanya. Sesekali melambai tangan ala Miss Universe. Dan kawan-kawan yang tak jadi peserta, pastinya menarik-narik tangan kita untuk diajak foto ba-reng. Persis seperti bintang yang dikerumuni fans- nya, tambahnya lagi. Dan puncaknya bagi sesama peserta, akan pergi ke studio foto untuk mengabadikan momen itu. Ia masih ingat, masa itu ia ikut pawai sebagai tokoh nasional memerankan tokoh Presiden Soekarno. Usai pawai, ia dan kawan kawan, berfoto di Nang Dewi Foto Studio di Nunang, setelah itu foto lagi di New Victory dan Sakura Foto Studio.

     Adapun Hendri Evizal masih ingat ketika ia sekolah dulu group drumband hanya satu yaitu Group Drumband Batalyon Yonif 131 Braja Sakti di tahun 1975. Begitu pula dengan Mira Renki yang sering ikut pawai setiap tahun. Mulai dari sepeda hias waktu SD, pakaian adat se-waktu MTsN, dan sampai ikut drumband MAN 2 Payakumbuh tahun 2001 dan 2002, katanya.

 

 Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url