Makan di Sawah Zaman Dulu

 

1. Makan di sawah zaman dulu. Foto: kaskus via @Hirarahmi39

     Makan di sawah tentu sudah langka dialami oleh anak-anak zaman sekarang. Biasanya ketika panen padi, para petani pun bersama-sama membantu panen padi untuk sebuah sawah. Baru saja padi disabit, kopi manis dan teh manis sudah tersedia oleh pemilik sawah. Tentu dileng-kapi dengan air putih juga.

     Pada zaman dulu, cara memanen padi di sawah dengan cara dituai. Padi yang dituai lalu diikat dan terkadang digirik dengan kaki di ru-mah. Atau bisa juga dimasukkan dulu ke dalam rangking. Namun sejak tahun 1970, cara panen pun diperkenalkan oleh Presiden Soeharto de-ngan cara disabit. Lalu padi yang disabit itu dilambuk. Dan yang me-lambuk padi itu lebih sering dilakukan oleh laki-laki.

     Biasanya upah panen padi ini sekitar 18 persen dari total panen. Namun di bulan puasa upahnya sekitar 20 persen. Karena di bulan pua-sa itu si pemilik sawah tidak menyediakan minum dan makan untuk petani yang bekerja di sawah.

     Sekarang sistim panen padi sudah ada yang memakai mesin peron-tok. Mungkin di zaman nanti entah bagaimana lagi cara sistim panen. Atau jangan-jangan sawah-sawah yang sudah tidak ada lagi karena di-timbun terus untuk perumahan. 

      Ketika padi sudah selesai dilambuk, padi-padi itu akan digunakan oleh petani-petani untuk pakan sapi. Terkadang anak-anak zaman dulu menjadikan tumpukan jerami itu untuk mainan rumah-rumah dan juga membuat puput. Dan acara makan di sawah itu, umumnya anak-anak zaman dulu nyaris banyak mengalaminya.

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau  

 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url