Menunggu Durian Jatuh di Dangau

 

1.     Dangau durian zaman dulu. Foto: steemkr.com

     Apabila sudah tiba musim durian di zaman dulu maka dangau-da-ngau pun didirikan. Sebuah tungku atau api unggun disiapkan pula di depan dangau-dangau itu. Dan ketika malam sudah mulai naik maka dijerang pulalah air panas di tungku itu. Ada yang membuat kopi atau teh. Agak ke tengah sedikit ada api unggun. Biasanya lebih sering digu-nakan untuk membakar jagung atau ubi. Maka berpesta jagung atau ubi bakarlah di malam itu. Tentu dengan kopi hangatnya juga.

     Uniknya, makin malam makin ramai dangau-dangau durian di za-man itu. Ada-ada saja yang datang untuk ngerumpi dan lalu setelahnya pulang. Syukur-syukur ketika sedang negerumpi itu durian jatuh maka langsung dibelah durian itu dan dimakan bersama-sama. Dan memang, di zaman dulu, pohon-pohon durian itu selalu ditunggui dengan mem-buat dangau-dangau yang tak jauh dari pohonnya.

     Terkadang ada juga orang-orang mencari durian di tengah malam ke kebun-kebun yang tak ditunggui (dijaga). Dalam perjalanan mencari durian itu, tidak sedikit peristiwa-peristiwa horor yang ditemukan. Ada katanya pernah melihat orang berjubah di bawah pohon durian itu, ada pula yang melihat beruk berantai, harimau, dan lain-lain. Konon pernah ada seseorang yang mencari durian yang tak ditunggui oleh siapapun, ketika ia melihat sebuah durian tergelatak di tanah, ia lalu memungut-nya. Tapi apa yang terjadi, di tengah perjalanan durian itu telah beru-bah seperti kepala manusia. Tentu langkah seribu gaya Joko Tingkir tiba-tiba saja dapat dikuasai malam itu.

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url