MENGGEMBALA KERBAU

 

MAnak-anak gembala kerbau. Foto: lagaligapos.com

     Anak-anak yang lahir di tahun 1970-an ke bawah tentu lebih akrab dengan kerbau dan kubangannya. Sebagian mereka ada yang me-ngembalakan kerbau sepulang sekolah.

     Anak-anak zaman dulu paling menikmati kehidupan pedesaan se-perti ini. Mereka mengembalakan kerbau sambil meniup puput padi di atas kerbau itu. Terkadang hanya bertudung saja dan ketika matahari mulai turun ke ufuk barat maka kerbau-kerbau itu dibiarkan berendam di sungai. Tentu anak-anak lain yang sesama penggembala kerbau itu juga ikut-ikutan mandi di sungai yang dangkal itu.

     Fitrahnya, kerbau itu adalah hewan liar. Oleh nenek moyang hewan itu ditangkap dan dijinakkan. Sifat kerbau ini sangat tenang, rajin, kuat, dan pantang menyerah. Tetapi kalau sekali marah, harimau pun akan diseruduknya.

     Pada zaman dulu, kerbau itu digunakan tenaganya untuk membajak sawah. Ada juga yang digunakan untuk menarik pedati. Dan memang, memelihara kerbau merupakan tradisi dan kegemaran orang zaman du-lu. Mereka merawat kerbau itu seperti merawat keluarga sendiri. Dan itu dinamakan dengan istilah ma inang kabau. Mungkin saja dari kata ini nama Minangkabau berasal.

     Anak-anak zaman dulu sangat lumrah bermain naik pedati yang ditarik oleh kerbau. Paling asyik itu duduk di belakang atau bergelan-tungan di bagian bawah pedati sepulang sekolah, kata Yani Pinta me-ngenang masa kecilnya. Karena mobil adalah barang mewah saat itu, itupun masuknya hanya seminggu sekali di kampungnya, katanya me-nambahkan. Ada juga ada anak-anak zaman dulu pulang sekolah me-ngembalakan kerbau dan setelah itu langsung mandi-mandi di Batang Agam, kenang Iyung Sikumbang yang pandai berenang karena sering mandi-mandi di Batang Agam setelah selesai mengembalakan kerbau.

     Memang anak-anak zaman dulu belajar sambil mengembalakan ker-bau adalah hal yang biasa. Contohnya saja salah seorang dosen di salah satu perguruan di Payakumbuh mengisi hari-hari mengembalanya sam-bil duduk dipungung kerbau makan jambu parawe dan kalimuntiang. Ada juga seorang dosen di salah satu universitas di Padang menjalani hari-harinya sepulang sekolah sambil belajar dan mengembalakan ker-bau ke Sawah Rimbo di Payobasung.

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url