Radio Zaman Dulu di Payakumbuh
1. Orang dulu mendengarkan radio. Foto: kaskus via @bilalnet
Radio-radio itu bisa disandang. Di bawah ke sawah dan diletakkan di atas pembatang sawah. Dan tentu akan menjadi hiburan bagi warga kota yang menjadi petani di saat itu. Terkadang radio itu juga sangat penting dibawa ke pondok durian. Dan pada malam yang hening, di tengah suara serangga, radio-radio ini suaranya mengalun jauh meneri-ma siaran berita RRI.
Ada juga sebagian warga sudah memiliki radio tape racorder. Tentu si anu sekali orang yang telah memilikinya itu. Apalagi ditambahkan de-ngan speaker aktif, tentu suatu yang sangat mewah di saat itu. Ketika telah tiba sandiwara radio saat itu, para warga akan berkumpul di jen-jang rumah tetangga mendengarkan sandiwara itu. Ada sandiwara Saur Sepuh, Timun Emas, dll. Dan hanya anak-anak zaman dulu yang bisa merasakan bagaimana serunya mendengar sandiwara radio.
Di sela-sela sandiwara radio itu tentu ada iklannya. Iklan yang pa-ling diingat yaitu iklan NZ Optical tentang "Lah kabua pulo mato Fera". Dan iklan-iklan lainnya seperti Iklan Toko Wan Susila Baru, Sinar Pagi, dll. Dan tentu, pada masa itu, penyiar Kak Nana dan Kak Yunaz dari Radio Pemda (RSPD) selalu dikenal. Serta penyiar Mak Pado dan Dallu Awartha dari Radio Harau juga selalu dinanti-nantikan. Apalagi ketika membacakan kartu-kartu di udara. Senang sekali rasanya kalau nama kita disenggol.
Sore harinya, hal yang paling dinanti anak muda adalah tangga lagu yaitu lagu-lagu apa saja yang menduduki puncak teratas pada minggu itu. Anak-anak zaman dulu menggemari lagu-lagu Slow Rock Malaysia seperti Saleem Iklim, UKs, Spoon, Emy Searc, dll. Dan siapa yang tidak ingat dengan lagu Isabella yang selalu hits diputar di radio saat itu. Atau lagu Andre Stinky yang berjudul Mungkinkah.
Sedangkan di dalam memori warga kota, Okto Muharman, masih mengingat bahwa sekitar tahun 1960-an, ada radio dari kayu. Batrai yang digunakan sangat banyak. Bisa sampai 30-an. Dan biasanya, tem-pat batrai dibuatkan tersendiri. Suaranya keras, katanya. Sedangkan Fit-rial Bachri menambahkan bahwa merk radio yang paling merakyat waktu itu adalah SINAR. Radio ini adalah kawan setia waktu bela-jarnya di tahun 1970-an. Radio rakyat yang paling tinggi saat itu adalah 1 dan 2 band dan batrai yang dicari waktu itu adalah Everedy.
Begitupun dengan Elvina Dewi Dewi Yopl masih mengenang men-dengar sandiwara radio tahun 1991 dan lalu berkirim-kirim lagu ke Radio ARIF FM. Di antara sandiwara saat itu yaitu Pesanggrahan Kera-mat, Saur Sepuh, Tutur Tinular, dan masih banyak lagi. Timun Emas itu sama diputar dengan Saur Sepuh setiap jam 5 sore, katanya. Sedangkan Arlen Ara Guci sangat gembira membahas tentang radio ini. Pertama, karena ia pernah menjajal sebagai penyiar di tiga stasiun radio berbeda. Kedua, perihal sandiwara radio yang begitu jaya pada waktu itu, teru-tama Saur Sepuh sehingga pernah bercita-cita ingin menjadi seperti Bra-ma Kumbara yang punya ilmu kanuragan tiada tandingannya, katanya.
Selain itu juga ada sandiwara radio, Misteri Gunung Merapi dengan Mak Lampirnya, ia pun ingin pula bercita-cita menjadi Sembara, se-orang pemuda sakti yang tampan dan digilai gadis desa yang cantik bernama Farida. Tapi ada Mak Lampir yang selalu menjadi musuh be-buyutan Sembara, tambahnya. Lalu juga ada sandiwara Ibuku Sayang dan Ibuku Malang. Tak ketinggalan pula Butir-butir Pasir di Laut dengan pengisi suara Ibu Maria Oentoe, katanya sambil tertawa. Sedangkan kalau untuk iklan radio di Payakumbuh, ada iklan yang diawali dengan lagu Minang yang dibawakan oleh Tiar Ramon (alm) dengan lirik: Hei..., rang Pasa Mudiak..., lalu mulailah iklan dengan dialog berbunyi:
"Tape nan ba iduik an tu, Di?”
"Indak. Radio."
"Radio a tu?”
"Radio Harau Megantara."
"Dima bali radio tu?"
"Di Toko Wan Susila Baru. Jalan manjalang Pasa Ibuah tu hah."
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau