PEMUSIK JALANAN DI PAYAKUMBUH
|
Pemusik jalanan. Foto: deaandriati.blogspot.com |
Titik pengamen menaiki bus seingat saya dulu ada di Napar, Ka-niang Bukit, Lubuk Bangku, Ngalau, Batu Hampar, dan lain-lain. Dan hari ini pergeseran pengamen di Payakumbuh adalah dari kafe ke kafe. Tetapi tidak pula bisa dikatakan sebagai pengamen sebenarnya karena seniman-seniman ini telah diundang oleh pemilik kafe untuk meng-hibur pengunjung dengan pertunjukannya. Saat sekarang kita melihat kafe-kafe yang menyuguhkan musik dari musisi profesional seperti Ka-fe Agamjua, Galeri, Dangau Kawa Daun, Kopmil, dll.
Selain itu Roni Keron juga menambahkan informasi bahwa banyak tempat wisata di Payakumbuh dan Lima Puluh Kota menjadi salah satu ladang bagi teman-teman pengamen. Baik itu yang memang sudah profesional atau yang memang sudah lama mengamen. Atau juga yang baru bisa memainkan gitar, lalu memilih menguji mental melalui me-ngamen. Untuk yang kedua ini karena didorong oleh kesadaran memi-liki tempat, jadi agak terkesan ada pemaksaan ketika menyodorkan kole-kan. Dan hal yang lebih menyakitkan bagi para pengunjung adalah para pengamennya banyak, namun gitar yang digunakan sama. Kadang bisa datang 3 atau 4 orang pengamen dengan gitar yang sama, kata Roni Ke-ron menjelaskan.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau