PEMUSIK JALANAN DI PAYAKUMBUH

    

Pemusik jalanan. Foto: deaandriati.blogspot.com

     Setidaknya dua dekade lalu, bus-bus antar kota masih banyak yang beroperasi maka terminal pun ramai pula. Di sana pedagang asongan dan pengamen-pengamen bersiap-siap pula untuk naik ke bus di situ. Tentu pertunjukan dari pengamen itu membuat penumpang terasa terhibur. Dan dulu ada komunitas pengamen Payakumbuh dan nama-nya KPJ Payakumbuh (Komunitas Penyanyi Jalanan). Dan komunitas ini mengamen sampai ke Pangkalan dengan cara sambung menyam-bung bus. Salah seorang yang cukup beruntung dan memiliki album rekaman serta punya beberapa album adalah Bram KPJ. Ia pemuda dari Koto Nan Gadang. Hampir semua lagu dalam albumnya adalah cip-taannya sendiri. Dan hingga saat ini julukan itu masih melekat di nama-nya yaitu Bram KPJ. Selain itu juga ada Ades Sadewa, putra asli Sua-yan. Ia pengamen sejati yang juga sudah cukup punya nama di kancah musik Minang. Pencipta lagu dan penyanyi. Bahkan lagunya juga ada dipakai oleh penyanyi Malaysia. Dan hal ini tentu telah memberi warna dari perjalanan kota ini, kata Dallu Awarta.

     Titik pengamen menaiki bus seingat saya dulu ada di Napar, Ka-niang Bukit, Lubuk Bangku, Ngalau, Batu Hampar, dan lain-lain. Dan hari ini pergeseran pengamen di Payakumbuh adalah dari kafe ke kafe. Tetapi tidak pula bisa dikatakan sebagai pengamen sebenarnya karena seniman-seniman ini telah diundang oleh pemilik kafe untuk meng-hibur pengunjung dengan pertunjukannya. Saat sekarang kita melihat kafe-kafe yang menyuguhkan musik dari musisi profesional seperti Ka-fe Agamjua, Galeri, Dangau Kawa Daun, Kopmil, dll.

     Selain itu Roni Keron juga menambahkan informasi bahwa banyak tempat wisata di Payakumbuh dan Lima Puluh Kota menjadi salah satu ladang bagi teman-teman pengamen. Baik itu yang memang sudah profesional atau yang memang sudah lama mengamen. Atau juga yang baru bisa memainkan gitar, lalu memilih menguji mental melalui me-ngamen. Untuk yang kedua ini karena didorong oleh kesadaran memi-liki tempat, jadi agak terkesan ada pemaksaan ketika menyodorkan kole-kan. Dan hal yang lebih menyakitkan bagi para pengunjung adalah para pengamennya banyak, namun gitar yang digunakan sama. Kadang bisa datang 3 atau 4 orang pengamen dengan gitar yang sama, kata Roni Ke-ron menjelaskan.

 

 Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url