Setrika Arang dan Tukang Dobi
|
Setrika zaman dulu. Foto: historia.id |
Pada zaman dulu, tukang setrika itu namanya tukang dobi. Di pasar Payakumbuh banyak tukang-tukang dobi ini. Setidaknya para penjahit yang membuka jasa tailor di pasar sangat membutuhkan para tukang dobi. Bisa saja di zaman sekarang setrikaan itu menjadi barang antik. Dan profesi tukang dobi pun perlahan turut menghilang digantikan oleh laundri-laundri yang perlahan tumbuh menggantikan tukang dobi dengan menggunakan setrikaan listrik.
Endank Joey masih mengingat bahwa tukang dobi memakai lilin supaya pakaian tambah licin dan membuat sanding celana. Begitupun dengan Leon Kurniawan mengatakan bahwa tukang dobi di Nunang dahulu yang terkenal bernama Mak Lawi. Setrikaannya sangat besar dan masih ada sama ahli warisnya yang bernama Irzon Noenank, kata Leon Kurniawan.
Columba Livia menjelaskan pula cara mensterikanya yaitu kain di-sterika dulu seperti biasa. Dalam keadaan panas, kita gosokkan batang lilin dan lilin itu akan menempel ke kain yang panas lalu disetrika kem-bali. Lakukan beberapa kali sampai hasilnya benar benar sesuai selera. Tekanan lilin dilebihkan pada bagian lipatan yang ingin dibuat bersan-ding tajam, katanya menjelaskan.
Begitu juga dengan Vivi Maylisa masih mengingat ada tukang dobi di Simpang Batirai yang bernama Mak Acin. Kakeknya selalu ber-langgangan di sana. Tidak mau memakai setrikaan di rumah. Kini loka-sinya sudah berganti dengan kedai lontong oleh anak Mak Acin juga, katanya. Sedangkan Feri juga mengatakan bahwa dulu ada tukang dobi yang berasal dari Tiakar. Tempat dobinya di belakang kantor pos polisi atau di dalam terminal. Adapun Novitra Besni masih mengingat bahwa ia dulu juga memakai setrikaan arang. Sebelum digosokan ke baju maka digosokan dulu ke daun pisang dan jika menyetrika rok sekolah SMP kasih lilin sedikit biar mengkilap, kenangnya.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau