Acara Sunat Rasul/Khitan
Sunat Rasul. Foto: budaya-indonesia.org
Pada zaman dulu, biasanya acara sunat rasul ini dilakukan pada masa liburan kenaikan sekolah. Biasanya pada masa itu, liburan itu bisa selama 30 sampai 40 hari. Dan di masa-masa itulah, anak-anak ramai melakukan sunat rasul. Biasanya anak-anak yang naik kelas tiga atau sampai naik kelas enam.
Zaman dulu sekali, sunat rasul itu diawali dengan berendam di sungai sampai pucat supaya kelamin yang akan disunat itu tidak meng-alami banyak pendarahan. Konon kabarnya, kelamin itu disunat meng-gunakan sembilu yaitu lapisan terluar dari bambu yang sangat tajam.
Setelah masuknya dunia kedokteran maka sunat itu diawali dengan bius supaya anak yang disunat tidak merasa kesakitan. Setelah disunat lalu diperban yang beberapa hari setelah itu perban itu harus dibuka. Bentuk perbannya seperti jaring yang juga seperti nilon. Lalu perban itu disiram dengan air peka hingga akhirnya mengelupas. Pada proses ini sebenarnya agak sakit dari pada sunat itu sendiri. Namun dalam berkembangnya dunia kesehatan, anak-anak sekarang disunat menggunakan laser dan lalu perban yang digunakan tidak lagi dibuka, konon kabarnya perban itu itu langsung menyatu dengan kulit.
Anak-anak pada zaman dulu selalu dinasihati oleh banyak orang supaya tidak boleh makan telor, daging, dan berbagai banyak panta-ngan lainnya seperti tidak boleh menginjak tahi ayam. Sebenarnya apa pula kaitannya terinjak tahi ayam dengan cepat sembuhnya yang disunat? Tapi begitulah anak-anak zaman dulu yang selalu percaya apa yang dikatakan oleh orang yang tua-tua.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau