Naik Haji
Sebuah lagi acara yang sangat istimewa adalah naik haji. Biasanya sebelum keberangkatan si calon haji maka diadakanlah acara syukuran dengan memotong seekor kerbau atau kambing. Dan di zaman dulu pun lamanya perjalanan menuju Mekah bisa lebih satu tahun pulang balik. Lalu apa pun yang terjadi, maka para keluarga pun telah ikhlas jika si calon haji itu tidak kembali. Apa itu karena kecelakaan di jalan atau karena meninggal di tanah suci itu.
Di acara menjamu yang menyembelih seekor kambing itu maka di-undanglah orang-orang kampung untuk makan dan lalu mendoakan si calon haji. Di dalam daftar orang-orang yang diundang itu termasuk pemuka-pemuka masyarakat dan orang-orang terpandang yang terka-dang shalat saja sering malas-malasan lebih suka menghabiskan waktu menggosip di lepau-lepau kopi. Padahal menyisihkan sedikit dari ban-yaknya makanan yang terhidang untuk anak-anak di panti asuhan atau anak-anak yatim tentu semakin afdhal lagi doanya.
Lalu setiap orang pun merasa tergerak dan terpanggil untuk datang ke tanah suci itu untuk melaksanakan rukun islam yang kelima itu. Padahal masjid atau mushala di depan rumahnya yang tidak beberapa langkah itu sangat jarang sekali ia tempuh. Kalau bukan awal rama-dhan tentu ketika ada penyelenggaraan shalat jenazah saja ke sana. Dan kalau tidak hadir apa pula kata orang nanti.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau