MAKAM GOBAH

 

Makam Gobah. Foto: Feni Efendi

Di sudut Nagari Aie Tobik, tepatnya di Balai Jariang, berdirilah sebuah saksi bisu perjalanan waktu. Sebuah gobah makam tua, tanpa nama, tanpa identitas yang jelas, namun menyimpan segudang cerita yang terpendam. Ia berdiri tegak di samping mihrab Surau Belimbing, seolah menjadi penjaga spiritual bagi rumah ibadah yang lebih muda darinya.

      Gobah makam ini bukanlah bangunan megah dengan ornamen mewah. Ia sederhana, terbuat dari batu bata merah yang direkatkan dengan campuran pasir dan kapur, tanpa sentuhan semen modern. Tekstur kasar batu bata dan lapisan kapur yang mengelupas menjadi bukti nyata bahwa bangunan ini telah lama berjuang melawan terpaan cuaca dan waktu. Konon, tingginya mencapai dua meter, na-mun kini telah merendah, seolah ikut merunduk dalam keheningan sejarah. Usia gobah makam ini menjadi misteri yang menarik untuk dipecahkan. Diperkirakan, ia telah ada sebelum tahun 1900 Masehi, bahkan mungkin sebelum abad ke-19. Tanpa prasasti atau catatan sejarah yang tersisa, sulit untuk memastikan siapa yang dimakamkan di dalamnya. Namun, keberadaannya yang berdekatan dengan Surau Belimbing menimbulkan spekulasi bahwa ia mungkin merupakan makam seorang tokoh penting dalam sejarah surau tersebut, seorang alim ulama, atau bahkan seorang pendiri nagari.

     Ketiadaan identitas pada makam ini justru memberikan ruang bagi imajinasi untuk berkembang. Setiap retakan pada batu bata, setiap lumut yang menempel, seolah menyimpan bisikan-bisikan zaman yang ingin disampaikan. Mungkin ini adalah makam seorang pejuang yang gugur dalam pertempuran melawan penjajah, seorang guru yang telah menorehkan ilmu di hati murid-muridnya, atau seorang perempuan yang melahirkan generasi penerus nagari.

     Teknik pembangunan gobah makam ini, dengan menggunakan campuran pasir dan kapur sebagai perekat, mencerminkan kearifan lokal masyarakat Minangkabau pada masa lampau. Mereka memanfaatkan bahan-bahan alami yang tersedia di sekitar mereka untuk membangun tempat peristirahatan terakhir bagi orang-orang yang mereka cintai. Teknik ini juga menunjukkan bahwa pada masa itu, masyarakat telah memiliki pengetahuan tentang konstruksi bangunan yang cukup baik.

     Keberadaan gobah makam ini bukan hanya sekadar peninggalan sejarah, tetapi juga merupakan bagian dari identitas budaya masyarakat Balai Jariang. Ia menjadi pengingat akan masa lalu, akan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pendahulu, dan akan pentingnya menjaga tradisi dan kearifan lokal. Meskipun identitasnya masih menjadi misteri, gobah makam di Balai Jariang tetaplah sebuah warisan berharga yang perlu dijaga dan dilestarikan. Ia adalah sebuah monumen bisu yang menyimpan ribuan cerita, sebuah saksi bisu perjalanan waktu yang terus mengalir, dan sebuah simbol kearifan lokal yang patut kita banggakan. Semoga di masa depan, penelitian lebih lanjut dapat mengungkap tabir misteri di balik gobah makam ini, sehingga kita dapat lebih memahami sejarah dan budaya masyarakat Balai Jariang.

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url