Marosok dan Manakok Hari

 


Prosesi Manakok Hari. Foto: IG @andhisaputera

     Seingat penulis, pada zaman dulu ketika seorang laki-laki menyukai seorang perempuan maka ia akan mencari perempuan yang cukup lebih tua dari perempuan yang disukainya itu untuk menyampaikan bahwa ia menyukai gadis itu atau istilah lainnya mak comblang. Tentu yang namanya mak comblang akan membumbu-bumbui sedikit tentang laki-laki itu agar lebih berasa garamnya kepada wanita yang ditaksirnya itu. Dan sukses atau tidaknya misi itu sebenarnya tergantung mak jomblang, memang berjasa sekali para mak comblang.

     Setelah laki-laki itu mendapatkan informasi bahwa perempuan itu juga menyukainya dari mak comblang maka laki-laki itu menghubungi keluarganya agar dilakukan pendekatan hubungan diplomatik antar kedua keluarga. Atau istilahnya perkenalan dan menyampaikan mak-sud dan tujuan. Biasanya di masa-masa ini, pihak keluarga perempuan meminta waktu agak beberapa hari untuk berpikir. Sebenarnya bukan untuk berpikir tapi mencari tahu tentang bagaimana keluarga laki-laki. Maka dikerahkanlah segala daya dan upaya untuk mencari tahu itu termasuk mengerahkan detektif bayaran, jika perlu. Apakah dari keluarga bangsawan atau tidak; apa kerjanya dan berapa pendapatannya sebulan. Terlibat narkoba atau tidak. Apa ada dari keluarga itu mengalami kawin cerai atau tidak. Atau bisa juga kalau pihak keluarga perempuan itu cukup agamis maka mereka akan mencari tahu apakah laki-laki itu shalat atau tidak. Dan begitulah seterusnya. Lalu setelah data-data dikumpulkan dan dianalisa, jika perlu memakai jasa konsultan perkawinan, maka disampaikanlah hasil keputusan itu kepada keluarga laki-laki.

     Jika saja hasil keputusan itu ingin menyetujui maka tidak dalam waktu beberapa lama setelah itu, pihak keluarga laki-laki akan datang bersama bundo kanduang dan ninik mamaknya untuk menjalani acara manakok hari yang terlebih dahulu didatangi oleh dubalang sebagai tanda melamar. Dan tentu acara itu dilengkapi dengan acara makan-makan dari keluarga perempuan.

     Sekarang, acara marosok itu umumnya tak lebih kepada formalitas karena anak perempuan dan laki-laki di zaman sekarang kebanyakan sudah mengawalinya dengan pacaran. Yang namanya pacaran apa yang tidak terjadi. Ibarat minyak bertemu dengan api lalu apa yang tidak terbakar. Dan itu tidak terjadi di zaman dulu, biasanya laki-laki dan perempuan yang saling menyukai kesempatan bertemunya di acara-acara nagari seperti acara pacu kuda tahunan, acara pacu jawi setiap musim padi, dan itu pun hanya berpandang-pandangan dari jauh. Sesekali perempuan itu tersenyum dan lalu di bully oleh teman-temannya yang lain. Sangat mempesona memang tapi begitulah adat istiadat menjaga laki-laki dan perempuan muda di Minangkabau.

     Jika saja terlihat berduaan oleh orang ramai maka dikatakan orang tidak beradat dan perempuan itu tidak mengerti dengan kata sumbang seperti sumbang tagak, sumbang duduk, sumbang berjalan, dan lalu ujung-ujungnya mamak si perempuan itu yang ditanya orang, “Kemenakan siapa itu?” Lalu sang mamak pun akan mendapatkan gunjingan dan sindiran orang-orang kampung di lapau dan teman sesama per-gaulan.

     Dilihat dari kegiatan marosok sampai manakok hari maka hal itu tak jauh beda dengan kegiatan taaruf yang diimpor dari kebudayan arab. Dan cara taaruf itu sekarang sedang lagi trend-nya. Karena apa-apa yang berasal dari Arab seakan-akan tak bisa lagi dibedakan mana yang budaya, mana yang syariat, dan mana yang aqidah.

     Kegiatan mencari jodoh itu diawali dengan mengirimkan sebuah CV kepada seorang ustadz atau ustadzah. Namun ada baiknya taaruf itu melalui ustadzah. Sebab mana tahu nanti jika perempuan yang akan ditaarufkan dengan kita itu sangat sempurna, bisa-bisa bakalan menjadi istri kedua atau istri ketiga ustadz, ya tidak enak banget kalau acara menikung seperti itu arahnya dari belakang.

     Setelah CV diri kita yang berupa biodata, dan visi, serta misi berke-luarga dikirimkan, dan tak lupa juga foto tampak depan, tampak samping, tampak belakang dikirimkan kepada ustadzah maka ustadzah akan menyesuaikan dengan CV perempuan yang jodoh dicarinya dengan biodata kita. Misalnya perempuan itu menginginkan laki-laki yang beratnya sekian, tingginya sekian, hapalan alqurannya sekian, harus dari kader partai itu, harus dari ormas itu, harus bermazab fikih itu, dan aqidahnya harus itu, dll.

     Jika sudah ada bertemu dua CV yang cocok maka kedua insan itu dipertemukan. Misalnya di rumah ustadzah dengan menambahkan suami ustadzah itu sebagai moderator. Dari pertemuan itu maka laki-laki dan perempuan saling bertanya, misalnya, nanti maunya punya anak berapa? Nanti tinggalnya mau di mana? Nanti setelah menikah apa saya masih boleh menjadi kader partai itu? Dan biasanya hal begini, perempuan lebih banyak bertanya untuk menyakinkan dirinya bahwa laki-laki itu memang pantas untuknya. Sedangkan kalau laki-laki kalau disuruh bertanya paling-paling juga akan mengeluarkan kalimat-kalimat pemungkas seperti, “Untuk membenci saja kita tidak membutuhkan alasan, apalagi dalam soal mencinta, tentu lebih tidak dibutuhkan lagi”.

     Jika perempuan dan laki-laki sama-sama saling menyukai dan sama-sama yakin untuk membangun rumah tangga maka keluarga laki-laki sudah mulai bersiap-siap untuk menjalin hubungan diplomatik antara dua keluarga seperti di atas. Dan jika dikaji benar antara istilah marosok dan taaruf tadi maka kedua caranya hampir persis. Hanya istilahnya saja yang berbeda tetapi isinya sama. Yang satu-satu berbau-bau sya-riah dan yang satu berbau tradisi. 

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url