Orang Jemputan
|
Marapulai jo Anak Daro. Foto: wikipedia |
Setidaknya setengah abad yang lalu masih menjadi musim bagi orang laki-laki Minangkabau beristri banyak, termasuk di Payakumbuh. Biasanya laki-laki itu disebut orang jemputan. Bisa saja ia seorang penghulu, ulama, atau orang terpandang di daerah itu yang nanti bisa mengangkat derajat sebuah kaum istrinya. “Siapa menantu?” dengan sedikit membusungkan dada maka dijawab, “Angku Lareh Fulan atau Datuk Fulan ataupula Buya Fulan”.
Bagaimana jika pada masa itu seorang laki-laki tak mau beristri lebih dari satu? Persoalan itu adalah sebuah aib bagi keluarga istri. Mereka merasa terhina jika sumando mereka belum menikah lagi. Terkadang si istri sendiri yang mencarikan istri seorang lagi bagi suaminya atau bahkan mamak rumah (saudara laki-laki dari istri) yang langsung turun tangan.
Karena begitu banyaknya istri dari suami itu, maka para istri itu pun berlomba-lomba menyenangkan hati suaminya. Jika tiba jatahnya sua-mi menginap di rumahnya maka sang suami pun diberi makan yang enak-enak. Jika suami selesai mandi maka sudah tergantung baju yang bagus dan uang belanja di sakunya. Setiba di halaman pun ketika bertemu mertua atau mamak rumah maka si sumando akan disapa, “Pergi ke mana, menantu?” Lalu jika si sumando mengatakan akan pergi ke kedai kopi maka mertua atau mamak rumah sudah siap pula menyelipkan belanja ke dalam saku si sumando.
Lain lagi kalau orang jemputan itu seorang angku lareh. Terkadang setelah punya anak satu, sang menantu yang angku lareh itu lalu menceraikan istrinya dan menikah lagi dengan perempuan muda di kampung sebelah. Umumnya orang akan takut menikahi janda-janda dari tuanku-tuanku lareh atau tuanku palo itu, begitu juga dengan para janda syekh. Menikahi para janda tuanku-tuanku lareh itu sama saja dengan mencari perkara. Orang-orang pada takut akan mendapatkan masalah jika menikahi janda-janda para tuanku itu. Jangankan meni-kahi jandanya, bertemu dengan kotoran kuda tuanku-tuanku lareh itu saja orang-orang merasa sudah melayang separuh hidupnya.
Adapun jika menikahi janda-janda para syekh itu nanti dikuatirkan bisa kualat. Orang-orang berlomba-lomba menikahi anak gadisnya atau kemenanakan perempuannya kepada para-para syekh yang penuh keramah itu yang tidak lain untuk mendapatkan berkahnya. Jangankah mendapatkan cucu dari menantu seorang syekh itu, air cucian kakinya saja sangat banyak berkahnya dan berlomba-lomba untuk meminumnya. Ataupun apa-apa saja yang dipegang oleh syekh, semua itu penuh berkah. Apakah itu bekas puntung rokoknya, bekas gelas kopinya, ataupun sebuah salam dari seorang syekh. Betul-betul berkah. Dan jangan heran, konon pada zaman dulu, di Payakumbuh ini ada seorang syekh yang istrinya hampir seratus.
Begitulah sebagian laki-laki pada zaman dulu. Sewaktu muda dan gagah punya banyak istri dan diberi kesenangan oleh keluarga istri. Ketika istri meninggal atau sang sumando yang seperti abu di atas tunggul tersinggung di atas rumah, maka mau tidak mau ia harus turun dari rumah itu. Kalau ingin pulang ke rumah induk (rumah gadang kaum ibu), laki-laki tak memiliki tempat di sana. Maka badan buruk pun harus terluntang lantung di balai-balai. Di mana tempat agak ter-teduh, di sanalah badan dibaringkan.
Adapun jika sewaktu kecil pernah mengaji tentulah dapat mengajar anak-anak kampung di surau tinggal. Jika tidak, tentu sang sumando itu harus mencari istri baru. Di sana akan ada yang menyiapkan makannya, menyucikan bajunya, dan juga ada tempat berteduh. Dan jangan heran jika di zaman dulu ketika ada istrinya meninggal maka belum kering kain dijemuran lalu sumando itu sudah menikah lagi.
Banyaknya istri orang-orang zaman dulu, otomatis banyak pula anaknya, terkadang si sumando tadi kurang peduli dengan anak-anaknya. Bahkan terkadang dengan anak-anaknya lupa. Bukan hanya sekedar lupa nama tapi benar-benar lupa yang mana saja anaknya. Jika tidak kuat mencari uang di waktu muda dan mampu mendirikan rumah atau membeli rumah di perumnas subsidi maka di usia tua pun tidak ada lagi yang memperdulikannya. Pulang ke rumah ibu sudah tidak ada tempat namun untung sewaktu muda pernah belajar adzan dan menjadi imam shalat maka bisalah tinggal di surau tinggal. Jika tidak, tentu nasib akan membawa diri tinggal di dangau-dangau orang di tengah kebun.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau