Mangatoan Urang dan Baralek
Pai Mengatoan Baralek. Foto: pasbana.com
Sebelum diadakan acara baralek maka sejumlah ibu-ibu akan pergi mangatoan urang di nagari tersebut. Tergantung dari seberapa besar helatnya. Di sebahagian nagari kalau helatnya kecil cukup dengan mem-bantai kambing dan anak daro sudah boleh memakai suntiang dan berpelaminan. Dan biasanya orang yang dikatoan atau diundang lingkup wilayahnya hanya sebatas satu kelurahan atau dua atau tiga RT terdekat saja.
Sedangkan kalau berhelatnya membantai sapi maka wilayah lingkup orang yang akan diundang semakin besar. Dan untuk orang yang datang baralek itupun tidak boleh juga memakai baju sembarangan. Kalau ia seorang bundo kanduang maka akan berpakaian bundo kanduang. Begitupun dengan berhelat besar dengan membantai kerbau maka semakin besar pula tuah yang akan disandang oleh keluarga atau kaum yang baralek itu. Maka dengan begitu, tidak apa-apa juga sawah-sawah yang berjenjang-jenjang di baruah itu dipergadaikan satu per satu. Apa pula nanti kata orang jika acara perkawinan itu hanya mendoa dengan memecahkan dua atau tiga telur tentu akan semakin dibawa lalunya kita oleh orang kampung. Lalu dengan membantai kerbau begini maka semakin seganlah orang kepada kita. Meski dua atau tiga piring sawah yang di baruah itu terpaksa juga digadaikan.
Untuk acara baralek itu yang akan dikatakan tentu orang-orang yang berbangsa terlebih dahulu. Mamak atau penghulu kaum memiliki daftar nama siapa saja yang akan diturut oleh kemenakan-kemenakan di bawah lutut yang selalu patuh dan penurut. Sangat aib sekali dan kurang patut jika kemenakan-kemenakan itu tidak menurut kepada mamaknya. Bukankah kemenakan be-raja ke mamak dan mamak be-raja ke penghulu maka dengan begitu apa kata mamak adalah kata diturut.
Nama-nama yang ada di dalam catatan mamak biasanya nama-nama penghulu sesuku berada di paling atas, setelah itu penghulu-penghulu dari suku lain. Selain itu nama-nama sumando juga tidak boleh dilupakan. Jika ada yang terlupa dari daftar nama-nama penting itu maka betapa sangat tersinggungnya yang bersangkutan. Ia merasa telah dipandang sebelah mata dan kehilangan tuah dan wibawa. Bisa-bisa berkerat rotan orang jadinya. Padahal sebenarnya persoalan itu orang-orang yang disuruh mangatoan kemarin kehabisan waktu dari sore sampai malam tapi tidak juga selesai. Bisa karena disebabkan oleh cuaca hujan sehingga daftar-daftar nama itu tidak selesai terkatakan semuanya.
Dalam mangatoan urang tidak juga boleh berpakain sembarangan. Berbaju gunting cina, celana batik atau pantolan dan peci. Jika peci saja yang lupa maka ditegur oleh sang mamak. Selain itu juga membawa carano dengan sudah dilengkapi sirih di dalamnya, gambir, dan rokok. Jika saja orang yang dikatakan tidak di rumah maka diselipkanlah daun puding di sela-sela pintu pertanda tadinya ada orang yang mengabarkan baralek. Dan tidak heran jika pagar-pagar rumah orang dahulu disisipi tanaman puding agak dua atau tiga batang. Sebab jika nanti ada yang mengabarkan baralek maka sudah tersedia daun puding di pagar halaman. Namun jika orang lain yang di rumah, pesan itu bisa ditinggalkan dengan meletakkan sebatang rokok yang dititipkan kepada salah seorang yang ada di rumah itu.
Dalam mengatoan urang itu, biasanya pihak perempuan melakukan dua hari sebelum baralek. Sedangkan pihak laki-laki akan mengatoan sehari sebelelum baralek. Dan tepat pada hari itu juga kambing atau sapi disembelih oleh malin. Lalu anak-anak muda yang belum menikah umumnya beramai-ramai datang menyaksikan acara membantai kambing itu lalu bersama-sama pula membersihkannya.
Zaman sekarang, acara mangatoan urang juga ditambahkan dengan menyebar undangan untuk menghadiri acara baralek itu. Dan ter-kadang orang yang diundang itu sangat sibuk sehingga tidak bisa datang maka kehadirannya diwakilkan dengan mengirimkan papan bunga ucapan selamat kepada kedua pengantin. Semakin banyak papan bunga yang berjejer di halaman rumah pengantin itu maka semakin tinggi pulalah derajatnya dalam segi pergaulan sosial. Berarti keluarga yang baralek itu orang-orang yang berpengaruh sehingga relasinya kebanyakan dari orang-orang besar. Si Anu juga dia ternyata.
Setelah kambing atau sapi atau kerbau selesai dibersihkan maka tukang masak sudah mulai memberikan intruksi kepada anak-anak muda di situ untuk memulai proses menumis daging. Proses menumis daging itu dibuat di sebuah tungku di belakang rumah. Atapnya dari terpal saja karena kuatir nanti jika terjadi hujan. Tapi ketika tungku masak tadi mulai dihidupkan apinya maka mulai sejak itu pawang hujan juga telah berada pula di sana. Biasanya tungku untuk tumis atau gulai ada tiga dan ditambah tungku jerang air serta tungku untuk menjerang nasi. Nah, khusus untuk tungku jerang air ini di bawah pengawasan pawang hujan. Tungku ini harus selalu dijaga. Api atau baranya harus selalu hidup. Tidak boleh disiram air, jika tersiram air maka hilanglah kesaktian pawang hujan dan ia tidak boleh lagi disalahkan jika hari hujan. Dan pawang hujan selalu mewanti-wanti kepada tuan rumah agar selalu menjaga tungku untuk menjerang air itu. Sebab bisa saja ada orang yang usil atau iri maka orang itu menyiram tunggu itu sehingga hujan lebat turun dan rusaklah acara bahagia itu.
Sedangkan di tungku-tungku lain, tukang masak mulai menumis daging setelah kambing atau sapi selesai dibersihkan di sore itu. Biasa-nya tiga tungku dengan kuali besar sudah terletak di atas tunggu yang apinya sudah dihidupkan. Lalu bahan-bahan tumis itu dimasukkan ke dalam semua kuali besar itu. Setelah cukup maka daging pun dimasukkan pula ke dalam kuali. Maka sampai di sini proses menumisnya selesai. Sebagian di derah lain proses memasak ini namanya membuat kari. Lalu dimasukan ke dalam wadah besar seperti baskom yang berbahan seng.
Biasanya proses tumis atau kari itu selesai sekitar jam 21.000 atau 22.00 WIB jika dimulai sejak sore. Dan tumis atau kari daging itu selesai tujuh baskom. Maka proses di tungku belakang pun selesai. Sedangkan kaum ibu-ibu sudah mulai meracik di tengah rumah sambil bergosip seadanya. Mulai dari meracik bawang merah, buncis, bawang putih, keladi, rebung, dll yang biasanya terkadang selesai hingga sampai dini hari menjelang subuh. Maka dari itu, tuan rumah biasanya mengundang tukang dendang untuk bersaluang di malam itu agar para-para ibu-ibu tidak mengantuk meracik bahan-bahan dapur.
Lain pula dengan rombongan remaja, mereka akan mendekorasi rumah tempat baralek dengan berbagai hiasan. Mulai dari ucapan selamat datang, mohon doa restu, membuat hiasan tonggo, dll. Semua itu berkumpul antara muda-mudi. Dan tentu benih-benih asmara juga turut tumbuh di saat itu. Tapi yang namanya di kampung, sangat tidak baik kalau laki-laki dan perempuan terlihat bermesraan di depan gelanggang mata orang banyak.
Sedangkan di halaman, di depan pentas pergurauan saluang, laki-laki dewasa akan berkumpul enam-enam orang semeja untuk bermain ceki. Tentu teko-teko yang besisi kopi dan gelas-gelas juga turut meramaikan cara gurau dan main ceki di halaman. Kalau tidak begitu nanti akan tersebut benar tuan rumah tidak melayani tamu dan sangat perhitungan dengan gula dan kopi.
Di dapur, mulai sejak dini hari, kerabat-kerabat si tuan rumah sudah mulai mengukur kelapa. Bayangkan untuk satu kuali daging yang ditumis atau dikari tadi nanti akan dijadikan gulai. Satu kuali mem-butuhkan 10 hingga 15 buah kelapa. Tergantung seberapa besar dan kecilnya kelapa itu. Anggap saja satu kuali 10 buah kelapa maka akan ada 70 buah kelapa yang akan dikukur. Jika mesin kukurnya ada dua atau tiga mungkin bisa selesai antara dua atau tiga jam. Dan setelah kelapa itu dikukur maka kaum ibu-ibu itu akan memeras santan itu menggunakan gacik hingga selesai pagi. Dan selesai santan itu diperas maka tidak lama setelah itu tukang masak semalam tiba lagi. Maka dengan instruksi-instruksi tukang masak itu lalu dihidupkan lagi api di tungu-tunggu itu. Kuali tadi masukan tumis daging semalam dan ketika sudah mendidih lalu dimasukkanlah santan yang sudah ditentukan ukurannya tadi.
Di dalam menunggu proses kari atau tumis daging tadi menjadi gulai maka santan yang telah dimasukkan ke dalam kuali tadi diaduk. Mengaduknya tidak boleh pula sembarang. Terlalu sering nanti gulainya bisa rusak dan tidak enak maka instruksi dan pengalaman dari tukang masak sangat dibutuhkan. Sembari menunggu gulai masak, tu-kang masak memasukkan bumbu-bumbu yang telah dipersiapkan, dan jika gulai telah mendidih maka racikan keladi sudah bisa dimasukkan pula ke dalam kuali. Kalau bukan bersama ahlinya, gulai keladi ini akan terasa gatal di lidah. Maka dari itu, proses pemilihan keladi itu ada juga aturannya. Tidak boleh sembarangan pilih. Kalau kita mengetahuinya jenis seperti apa batang keladi yang baik dan tidak gatal ketika dimasak maka keladi yang dimasak nanti bakalan enak dan tidak gatal.
Gulai kambing keladi ini hanya ada di Nagari Tiakar Payobasung. Se-baiknya makananan ini dipatenkan karena tidak beberapa orang yang pandai memasak gulai kambing keladi ini. Sama seperti rendang pisang, hanya di Nagari Tiakar saja dibuat. Di Nagari Tiakar pun hanya sekitar dua atau tiga orang yang bisa membuat. Kalau hanya sekedar bisa membuat banyak tapi mana rendang pisang yang enak tidak semuanya. Dan rendang pisang ini termasuk salah satu menu utama di acara baralek di Nagari Tiakar. Begitu juga dengan pindik yang menjadi makanan khas dari Nagari Tiakar. Sebenarnya setiap nagari memiliki keunikan makanan khas nagari masing-masing namun semua itu belum tergali.
Ketika proses menggulai itu maka satu per satu ninik mamak atau orang yang dikatoan kemarin berangsur datang. Kalau ia datuk maka ia akan duduk-duduk di kursi melihat orang menggulai dari jauh-jauh sembari bincang-bincang dengan para ninik mamak di sebelahnya. Para ninik mamak itu berpakaian baju batik, celana pantolan, dan peci. Sedangkan bagi yang muda-muda, berbagu kaos atau bercelana setinggi lutut biasanya segan duduk di dekat para ninik mamak itu. Mereka akan lebih memilih duduk di sekitaran tungku dapur belakang sambil bercanda-canda dengan tukang masak beserta pawang hujan yang juga sudah berada di situ. Biasanya obrolan seputar siapa yang belum nikah maka habislah dibully oleh teman-teman sebaya. Maka dengan begitu hatinya pun panas untuk cepat-cepat pula baralek agar tidak dibully pula oleh teman sebaya seperti di acara-acara seperti itu.
Ketika gulai semuanya masak, maka 6 baskom dari yang berjumlah 7 baskom tadi dimasukkan ke dalam sebuah kamar dan kamar itu dikunci. Sedangkan satu baskom itu akan dijadikan makan bersama para ninik mamak itu di dalam rumah di pagi itu. Bagi mereka yang muda dan tidak memakai pakaian yang sopan maka mereka akan makan di dapur bersama tukang masak dan tukang pawang hujan. Dan tentu gulai daging yang satu baskom tadi akan cepat kandasnya. Jika saja semua gulai yang berjumlah tujuh baskom tadi diletakkan pula di luar maka tentu juga akan ikut kandas dengan beralihnya gulai-gulai itu ke dalam termos atau panci atau plastik sebelum para hadirin itu pulang ke rumah masing-masing. Maka oleh sebab itulah ketika sebuah gulai selesai dimasak maka langsung dimasukkan ke dalam sebuah ruangan dan dikunci oleh orang kepercayaan tuan rumah.