Fakultas Adab IAIN Imam Bonjol di Payakumbuh

 


    

Gedung Bekas Fakultas Adab IAIN di UMSM Payakumbuh sekarang. Foto Feni Efendi

 

Payakumbuh, kota yang dikenal dengan kekayaan budaya dan tradisi Islamnya, menyimpan jejak sejarah pendidikan tinggi Islam yang menarik. Salah satunya adalah keberadaan Fakultas Adab yang pernah bernaung di bawah IAIN Imam Bonjol Padang. Kisah ini bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan cerminan dinamika pendidikan Islam di Indonesia, khususnya di Payakumbuh, yang mengalami pasang surut seiring perubahan zaman.

     Pada awal dekade 1960-an, Payakumbuh menghadapi fenomena meningkatnya jumlah lulusan madrasah. Yayasan Imam Bonjol Padang, di bawah kepemimpinan Drs. Azhari, merespons kebutuhan ini dengan mendirikan tiga fakultas: Ushuluddin di Padang Panjang, Syariah di Bukittinggi, dan Adab di Payakumbuh. Fakultas Adab yang berlokasi di Ma'had Islami dengan Buya H. Izzuddin Marzuki, LAL sebagai dekan pertama, menandai babak baru dalam sejarah pendidikan Islam di kota ini.

     Namun, perjalanan Fakultas Adab di Payakumbuh tidak berlang-sung lama. Pada tahun 1966, fakultas ini dinegerikan dan dipindahkan ke Padang, menjadi bagian integral dari IAIN Imam Bonjol. Kepindahan ini meninggalkan kekosongan di Payakumbuh, yang kemudian diisi dengan pendirian Perguruan Tinggi Islam non-degree oleh Ma'had Islami. Perguruan tinggi ini mengalami transfor-masi, dari akademi syariah dan dakwah hingga penggabungan dengan PTI Training College Payakumbuh.

     Sejarah Fakultas Adab di Payakumbuh tidak dapat dipisahkan dari konteks politik dan sosial yang melingkupinya. Masa pemerintahan PRRI (1958-1961) membawa dampak signifikan, dengan penutupan sekolah-sekolah dan keterlibatan pelajar dalam konflik. Demikian pula, masa Orde Baru menghadirkan tantangan tersendiri bagi pendidikan Islam, dengan fokus pemerintah pada pendirian sekolah-sekolah umum. Sekolah-sekolah agama, termasuk di Payakumbuh, menghadapi tekanan dan mengalami penurunan jumlah siswa.

     Kisah Fakultas Adab IAIN Payakumbuh memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya adaptasi dan inovasi dalam pendidikan Islam. Meskipun mengalami perubahan lokasi dan status, semangat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan Islam tetap hidup di Payakumbuh. Transformasi perguruan tinggi Islam di kota ini, dari non-degree hingga akademi, menunjukkan upaya berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

     Saat ini, di tengah tantangan globalisasi dan modernisasi, pendidikan Islam di Payakumbuh perlu terus berbenah. Warisan sejarah Fakultas Adab dapat menjadi inspirasi untuk mengembangkan lembaga pendidikan yang berkualitas, yang mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan zaman. Perlu adanya revitalisasi pendidikan agama yang tidak hanya berfokus pada aspek teologis, tetapi juga pada pengembangan keterampilan praktis dan pemahaman yang mendalam tentang konteks sosial budaya.

     Dengan memahami sejarah dan belajar dari pengalaman masa lalu, Payakumbuh dapat terus memperkuat posisinya sebagai pusat pendidikan Islam yang berkualitas dan relevan. Fakultas Adab, meskipun tidak lagi berlokasi di kota ini, tetap menjadi bagian dari identitas dan warisan pendidikan Islam Payakumbuh, mengingatkan kita akan pentingnya komitmen terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan pembentukan generasi yang berakhlak mulia.   

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url