HIS di Lokasi SMP Pajakoemboeh
Di jantung kota Payakumbuh, berdiri megah SMP Negeri 1, sebuah institusi pendidikan yang kini berstatus rintisan sekolah bertaraf internasional. Namun, di balik kemegahan dan modernitasnya, tersembunyi jejak sejarah panjang yang sarat dengan kontradiksi dan perjuangan. Bangunan utama sekolah, berbentuk huruf L yang masih kokoh berdiri, menjadi saksi bisu dari masa lalu ketika tempat ini dikenal sebagai Hollandsch Inlandsche School (HIS), sebuah sekolah elit yang hanya diperuntukkan bagi anak-anak pejabat pemerintah kolonial Belanda.
Didirikan pada 7 September 1946, seperti yang tertera pada piagam ucapan selamat ulang tahun ke-10 yang tersimpan di galeri sekolah, HIS Payakumbuh menjadi simbol dari segregasi pendidikan yang diterapkan oleh pemerintah kolonial. Anak-anak pribumi, yang mayoritas, hanya bisa mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat dengan kualitas yang jauh di bawah standar HIS. Kondisi ini menciptakan jurang pemisah yang lebar dalam akses pendidikan, merefleksikan hierarki sosial yang dijunjung tinggi oleh penjajah.
Namun, semangat pendidikan tidak pernah padam di kalangan masyarakat Payakumbuh. Keterbatasan akses ke sekolah-sekolah pemerintah tidak menghalangi mereka untuk mencari ilmu. Sumatera Thawalib dan Diniyah Putri Padang Panjang menjadi alternatif utama bagi anak-anak Payakumbuh yang ingin melanjutkan pendidikan setelah tamat Sekolah Rakyat. Kedua institusi pendidikan Islam ini menjadi pusat pengembangan intelektual dan spiritual bagi generasi muda pribumi, menanamkan nilai-nilai keagamaan dan nasionalisme yang kuat.
Masa revolusi menjadi titik balik yang signifikan dalam sejarah pendidikan di Payakumbuh. Laporan perjalanan Muhammad Radjab dalam bukunya "Catatan di Sumatera" memberikan gambaran yang jelas tentang kondisi pendidikan pada masa itu. Meskipun jumlah sekolah meningkat dan minat belajar masyarakat tinggi, kualitas pendidikan justru mengalami penurunan drastis. Radjab mencatat, "Kelas 3 SMP sekarang tidak lebih tinggi dari kelas 5 HIS dulu," sebuah pernyataan yang mencerminkan dampak perang dan ketidakstabilan politik terhadap sistem pendidikan.
Kondisi ini menunjukkan betapa besar pengaruh sistem kolonial terhadap pendidikan di Indonesia. Meskipun HIS telah lama ditinggalkan, warisannya masih terasa dalam kesenjangan kualitas pendidikan yang dihadapi oleh masyarakat. Namun, di sisi lain, semangat pendidikan yang ditunjukkan oleh masyarakat Payakumbuh, dengan memilih pendidikan alternatif seperti Sumatera Thawalib dan Diniyah Putri, menunjukkan ketahanan dan keinginan kuat untuk memperoleh ilmu pengetahuan.
Kini, SMP Negeri 1 Payakumbuh berdiri sebagai simbol transformasi pendidikan di Indonesia. Dari sekolah elit kolonial, institusi ini telah berkembang menjadi sekolah yang inklusif dan berorientasi pada kualitas. Jejak HIS yang tersisa, berupa bangunan utama yang masih kokoh, menjadi pengingat akan masa lalu yang penuh tantangan, sekaligus menjadi inspirasi untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan bagi generasi mendatang. Sejarah HIS di Payakumbuh adalah bagian dari narasi panjang perjuangan bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan dan membangun sistem pendidikan yang adil dan merata.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau