Sajoon Institoot (Tutup Tahun 1937)

 


Foto: Andiko Jumarel

 

Di antara hiruk pikuk Pasar Penampuang, Payakumbuh, berdiri sebuah bangunan yang menyimpan jejak sejarah pendidikan di masa kolonial Hindia Belanda. Bangunan itu adalah bekas Sajoon Institoot, sebuah sekolah yang didirikan oleh Lan Sayoon Soelthan H. Moehammad Noer, yang mengajarkan keterampilan mengetik pada zamannya. Keberadaan Sajoon Institoot bukan sekadar catatan sejarah, melainkan bukti nyata semangat pendidikan yang telah mengakar di tanah Minangkabau sejak dahulu kala.

     Pendirian Sajoon Institoot oleh Lan Sayoon Soelthan H. Moehammad Noer pada masa kolonial menunjukkan visi jauh ke depan. Di tengah keterbatasan akses pendidikan, beliau melihat pentingnya keterampilan praktis seperti mengetik. Keterampilan ini, pada masa itu, merupakan modal berharga untuk memasuki dunia kerja yang semakin modern. Sajoon Institoot menjadi wadah bagi generasi muda untuk menguasai keterampilan tersebut, membuka peluang bagi mereka untuk meraih masa depan yang lebih baik.

     Lokasi Sajoon Institoot yang strategis, di dekat Pasar Penampuang, menunjukkan kedekatan sekolah ini dengan denyut nadi kehidupan masyarakat. Pasar, sebagai pusat ekonomi dan sosial, menjadi tempat bertemunya berbagai lapisan masyarakat. Keberadaan sekolah di lokasi ini memudahkan akses bagi masyarakat untuk mendapatkan pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa Lan Sayoon Soelthan H. Moehammad Noer ingin agar pendidikan dapat dijangkau oleh semua kalangan, tanpa terkecuali.

     Keberadaan bangunan Sajoon Institoot yang masih terawat hingga kini menjadi saksi bisu perjalanan panjang sejarah pendidikan di Payakumbuh. Bangunan ini bukan sekadar peninggalan arsitektur, melainkan simbol dari semangat dan dedikasi seorang tokoh pendidikan yang telah memberikan kontribusi besar bagi masyarakat. Upaya pelestarian bangunan ini menunjukkan penghargaan terhadap sejarah dan warisan budaya yang berharga.

     Keterkaitan keluarga pendiri Sajoon Institoot dengan tokoh-tokoh penting di Payakumbuh, seperti Andiko Jumarel yang pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga, menunjukkan bahwa semangat dan nilai-nilai yang ditanamkan oleh Lan Sayoon Soelthan H. Moehammad Noer terus diwariskan dari generasi ke generasi. Hal ini menunjukkan bahwa warisan Sajoon Institoot tidak hanya terbatas pada bangunan fisik, tetapi juga pada nilai-nilai luhur yang terus hidup dan berkembang dalam masyarakat.

     Sajoon Institoot bukan sekadar sebuah sekolah mengetik. Ia adalah simbol dari semangat pendidikan, dedikasi, dan visi jauh ke depan. Keberadaannya menjadi pengingat bahwa pendidikan adalah kunci kemajuan bangsa, dan bahwa setiap individu memiliki peran penting dalam membangun masa depan yang lebih baik. Warisan Sajoon Institoot, yang terawat dengan baik, adalah sebuah inspirasi bagi generasi muda untuk terus belajar dan berkarya, serta untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya yang berharga.

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url