Kampung Cina di Pajacombo

 

Kereta Api di Pajacombo. Foto antara tahun: 1935. Koleksi: KITLV. Nomor Inventaris: KITLV 52783. Fotografer: tidak diketahui

     Setidaknya ada tiga Kampung Cina terbesar di Sumatera Barat yaitu Padang, Bukittinggi, dan Payakumbuh. Sedangkan untuk Kota Padang, kota ini sudah melakukan kerjasama dalam perdagangan dengan China sejak awal tahun 1800.

     Kampung Cina di Payakumbuh ini diperkirakan sudah ada sejak kedatangan Belanda di Pasar Payakumbuh itu. Dan sejauh memori kolektif masyarakat Payakumbuh bahwa pasar itu sudah dirintis sejak tahun 1400. Dan pemerintah Hindia Belanda meresmikannya pasar ini pada 12 Desember 1912.

     Kampung Cina di Payakumbuh terletak di Lundang, Kelurahan Parit Rantang. Dan di Kampung China Payakumbuh ini pernah ada seorang tokoh yang mendirikan surat kabar terbesar di Indonesia hingga saat ini. Namanya P.K. Ojong, seorang pendiri surat kabar Kompas yang tertulis "Harian untuk Umum" yang terbit sejak 28 Juni 1965.

     P.K. Ojong lahir 25 Juli 1920 di De Cock (Bukittinggi). Ia mengha-biskan masa kecilnya dan bersekolah di Pajacombo. Ia bersekolah di Hollandsch Chineesce School yaitu lokasi SMP Fidelis sekarang. Ayah-nya bernama  Auw Jong Pauw, seorang perantau dari Taiwan ke Sumatera Barat dan menjadi juragan tembakau terbesar di Pajacombo. Saat P.K. Ojong kecil di Pajacombo, mobil yang jum-lahnya belum sampai hitungan jari, maka salah satu pemilik mobil itu adalah ayahnya P.K. Ojong. Sekarang rumah P.K. Ojong dijadikan Gereja Bethel Indonesia (GBI) Payakumbuh yang beralamat di Jalan Jakarta No. 21, Parik Rantang.

     Awal kedatangan warga keturunan Tionghoa itu sejalan dengan kedatangan pemerintah kolonial Belana. Di Luhak Lima Puluh ini Be-landa sudah masuk sejak tahun 1832. Dan rombongan besar lainnya datang sejalan dengan dibangunnya jalur kereta api ke Pajacombo. Wilayah yang ditempati di awal kedatangan sekitar Batang Agam sampai ke Bukik Panjamuran Limbukan (Pemakaman sekarang) dengan usaha bertani , tukang perabot, dan beternak babi. Dan pada tahun 1915 tercatat pejabat urusan Cina [H. N.] Stuart dan Tjoa Sien Hie dalam urusan perdagangan dan kemudian Goan Tjoan Ge  pemilik Firma Goan Soen Hin dan Tjoa Kong Bie pemilik Tjoa SP perusahaan temba-kau dan gambir terbesar di Pajacombo dan Tjoei Lay Njo pemilik Firma Tjong Hin & Co (Saiful Guci, 2020).

     Dalam urusan pasar di Pajacombo, Saiful menuliskan, etnis Tionghoa dalam Institusi Pemerintahan sebagai Polisi Keamanan Kapiten Cina. Merujuk dalam Regeerings Almanak Hindia Belanda, tahun 1931 Luitenant der Chinezen  Pajakoemboeh adalah Tjoa Kong Bie atau dipanggil Kapiten Cina. Tjoa Kong Bie adalah Kapitein Tionghoa perta-ma di Pajakoemboeh diangkat 12 Oktober 1918  dan  26 Juli 1938 Tjoa Kong Bie dilantik menjadi anggota Minangkabau-Raad oleh A.J. Spits Gouverneur van Sumatera. Jabatan sebagai  Kapiten Cina di Pajacombo digantikan oleh Tjon Seng Lian untuk memangku jabatan Luitenant der Chinezen  Pajacombo  sejak 19 Maret 1939.

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url