Kawasan Kampung Cina di Payakumbuh
Foto Kantor Himpunan Sosial Ziarah Makam di Kampung Cina. Foto: Feni Efendi
Payakumbuh menyimpan jejak sejarah yang kaya, salah satunya adalah keberadaan Kawasan Kampung Cina. Terletak di wilayah Lundang Parit Rantang dan sebagian Nunang, kawasan ini menjadi saksi bisu akulturasi budaya dan jejak peranakan Tionghoa yang telah berakar kuat di tanah Minangkabau. Jalan-jalan seperti Sutan Usman, Ahmad Yani, dan Jakarta menjadi arteri utama kehidupan komunitas Tionghoa di kota ini, menyimpan kisah panjang tentang perdagangan, budaya, dan tokoh-tokoh penting yang pernah singgah.
Lebih dari sekadar permukiman, Kampung Cina Payakumbuh adalah lanskap sejarah yang dihiasi bangunan-bangunan tua, saksi bisu perjalanan waktu. Sebagian besar bangunan di kawasan ini telah berdiri lebih dari setengah abad, bahkan beberapa di antaranya berasal dari awal 1900-an. Kompleks Pertokoan Penang Elektronnik, Toko Putra Jaya, dan Toko HM (ANNO 1917) adalah beberapa contoh bangunan yang memancarkan pesona arsitektur kolonial, mengingatkan kita pada masa kejayaan perdagangan di masa lampau. Eks Kantor Walikota, Es Rumah P.K. Ojong, Joe Salon (Eks. Ultra Video Rental), Bioskop Karya, dan Kompleks Pertokoan Bofet Sianok, meskipun mungkin telah mengalami perubahan fungsi, tetap menyimpan memori kolektif tentang kehidupan komunitas Tionghoa di Payakumbuh.
Keberadaan tokoh-tokoh penting seperti Yu Da Fu, seorang pahlawan nasional Cina yang pernah singgah di Payakumbuh, dan P.K. Ojong, pendiri harian Kompas yang lahir dan besar di kawasan ini, menambah nilai historis Kampung Cina. Yu Da Fu, dengan semangat nasionalismenya, mungkin telah menemukan inspirasi di tengah keramaian kota kecil ini. Sementara P.K. Ojong, dengan visi jurnalistiknya, mungkin telah mengasah kepekaan sosialnya di antara interaksi budaya yang kaya di Kampung Cina. Keberadaan mereka menunjukkan bahwa Payakumbuh, meskipun kecil, telah menjadi tempat persinggahan bagi tokoh-tokoh besar yang berkon-tribusi pada sejarah Indonesia dan Tiongkok.
Namun, di tengah kekayaan sejarah dan budaya ini, perhatian terhadap pelestarian bangunan-bangunan bersejarah di Kampung Cina masih terbilang minim. Hingga saat ini, hanya Rumah N 303 yang telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya oleh Pemerintah Kota Payakumbuh. Padahal, bangunan-bangunan lain di kawasan ini memiliki potensi besar untuk menjadi daya tarik wisata sejarah dan budaya, sekaligus menjadi media pembelajaran bagi generasi muda tentang sejarah akulturasi budaya di Payakumbuh.
Penetapan Rumah N 303 sebagai cagar budaya adalah langkah awal yang positif. Namun, langkah ini perlu diikuti dengan upaya pelestarian yang lebih komprehensif. Pemerintah kota, bersama dengan komunitas lokal dan para ahli sejarah dan arsitektur, perlu bekerja sama untuk mengidentifikasi, mendokumentasikan, dan melestarikan bangunan-bangunan bersejarah lainnya di Kampung Cina.
Pelestarian Kampung Cina bukan hanya tentang menjaga bangunan-bangunan tua. Lebih dari itu, pelestarian ini adalah tentang menjaga memori kolektif, menghargai warisan budaya, dan memperkuat identitas kota. Dengan melestarikan Kampung Cina, Payakumbuh dapat memperlihatkan kepada dunia kekayaan sejarah dan budaya yang tersembunyi di balik pesona kota kecilnya. Kampung Cina bukan hanya sekadar kawasan permukiman, tetapi juga sebuah museum hidup yang menyimpan kisah panjang tentang akulturasi budaya, perdagangan, dan tokoh-tokoh penting yang pernah mewarnai sejarah Payakumbuh.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau