Lomba Layang-layang
Loma Layang-layang. Foto: sindonews.com
Orang-orang tua dulu jika melihat sudah muncul musim layang-layang maka mereka gembira dan bersyukur. Karena dengan adanya musim layang-layang itu maka pertanda musim panen padi di tahun ini akan membaik. Apa benar apa tidak namun begitulah orang-orang tua dahulu membaca alam. Mereka melihat dengan rasa. Mata batin lebih tajam dari indera penglihatan yang tampak ini.
Untuk lomba layang-layang ini sekarang sudah tidak begitu populer lagi seperti di tahun 1980-an dan 1990-an. Saya ingat di pertengahan tahun 1990-an, di gelanggang pacuan kuda Kubu Gadang itu banyak sekali peserta lomba layang-layang. Sekali lepas saja, entah berapa puluh jumlah layang-layang di udara. Dan jika beruntung arah angin menuju Timur ke arah rumah saya, anak-anak seumuran saya dari SD hingga SMA sudah bersiap-siap menunggu layang-layang itu putus satu per satu di dalam perlombaan.
Jika putus saja satu layang-layang, tanpa perlu dikomando, semua anak-anak yang menunggu layang-layang putus itu serentak berlari ke mana layang-layang putus dibawa angin. Terkadang tersangkut di pohon kelapa dipanjat. Tersangkut di rumpun bambu akan diusahakan menurunkannya. Setelah layang-layang itu dapat secara berebut maka sang pemilik layang-layang akan datang menebus layang-layangnya. Saat itu harga tebus sebuah layang-layang bisa seribu atau dua ribu rupiah. Kira-kira hampir seharga sebungkus rokok pada zaman ini.
Sekarang permainan layang-layang tidak begitu populer dimainkan. Sedangkan dahulu, hadiah perlombaan layang-layang bisa berupa seekor kambing. Ada juga sebuah layang-layang unik yang dimain oleh bapak-bapak di kampung ketika kecil. Namanya “layang-layang de-ngung”. Ukuranya besar sekali. Ada sekitar dua meter lebih dan tinggi satu meter. Dan di antara ujung bingkai kanan ke ujung bingkai kiri dipasang dawai yang terbuat dari pita kaset video film.
Untuk menaikkan layang-layang ini memakai tali yang biasanya dijadikan untuk mengikat kambing. Dan ketika sudah tiba di udara, la-yang-layang itu bersuara karena digetarkan oleh angin. Hingga seka-rang, dengung layang-layang itu seakan-akan masih berdengung me-ngusik hijaunya masa kecil. Dan saya yakin bukan hanya saya seorang yang merasakannya.
Di beberapa daerah saat ini, sering diadakannya lomba-lomba layang hias. Ada yang berbentuk kupu-kupu, naga, capung, pesawat, yang menjadi lomba dan hiburan untuk ditonton. Namun sayang sekali di Payakumbuh belum ada organisasi atau badan yang mengelola itu. Pa-dahal sangat bangus diadakan di Batang Agam yang jumlah pengun-jung selalu membludak setiap sore dan hari libur.
Di tengah hamparan sawah yang menghijau dan perbukitan yang menjulang, pada masa lampau seringkali dihiasi oleh warna-warni layang-layang yang beradu. Lebih dari sekadar permainan, lomba layang-layang bagi masyarakat zaman dulu merupakan sebuah hiburan yang sarat akan makna, tradisi, dan kebersamaan. Layang-layang, atau olang-olang kapanjang dalam Bahasa Payakumbuh, bukan hanya sekadar mainan anak-anak. Ia merupakan bagian dari kehidupan masyarakat, terutama para petani. Setelah musim panen tiba, ketika angin berhembus kencang, lapangan-lapangan luas akan dipenuhi oleh orang-orang yang antusias menerbangkan layang-layang mereka. Lomba layang-layang menjadi ajang silaturahmi, di mana masyarakat dari berbagai nagari berkumpul untuk bersaing dan merayakan kebersamaan.
Proses pembuatan layang-layang pun tidak kalah menarik. Dibuat dari bambu yang dihaluskan dan kertas minyak berwarna-warni, layang-layang Minangkabau memiliki beragam bentuk dan ukuran. Ada yang berbentuk burung garuda, ikan, atau bahkan rumah gadang. Setiap bentuk memiliki makna tersendiri, mencerminkan kreativitas dan kearifan lokal masyarakat Minangkabau.
Lomba layang-layang bukan sekadar adu ketinggian atau keindahan. Lebih dari itu, ia merupakan simbol kebebasan dan kegembiraan. Layang-layang yang melayang tinggi di angkasa seolah membawa serta harapan dan impian masyarakat. Suara desingan tali layang-layang yang diterpa angin menjadi melodi yang menenangkan, menghilangkan penat setelah seharian bekerja di sawah. Selain itu, lomba layang-layang juga menjadi ajang untuk menguji keterampilan dan keberanian. Para peserta harus mampu mengendalikan layang-layang mereka agar tidak jatuh atau terputus talinya. Keahlian dalam membaca arah angin dan mengatur tali layang-layang menjadi kunci kemenangan. Tak jarang, terjadi persaingan sengit di antara para peserta, namun tetap dalam suasana yang penuh persaudaraan.
Seiring berjalannya waktu, tradisi lomba layang-layang mulai mengalami perubahan. Modernisasi dan perkembangan tekno-logi membawa hiburan baru yang lebih praktis dan instan. Namun, kenangan akan layang-layang yang melayang di langit Payakumbuh tetap tersimpan dalam ingatan masyarakat.
Kini, beberapa komunitas dan kelompok masyarakat beru-saha untuk melestarikan tradisi lomba layang-layang. Mereka mengadakan festival layang-layang secara berkala, mengundang para penggemar layang-layang dari berbagai daerah untuk berpartisipasi. Upaya ini diharapkan dapat menjaga tradisi luhur ini agar tidak hilang ditelan zaman. Dan layang-layang bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga warisan budaya yang kaya akan makna dan nilai-nilai luhur. Ia mengajarkan tentang kebersamaan, kreativitas, dan kegembiraan.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau