Pacu Merpati

 

Pacu Merpati. Foto: cnnindonesia.com


Di tengah gemerlap pacu kuda, jawi, dan itik yang menjadi ikon hiburan masyarakat Payakumbuh, terselip sebuah tradisi yang lebih sederhana namun tak kalah memikat: pacu merpati. Hiburan ini mungkin belum seterkenal saudaranya, namun di kalangan anak muda, bahkan anak-anak sekolah dasar, pacu merpati memiliki daya tarik tersendiri. Sebuah kesederhanaan yang menantang, sebuah permainan yang menguji ketepatan,dan sebuah tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

     Meski belum mendapat sentuhan pembinaan resmi dari Dinas Pariwisata, pacu merpati telah lama berakar di Payakumbuh. Jejaknya dapat ditemukan di berbagai sudut kota, seperti Tiakar, Payobasung, Bodi Padang Alai, dan Payobadar Air Tabit. Di sana, anak-anak muda dengan penuh semangat melestarikan tradisi ini, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Berbeda dengan pacu itik yang mengutamakan kecepatan, pacu merpati menguji ketepatan. Bukan merpati tercepat yang menjadi pemenang, melainkan merpati yang paling dekat dengan garis finis. Sebuah sangkar berisi merpati menjadi titik pusat, menjadi magnet yang menarik merpati-merpati lain untuk kembali. Latihan demi latihan dilakukan, membentuk kebiasaan yang kuat. Sejauh apa pun merpati terbang, insting dan latihan membawanya kembali ke titik yang sama, ke dekat sangkar tempat temannya berada.

     Sejarah pacu merpati di Payakumbuh, setidaknya yang terekam dalam ingatan, bermula dari anak-anak Sumur Cindai di Tiakar pada awal tahun 1990-an. Mereka menciptakan permainan ini, melatih merpati-merpati mereka untuk hinggap di dekat sangkar. Dari sana, tradisi ini menyebar, menjangkau daerah-daerah lain di Payakumbuh, dan terus hidup hingga kini.

     Pacu merpati bukan sekadar permainan. Ia adalah cerminan dari kehidupan masyarakat Payakumbuh yang sederhana dan bersahaja. Ia adalah simbol dari keuletan dan kesabaran, yang tercermin dalam proses melatih merpati. Ia adalah wadah bagi kebersamaan dan persahabatan, tempat anak-anak muda berkumpul dan berbagi kegembiraan. Meskipun sederhana, pacu merpati memiliki potensi untuk menjadi daya tarik wisata yang unik. Dengan sentuhan pembinaan yang tepat, tradisi ini dapat dikemas menjadi atraksi yang menarik, yang tidak hanya menghibur tetapi juga mengedukasi. Pacu merpati dapat menjadi bagian dari identitas Payakumbuh, memperkaya khazanah budaya lokal, dan menarik minat wisatawan untuk mengenal lebih jauh tentang kota ini.

     Lebih dari itu, pacu merpati adalah warisan budaya yang perlu dijaga dan dilestarikan. Ia adalah bagian dari identitas masyarakat Payakumbuh, sebuah tradisi yang menghubungkan generasi masa kini dengan generasi masa lalu. Dengan dukungan dan apresiasi dari semua pihak, pacu merpati akan terus terbang tinggi, menjadi simbol kebanggaan dan kegembiraan bagi masyarakat Payakumbuh.

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url