MAN 2 Payakumbuh

 


MAN Negeri 2 Payakumbuh. Foto: Feni Efendi

 

Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Payakumbuh, berdiri kokoh sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam terkemuka di Sumatera Barat, menyimpan sejarah panjang yang berakar pada semangat mencerdaskan bangsa. Cikal bakal madrasah ini bermula dari Mahad Islamy, sebuah perguruan Islam yang didirikan oleh Buya H. Zainuddin Hamidy pada tahun 1930. Di tengah hiruk pikuk perjuangan kemerdekaan, Mahad Islamy tampil sebagai pelopor pendidikan modern berjiwa keagamaan, menarik minat masyarakat dari berbagai penjuru Sumatera Tengah, bahkan hingga Malaysia.

     Kiprah Mahad Islamy yang gemilang, sayangnya, mulai meredup pada awal 1960-an. Masyarakat lebih memilih sekolah negeri, termasuk Madrasah Umum Negeri, dengan harapan ijazah yang lebih mudah diterima dalam birokrasi pemerintahan. Di sisi lain, Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) menjadi primadona di jajaran Kementerian Agama, menjanjikan lulusannya langsung diangkat sebagai guru agama negeri.

     Menyadari pentingnya keberlanjutan pendidikan agama di Luhak 50 Kota, para pengurus Yayasan Mahad Islamy dan majelis guru berinisiatif mengusulkan perubahan status Mahad Islamy menjadi PGAN. Usulan ini, yang didukung oleh pemerintah daerah, akhirnya membuahkan hasil. Pada 20 April 1966, melalui Surat Keputusan Menteri Agama RI No. 23/1966, PGAN 4 tahun Payakumbuh resmi didirikan, mengambil alih peran Mahad Islamy. Peresmiannya pada 15 September 1966 oleh Bapak Arso, Direktur Pendidikan Agama Islam, menjadi tonggak penting dalam sejarah madrasah ini.

     Di bawah kepemimpinan sementara Basyar Mukhtasar, PGAN 4 tahun terus berbenah. Badan Usaha Kesejahteraan Sekolah (BUKS) dibentuk sebagai wadah partisipasi orang tua siswa dan tokoh masyarakat dalam pengembangan madrasah. Empat tahun kemudian, pada 1970, PGAN 4 tahun ditingkatkan statusnya menjadi PGAN 6 tahun, menandakan peningkatan kualitas pendidikan yang diberikan. Perjalanan PGAN 6 tahun tidak selalu mulus. Kepergian Basyar Mukhtasar akibat kecelakaan pada 1971 menjadi duka mendalam. Namun, estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh Sabirin Manany, yang kemudian dibantu oleh Baharuddin Buyung. Semangat membangun terus berkobar. Pada tahun 1972, BUKS berhasil membeli tanah untuk pembangunan gedung madrasah yang baru, berkat sumbangan dari berbagai pihak. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Walikota Payakumbuh, Sutan Usman, pada 24 April 1973, dan pembangunan tujuh lokal permanen selesai pada 1976.

     Pada 15 April 1976, PGAN 6 tahun resmi berpindah ke gedung baru, yang kini menjadi lokasi MAN 2 Payakumbuh. Perubahan status menjadi MAN 2 pada tahun 1990/1991, seiring dengan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan agama, semakin memperkokoh posisi madrasah ini sebagai pusat pendidikan Islam yang berkualitas.

     Pada tahun 1997/1998, MAN 2 Payakumbuh dipercaya untuk menyelenggarakan Madrasah Aliyah Keagamaan Negeri (MAKN), sebuah program khusus pendalaman ilmu keislaman. Meskipun program MAKN dihapuskan pada tahun 2007, semangat pendalaman ilmu agama tetap dipertahankan melalui Pondok Pesantren Darul Irsyad yang terintegrasi dengan MAN 2 Payakumbuh.

     Sejarah panjang MAN 2 Payakumbuh adalah cerminan dari dedikasi dan komitmen para pendahulu dalam memajukan pendidikan Islam. Dari Mahad Islamy yang visioner hingga MAN 2 yang modern, madrasah ini terus berupaya mencetak generasi muda yang berilmu, berakhlak mulia, dan berdaya saing tinggi. Jejak langkahnya menjadi bukti nyata bahwa pendidikan agama dapat berjalan seiring dengan perkembangan zaman, memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan bangsa.

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url