Patok Tanda Batas Kota Zaman Belanda
Tanda Batas Pajacombo Zaman Belanda. Foto: Feni Efendi
Di tengah hiruk pikuk Labuah Basilang, Payakumbuh, tepatnya di dekat lampu merah yang ramai, berdiri sebuah tiang beton kokoh. Ia bukan sekadar tiang biasa, melainkan saksi bisu perjalanan panjang kota ini, peninggalan masa kolonial yang masih setia berdiri di tengah modernitas. Dengan tinggi setara orang dewasa dan diameter selebar pelukan, tiang beton ini adalah tanda batas kota, penanda wilayah yang dulu memisahkan antara pusat pemerintahan kolonial dengan daerah sekitarnya.
Keberadaan tiang beton ini bukan satu-satunya jejak batas kota zaman kolonial di Payakumbuh. Dahulu, tanda serupa berdiri di Simpang Telkom, depan Hotel Sari, dan Simpang Bunian, membentuk lingkaran batas yang mengelilingi pusat kota. Namun, seiring perkembangan zaman, beberapa tanda batas ini telah hilang. Tanda di Simpang Benteng dibongkar demi pelebaran jalan, sementara di depan Hotel Sari, tiang beton masih bertahan, terhimpit pagar halaman samping hotel.
Hilangnya tanda batas kota bukan hanya sekadar perubahan fisik. Ia juga mencerminkan dinamika perubahan sosial dan politik. Pelebaran jalan, misalnya, adalah simbol modernisasi dan kebutuhan akan infrastruktur yang lebih baik. Namun, di balik itu, tersimpan pula cerita tentang pengorbanan, seperti pemindahan makam Ummi Latifah, pendiri Diniyah Putri Payakumbuh, yang terpaksa dilakukan demi perluasan jalan. Pemindahan makam ini menjadi pengingat bahwa pembangunan seringkali datang dengan konsekuensi, dan bahwa sejarah dan kenangan terkadang harus dikorbankan demi kemajuan.
Tiang beton di Labuah Basilang, meski hanya satu dari sedikit yang tersisa, memiliki nilai historis yang tinggi. Ia adalah pengingat akan masa lalu, ketika Payakumbuh berada di bawah kekuasaan kolonial. Bentuknya yang sederhana, namun kokoh, mencerminkan kekuatan dan ketahanan, baik dari materialnya maupun dari semangat masyarakat Payakumbuh dalam menghadapi masa lalu.
Lebih dari sekadar tanda batas, tiang beton ini juga menjadi simbol identitas kota. Ia adalah bagian dari lanskap kota yang unik, yang membedakan Payakumbuh dari kota-kota lain. Keberadaannya mengingatkan kita akan pentingnya melestarikan warisan sejarah, bukan hanya sebagai monumen, tetapi juga sebagai sumber inspirasi dan pelajaran bagi generasi mendatang. Di tengah perkembangan kota yang pesat, tiang beton Labuah Basilang mengajak kita untuk sejenak merenung. Ia mengingatkan kita bahwa setiap sudut kota memiliki cerita, bahwa setiap bangunan dan benda memiliki sejarahnya sendiri. Dengan memahami dan menghargai warisan masa lalu, kita dapat membangun masa depan yang lebih baik, masa depan yang tidak melupakan akar sejarahnya.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau