Patok Titik Nol Kilometer

 

 Titik Nol Kilometer di Swalayan Budiman saat ini. Foto: Feni Efendi

 Patok Titik Nol Kilometer, sebuah penanda sederhana namun sarat makna, seringkali luput dari perhatian. Di Payakumbuh, titik ini menyimpan jejak sejarah panjang, dari era kolonial Belanda hingga pembentukan kotamadya. Perjalanan Titik Nol Kilometer Paya-kumbuh adalah cerminan transformasi kota, sebuah narasi tentang perubahan dan pencarian identitas.

      Pada masa kolonial Belanda, ketika kereta api mulai beroperasi di Payakumbuh pada tahun 1896, Stasiun Kereta Api Parit Rantang dipilih sebagai Titik Nol Kilometer. Lokasinya yang strategis, di seberang Simpang Batirai, menjadikannya pusat aktivitas dan penghubung antarwilayah. Stasiun ini bukan sekadar tempat pemberhentian kereta, melainkan jantung pergerakan ekonomi dan sosial pada masa itu. Titik nol yang ditetapkan di stasiun ini, di lokasi yang saat ini berdiri Swalayan Budiman, menjadi saksi bisu geliat kota di bawah pemerintahan kolonial.

     Namun, Titik Nol Kilometer bukan sekadar penanda jarak. Ia juga menjadi simbol perubahan. Pada tahun 1970, Payakumbuh memasuki babak baru dengan pembentukan Kotamadya Payakumbuh. Panitia Realisasi Kotamadya Payakumbuh, yang diketuai oleh C. Israr, dibentuk untuk mewujudkan cita-cita ini. Keputusan Gubernur nomor 95/GSB/1970 dan Surat Keputusan Bupati Nomor KPTS 16/BLK/1970 menjadi landasan hukum bagi pembentukan kotamadya. Penetapan batas wilayah menjadi langkah krusial, yang kemudian disahkan melalui Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 8/1970.

     Penetapan batas wilayah ini menandai lahirnya identitas baru bagi Payakumbuh. Batas-batas yang membentang dari Aie Taganang hingga Limau Kapeh, dari Banda Air hingga Tungua Jua, menggambarkan luas wilayah dan karakteristik geografis kota. Titik Nol Kilometer, yang semula berpusat di stasiun kereta api, kini menjadi titik acuan bagi wilayah kotamadya yang baru terbentuk.

      Pergeseran Titik Nol Kilometer dari stasiun kereta api ke pusat kota, meskipun tidak secara fisik memindahkan patok, mencermin-kan perubahan peran dan fungsi titik tersebut. Dari sekadar penanda jarak dalam konteks transportasi, Titik Nol Kilometer menjadi simbol identitas dan pusat gravitasi kota. Ia menjadi titik awal dari segala perencanaan dan pembangunan kota, sebuah pengingat akan sejarah panjang dan perjalanan Payakumbuh menuju masa depan.

     Kini, Titik Nol Kilometer Payakumbuh mungkin tidak lagi berupa patok fisik yang menonjol. Namun, jejaknya tetap terasa dalam denyut nadi kota. Ia adalah pengingat akan masa lalu, penanda masa kini, dan harapan akan masa depan. Memahami sejarah Titik Nol Kilometer Payakumbuh adalah memahami identitas kota itu sendiri, sebuah kota yang tumbuh dan berkembang dari jejak sejarah yang panjang.

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url