Perhimpoenan Poetri Noenang (1936)

  

Foto: Pandji Poestaka, No. 105, Thn XV, 31 December 1937 dari Dr. Suryadi

 

     Di tengah gemuruh pergerakan nasional yang menggema di awal abad ke-20, suara perempuan Minangkabau turut bergaung, menuntut ruang dan kesempatan untuk berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Semangat ini menjelma dalam berbagai bentuk organisasi perempuan, salah satunya adalah Perhimpoenan Poetri Noenang yang berdiri tegak di Payakumbuh pada bulan Mei 1936. Sebagaimana Kerajinan Amai Setia (KAS) di Koto Gadang yang didirikan oleh Rohana Kudus, Poetri Noenang menjadi bukti nyata bahwa perempuan Minangkabau tidak hanya berdiam diri, tetapi aktif mengukir sejarahnya sendiri.

     Didirikan oleh dua perempuan visioner, Rangkayo Chamsani Alwis dan Entjik (Nona) Ramajulis Rahib, Poetri Noenang hadir sebagai wadah pemberdayaan perempuan di Nunang, Payakumbuh. Organisasi ini lahir dari kesadaran akan pentingnya kemandirian perempuan, sebuah cita-cita yang diwujudkan melalui pendidikan dan pelatihan keterampilan.

     Rangkayo Chamsani Alwis, dengan keahliannya di bidang kerajinan tangan, mengambil peran penting dalam memberikan pelatihan praktis. Ia mengajarkan berbagai keterampilan seperti sulam-menyulam dan pembuatan buket, keahlian yang tidak hanya menambah nilai estetika, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi para perempuan. Di sisi lain, Ramajulis Rahib, dengan pemahaman mendalam tentang agama, memberikan pelajaran agama yang menjadi landasan moral dan spiritual bagi para anggota. Kombinasi antara keterampilan praktis dan pendidikan agama ini menciptakan perempuan yang tidak hanya mandiri secara ekonomi, tetapi juga memiliki karakter yang kuat.

     Poetri Noenang bukan sekadar tempat belajar keterampilan, tetapi juga ruang untuk membangun solidaritas dan persaudaraan antarperempuan. Di sana, mereka saling mendukung, berbagi pengetahuan, dan memperkuat posisi mereka dalam masyarakat. Organisasi ini menjadi simbol perlawanan terhadap keterbatasan peran perempuan pada masa itu, membuka jalan bagi generasi perempuan berikutnya untuk meraih pendidikan dan kesempatan yang lebih luas.

     Kehadiran Poetri Noenang di Payakumbuh menjadi bukti nyata bahwa semangat emansipasi perempuan tidak hanya berpusat di kota-kota besar, tetapi juga menjangkau daerah-daerah kecil. Organisasi ini menunjukkan bahwa perempuan Minangkabau, dengan segala keterbatasan yang ada, mampu menciptakan perubahan positif dalam komunitas mereka. Meskipun jejak sejarah Poetri Noenang mungkin tidak sepopuler KAS, keberadaannya tetap menjadi bagian penting dari sejarah perempuan Minangkabau. Organisasi ini menjadi pengingat akan perjuangan perempuan untuk meraih kemandirian dan kesetaraan. Semangat yang diwariskan oleh Rangkayo Chamsani Alwis dan Ramajulis Rahib melalui Poetri Noenang, terus menginspirasi perempuan masa kini untuk terus berkarya dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Jejak langkah mereka, meskipun tersembunyi dalam lembaran sejarah, tetap bersinar, menerangi jalan bagi perempuan Indonesia untuk meraih mimpi dan cita-citanya. (Dr. Suryadi Sunuri).

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url