Tari Toga dari Nagari Siguntur Dharmasraya
![]() |
| Foto: pariwisataindonesia.id |
Tari tradisional yang berasal dari Nagari Siguntur dan hanya ditampilkan pada acara-acara tertentu, seperti pernikahan, penobatan raja, dan penyambutan tamu penting. Tari ini menceritakan tentang kegagahan dan kebesaran para leluhur. Dan Tari Toga dari Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Takbenda oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada tahun 2014. Penetapan ini dilakukan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 270/P/2014 tanggal 20 November 2014.
Tari Toga merupakan tarian tradisional dari Kerajaan Siguntur, yang berpusat di Nagari Siguntur, Kecamatan Sitiung, Kabupaten Dharmasraya. Tarian ini memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi, dan menjadi salah satu identitas masyarakat Dharmasraya. Dan Tari Toga dahulunya merupakan tari istana yang hanya dipentaskan pada acara-acara tertentu, seperti penobatan raja, pernikahan keluarga raja, dan perayaan kemenangan pertempuran. Tarian ini diiringi oleh musik tradisional Minangkabau, seperti talempong, saluang, dan gendang.
Tari Toga memiliki makna yang mendalam. Tarian ini menceritakan tentang keadilan, keberanian, dan pengorbanan. Gerakan-gerakan dalam tari ini melambangkan perjuangan seorang pahlawan yang rela mengorbankan nyawanya demi menegakkan keadilan. Dan Tari Toga memiliki nilai budaya yang tinggi. Tarian ini mencerminkan nilai-nilai luhur masyarakat Minangkabau, seperti keadilan, keberanian, dan pengorbanan. Tarian ini juga menjadi media untuk menyampaikan pesan moral kepada generasi muda.
Pemerintah Kabupaten Dharmasraya telah melakukan berbagai upaya untuk melestarikan Tari Toga dengan mengajarkan Tari Toga kepada anak-anak sekolah, mengadakan pertunjukan Tari Toga dalam berbagai acara, membentuk sanggar tari untuk melatih penari Tari Toga, dan mendokumentasikan Tari Toga dalam bentuk buku dan film. Adapun tantangan dalam pelestarian Tari Toga di antaranya kurangnya minat generasi muda untuk mempelajari Tari Toga, minimnya dukungan dana untuk kegiatan pelestarian Tari Toga, serta persaingan dengan budaya modern.
Meskipun terdapat beberapa tantangan, namun Tari Toga memiliki masa depan yang cerah. Tarian ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan menjadi salah satu identitas masyarakat Dharmasraya. Dengan dukungan dari berbagai pihak, Tari Toga diharapkan dapat terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi penerus. Dan Tari Toga merupakan salah satu kekayaan budaya Indonesia yang patut dilestarikan. Dengan melestarikan Tari Toga, kita berarti melestarikan nilai-nilai budaya luhur bangsa.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau
