Ikan Kalai (Gurami)

 


Ikan kalai atau gurami, atau dengan nama latin Osphronemus goramy, adalah spesies ikan air tawar yang memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Asia Tenggara dan Asia Selatan. Popularitasnya tidak hanya terbatas sebagai hidangan lezat di meja makan, tetapi juga sebagai penghuni akuarium yang menawan. Dengan beragam sebutan lokal yang mencerminkan kehadirannya di berbagai budaya, gurami menjelma menjadi simbol kekayaan sumber daya alam dan kearifan lokal.

      Sebagai ikan konsumsi, daya tarik utama gurami terletak pada tekstur dagingnya yang padat, minim duri kecil yang mengganggu, serta cita rasanya yang gurih dan nikmat. Hampir setiap restoran di kawasan ini menyajikan gurami dalam berbagai olahan menggugah selera, mulai dari gurami bakar yang aromatik hingga gurami asam-manis yang menyegarkan. Harga jualnya yang relatif tinggi semakin menegaskan nilai ekonomis ikan ini. Di sisi lain, keelokan bentuk dan gerakannya yang tenang menjadikan gurami pilihan favorit bagi para penggemar akuarium, menambah nilai estetika dalam ruang hidup

Ikan Kalai. Foto: wikipedia

mereka.

      Secara historis, gurami berasal dari kepulauan Sunda Besar, meliputi Sumatra, Jawa, dan Kalimantan. Namun, berkat kemampuannya beradaptasi dan nilai ekonomisnya yang tinggi, gurami kini telah tersebar luas dan dibudidayakan di berbagai negara di Asia, bahkan hingga ke Australia. Kemampuannya untuk hidup di berbagai jenis perairan, mulai dari sungai, rawa, hingga kolam air payau, menunjukkan ketangguhan spesies ini. Uniknya, gurami juga memiliki kemampuan untuk mengambil oksigen langsung dari udara, sebuah adaptasi yang memungkinkannya bertahan di lingkungan dengan kadar oksigen terlarut yang rendah.

      Salah satu aspek menarik dari perilaku gurami adalah insting keibuannya yang kuat. Induk gurami, baik jantan maupun betina, menunjukkan dedikasi yang luar biasa dalam menjaga dan memelihara keturunannya. Mereka membangun sarang dari tumbuh-tumbuhan air atau material lain yang tersedia untuk melindungi telur-telurnya. Perilaku ini mencerminkan strategi reproduksi yang matang untuk memastikan kelangsungan hidup generasi berikutnya. Meskipun dikenal sebagai pemakan tumbuhan (herbivora), gurami juga tidak menolak kesempatan untuk memangsa serangga, ikan kecil, bahkan materi organik yang membusuk, menunjukkan fleksibilitas dalam mencari makan.

      Dalam budidaya, gurami umumnya dipelihara di kolam tanah karena berbagai keuntungannya. Kolam tanah yang dikeringkan di bawah sinar matahari dipercaya dapat merangsang induk gurami untuk segera memijah. Praktik umum adalah menempatkan beberapa pasang induk, dengan perbandingan tiga betina untuk satu jantan, dalam kolam berukuran sedang. Induk yang matang, biasanya berusia tiga tahun ke atas dengan bobot lebih dari tiga kilogram, memiliki potensi menghasilkan ribuan telur dalam sekali pemijahan. Ketinggian air kolam yang ideal berkisar antara 80 hingga 100 cm, memberikan ruang yang cukup bagi induk untuk membangun sarang.

      Insting alami gurami untuk membangun sarang tetap dipertahankan dalam budidaya. Petani biasanya menyediakan material seperti rumput kering, ijuk, atau sabut kelapa yang diletakkan di atas para-para bambu. Ijuk menjadi pilihan populer karena ketersediaannya. Dalam beberapa hari setelah penempatan induk, pasangan gurami akan bekerja sama mengumpulkan serat-serat ijuk dan menganyamnya menjadi sarang yang menyerupai sarang burung. Setelah induk betina meletakkan telur di dalam sarang, induk jantan akan membuahi telur-telur tersebut. Momen ini menjadi krusial bagi pembudidaya untuk mengambil sarang dengan hati-hati dan memindahkan telur ke wadah penetasan yang telah disiapkan.

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Mencatat Nama-Nama Hewan Lokal di Payakumbuh  

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url