Ikan Tilan (Sili Api)

 

Ikan Tilan. Foto: wikipedia

Ikan tilan atau sili api atau tilan (mastacembelus erythrotaenia), menyiratkan kemiripan dengan belut, namun sili api justru merupakan ikan yang sangat memanjang, anggun bergerak dengan tubuhnya yang lateral dan moncong runcing yang khas. Ia adalah anggota keluarga belut berduri (mastacembelidae), sebuah kelompok yang mendapatkan namanya dari deretan duri kecil yang menghiasi punggungnya, menjadi penanda evolusi yang unik.

       Keindahan sili api terletak pada kontras warnanya yang mencolok. Tubuh dasarnya yang coklat tua atau abu-abu menjadi kanvas bagi garis-garis dan bintik-bintik lateral berwarna merah cerah yang menari di sepanjang sisinya. Intensitas warna ini bagai bara api yang membara di dalam air, berubah seiring bertambahnya usia, dari kuning cerah pada remaja menjadi merah tua yang kaya pada individu dewasa. Sentuhan merah seringkali menghiasi tepi sirip dubur, dada, dan punggung, menambah pesona visualnya. Sebagai spesies terbesar dalam keluarganya, sili api dapat tumbuh hingga mencapai panjang satu meter, sebuah ukuran yang mengesankan dan menjadikannya figur dominan di habitatnya.

      Habitat alami sili api membentang luas di dataran rendah Asia Tenggara, dari Myanmar hingga Indonesia. Mereka adalah penghuni setia sungai-sungai yang bergerak lambat dan dataran banjir yang kaya akan kehidupan. Sebagai makhluk bentik, sili api menghabiskan sebagian besar waktunya terkubur di dasar berlumpur, hanya menyisakan moncongnya yang terlihat, mengintai mangsa atau bersembunyi dari potensi bahaya. Gaya hidup tersembunyi ini mencerminkan adaptasi mereka terhadap lingkungan yang dinamis, di mana perlindungan dan kesempatan berburu seringkali bergantung pada kemampuan untuk menyatu dengan dasar perairan.

      Meskipun memiliki pesona yang tak terbantahkan, sili api menghadapi tantangan yang signifikan. Popularitasnya di kalangan penggemar akuarium telah mendorong perdagangan yang cukup besar. Ironisnya, meskipun perdagangan ini menjaga populasinya secara keseluruhan tetap umum, penangkapan ikan yang berlebihan telah menyebabkan penurunan populasi lokal. Hal ini menjadi pengingat penting akan dampak aktivitas manusia terhadap ekosistem air tawar yang rapuh. Dari segi ekologi, sili api memainkan peran sebagai omnivora yang oportunistik. Diet mereka bervariasi, mencakup invertebrata seperti larva serangga, cacing, dan krustasea, serta ikan-ikan kecil, materi tumbuhan, dan detritus. Di penangkaran, kecenderungan karnivora mereka lebih menonjol, jarang menyentuh bahan tumbuhan. Fleksibilitas diet ini memungkinkan mereka untuk beradaptasi dengan ketersediaan sumber makanan di lingkungan mereka.

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Mencatat Nama-Nama Hewan Lokal di Payakumbuh  

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url