Sekolah Tinggi Pertanian Haji Agus Salim

 

Sekolah Tinggi Pertanian Haji Agus Salim. Foto: ayokuliah.id 

    Sekolah Tinggi Pertanian Haji Agus Salim (STPHAS) berdiri pada tanggal 1 Juni 1992, dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 217/DIKTI/KOP/1992. Kampus ini terletak di Bukittinggi, Sumatera Barat, dan dinamai sesuai dengan nama Haji Agus Salim, seorang pahlawan nasional dan tokoh pendidikan Indonesia. Dan awal mula STPHAS didirikan atas prakarsa dari Yayasan Pendidikan Haji Agus Salim (YPHAS) yang didirikan oleh H. Masri M. Nur dan kawan-kawan. Yayasan ini memiliki visi untuk mencerdaskan anak bangsa melalui pendidikan tinggi, khususnya di bidang pertanian.

     Sejak didirikan, STPHAS telah mengalami perkembangan yang pesat. Awalnya, STPHAS hanya memiliki satu program studi, yaitu Agronomi. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat, STPHAS membuka program studi baru, yaitu: Peternakan (1995), Teknologi Industri Pertanian (1999), Penyuluhan Pertanian dan Komunikasi (2004), Agroekoteknologi (2007), dan Agribisnis (2010).

     STPHAS telah meraih berbagai prestasi, baik di tingkat nasional maupun internasional. Beberapa prestasinya antara lain: Akreditasi B untuk semua program studi; Juara 1 Lomba Debat Nasional Perguruan Tinggi Swasta (PTS) Tahun 2019; Juara 2 Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) Tahun 2020. Dan STPHAS telah berkontribusi dalam menghasilkan lulusan yang kompeten dan siap kerja di bidang pertanian. Para alumni STPHAS banyak yang bekerja di berbagai instansi pemerintah, swasta, dan lembaga non-pemerintah.

     Adapun visi dan misi STPHAS yaitu dengan visi menjadi perguruan tinggi terkemuka di bidang pertanian yang menghasilkan lulusan yang beriman, berakhlak mulia, cerdas, dan terampil. Adapun misi yaitu menyelenggarakan pendidikan tinggi di bidang pertanian yang berkualitas dan bermutu; Melakukan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pertanian; Melakukan pengabdian kepada masyarakat dalam bidang pertanian.

 

 Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url