Tari Manakiak Gatah dari Nagari Koto Baru, Dharmasraya
Tari Manakiak Gatah berasal dari masyarakat Nagari Koto Baru, Kabupaten Dharmasraya. Tarian ini menyapa kita dengan gerakannya yang dinamis dan penuh semangat. Tarian ini bukan sekadar hiburan, tetapi merupakan representasi budaya yang mencerminkan kehidupan masyarakat Koto Baru yang mayoritas berprofesi sebagai penyadap karet.
Sejarah Tari Manakiak Gatah tertanam erat dalam tradisi masyarakat Koto Baru. Tarian ini diciptakan oleh seorang seniman bernama Pak Midin pada tahun 1980-an. Awalnya, tari ini ditampilkan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen karet yang melimpah. Seiring waktu, Tari Manakiak Gatah menjadi bagian tak terpisahkan dari berbagai acara adat dan budaya di Dharmasraya, seperti penyambutan tamu, festival seni, dan peringatan hari besar.
Gerakan Tari Manakiak Gatah terbagi menjadi 4 bagian utama, yaitu: pasambahan yaitu penari mengawali tarian dengan gerakan sembah untuk menunjukkan rasa syukur dan penghormatan kepada Tuhan dan leluhur. Setelahnya manakiak yaitu bagian ini menggambarkan aktivitas menyadap karet, mulai dari persiapan alat, penyadapan batang karet, hingga pengumpulan getah karet. Gerakannya lincah dan penuh semangat, mencerminkan kegigihan dan keuletan masyarakat Koto Baru dalam bekerja. Selanjutnya memakai sarung tangan, bagian ini menunjukkan proses pengolahan getah karet menjadi karet siap jual. Gerakannya lebih halus dan teliti, melambangkan ketelitian dan kehati-hatian dalam mengolah hasil panen. Dan terakhir, penutup yaitu tari diakhiri dengan gerakan penuh keceriaan, sebagai ungkapan rasa syukur atas panen yang melimpah dan doa untuk keberkahan di masa depan.
Tari Manakiak Gatah bukan hanya sebuah tarian yang indah, tetapi juga merupakan warisan budaya yang penting bagi masyarakat Koto Baru dan Kabupaten Dharmasraya. Tarian ini menjadi pengingat akan sejarah, tradisi, dan nilai-nilai luhur yang dipegang teguh oleh masyarakat setempat, seperti kegigihan, keuletan, rasa syukur, dan ketelitian. Dan di tengah gempuran modernisasi, Tari Manakiak Gatah terus dilestarikan oleh berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, sanggar seni, hingga generasi muda di Koto Baru. Upaya pelestarian ini dilakukan melalui berbagai kegiatan, seperti: pengajaran tari di sekolah-sekolah dan sanggar seni dan penyelenggaraan festival tari tradisional.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau
